jpnn.com, JAKARTA - Jutaan siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP di seluruh Indonesia akan menghadapi sebuah ujian nasional yang berbeda, yaitu Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada April 2026 mendatang
Berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya yang kerap membuat degdegan karena berkaitan dengan kelulusan, TKA justru tidak akan menentukan apakah seorang siswa naik kelas atau lulus.
BACA JUGA: Ini Tahapan Pelaksanaan TKA SD dan SMP yang Harus Diperhatikan Murid-Murid
Diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), TKA dirancang sebagai alat rontgen pendidikan, sebuah upaya pemerintah untuk memotret secara objektif dan menyeluruh kualitas pembelajaran di Tanah Air.
Tes itu bertujuan memetakan kesenjangan antara capaian belajar siswa dengan standar nasional dan global, sekaligus mengurangi bias penilaian yang selama ini kerap dipengaruhi faktor sosial-ekonomi.
BACA JUGA: Eks Sekjen Kemenaker Diduga Masih Terima Uang Pemerasan TKA setelah Pensiun, Buset!
"Ini bukan tentang lulus atau tidak, tetapi tentang mengetahui di mana posisi kita sebenarnya. Data dari TKA akan jadi peta jalan perbaikan kualitas belajar-mengajar ke depan," kata Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemdikdasmen) Muhammad Yusro dalam taklimat media di kantor Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Jumat (23/1).
Dari sisi pelaksanaan, tes TKA itu memiliki jadwal dan format tes yang fleksibel dan berlapis.
BACA JUGA: Kemendikdasmen Dorong Sekolah Menciptakan Rasa Aman dan Tenang Bagi Siswa
Dilaksanakan secara marathon, TKA untuk jenjang SMP/MTs/sederajat digelar pada 6 – 16 April 2026. Sementara untuk jenjang SD/MI/sederajat dilakukan pada 20 – 30 April 2026.
Selama dua hari, peserta akan mengerjakan tes Matematika & Numerasi, Bahasa Indonesia & Literasi, masing-masing 75 menit, plus survei karakter.
Menariknya, tes ini akan diadakan dalam empat gelombang untuk sekolah formal dan satu gelombang untuk pendidikan kesetaraan (Paket A/B).
"Modanya pun menyesuaikan kondisi daerah mulai dari full online langsung ke server pusat, hingga semi-online dan offline untuk daerah yang terjangkau sinyal internet terbatas," ujarnya.
Yusro mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan TKA ini adalah mengajak siswa dan orang tua untuk 'peduli' mengikutinya.
Hal itu karena sifatnya yang tidak wajib dan tidak memengaruhi nilai rapor, kesuksesan program ini sepenuhnya bergantung pada kesadaran dan pemahaman siswa serta orang tua.
"Apakah orang tua dan siswa akan bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk mengikuti tes yang 'tidak ada akibatnya' secara langsung?. Itu memang menjadi tantangan dan karenanya kami gencar melakukan sosialisasi," tanyanya.
Pemerintah harus gencar melakukan sosialisasi untuk meyakinkan publik bahwa hasil TKA justru sangat berharga yakni sebuah diagnosis kesehatan akademik yang hasilnya akan dikembalikan dalam bentuk Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) digital, dilengkapi skor dan kategori pencapaian.
Kepala Bidang Pengembangan dan Fasilitasi Pelaksanaan Asesmen Pendidikan, Pusat Asesmen Pendidikan Handaru Catu Bagus menambahkan, berbagai kemudahan dalam pelaksanaan TKA salah satunya bisa diihat dari sisi pendaftaran, yang bisa dilakukan melalui sekolah dengan syarat utama memiliki NISN aktif.
Sebagai komitmen inklusif, peserta didik berkebutuhan khusus juga dipersilakan mengikuti selama tidak memiliki hambatan intelektual.
Dari sisi pelaksanaan, tes TKA ini merupakan contoh kolaborasi multi-level, di mana Pusat (BSKAP) menyediakan platform dan soal.
Daerah dan Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan sarana, pendataan, dan sosialisasi, sedangkan sekolah bertugas memfasilitasi dan mendampingi peserta.
"Setiap peserta akan membawa pulang Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) digital yang bisa dicetak. Sertifikat ini tidak sekadar berisi angka, tetapi juga kategori seperti "Istimewa", "Baik", "Memadai", atau "Kurang", yang diharapkan bisa menjadi bahan refleksi dan motivasi," pungkas Muhammad Yusro. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Sikap Kemendikdasmen atas Insiden Mobil MBG Tabrak Siswa di SDN Kalibaru
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad




