Mencermati Tren dan Tantangan Bisnis Kedai Kopi Tahun 2026

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis kedai kopi sedang mengalami transformasi yang menentukan. Dahulu yang hanya berpusat pada rasa, kini meluas ke pengalaman, identitas, dan gaya hidup. Seperti apa tren dan tantangan bisnis kedai kopi pada tahun ini?

Di jantung kawasan bisnis pusat Jakarta, sebuah kedai kopi terletak di sudut gedung perkantoran. Pengemudi ojek online sedang menunggu pesanan, sementara beberapa pelanggan yang sebagian besar pekerja kantoran, mengantre di kasir.

Terkadang, pelanggan akan langsung menuju ke konter pengambilan pesanan, setelah memesan kopi mereka yang sebelumnya menggunakan aplikasi toko tersebut. Inilah salah satu pemandangan khas di salah satu gerai kopi, jaringan kedai kopi cepat saji berbasis teknologi saat ini.

Model penawaran kopi segar siap minum dengan harga terjangkau untuk dibawa pulang atau diantar juga kian menjadi hal yang populer, terutama di kalangan anak muda dan profesional perkotaan. Integrasi dengan platform pengiriman makanan seperti GoFood dan GrabFood merupakan pendorong utama tren ini. Bahkan, momentumnya tidak pernah melambat, justru kian cepat, terjangkau, dan sangat praktis.

Pada saat yang sama, meningkatnya pekerjaan dari rumah telah menjadikan kafe sebagai pusat sosial baru. Orang-orang menginginkan tempat yang nyaman untuk bertemu kolega, bekerja jarak jauh, atau sekadar berkumpul dengan teman.

Baca JugaBisnis Kopi: Produksi, Tren Gaya Hidup, dan Tantangan Kompetisi

Pergeseran itu telah membantu menciptakan budaya kopi yang kian dinamis, terutama di kalangan anak muda dan penduduk usia kerja. Alih-alih mengadakan acara di rumah, berkumpul di kafe telah menjadi tempat pilihan untuk mendorong produktivitas dan koneksi.

Tak heran jika kafe atau kedai kopi kini kian bertebaran di sudut kota. Kedai kopi bukan lagi sekadar tempat untuk mengonsumsi kopi, tetapi semakin menjadi ruang budaya yang mendefinisikan bagaimana kita hidup dan terhubung. Pergeseran ini seolah menjadi inti dari tren kedai kopi utama saat ini.

Kopi tak lagi sekadar minuman, melainkan bisnis gaya hidup. Dari kafe estetik yang viral hingga merek waralaba yang berkembang pesat, kancah kopi di Indonesia tumbuh sangat cepat. Seiring pertumbuhan budaya kafe, peluang bagi merek-merek yang mendukungnya pun semakin besar.

Konsumsi kopi domestik dan kedai kopi

Indonesia, yang dulunya sebagai produsen kopi, kini menjadi salah satu pasar konsumen dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Konsumsi kopi Indonesia telah meningkat tiga kali lipat sejak sebelum pandemi, yakni mencapai 4,8 juta kantong pada 2025. Jika satu karung kopi setara dengan 60 kg kopi, maka total konsumsi kopi tahun lalu sekitar 288 ribu ton.

Perkembangan itu menjadikan Indonesia sebagai konsumen kopi terbesar kelima di dunia setelah Uni Eropa, Amerika Serikat, Brasil, dan Jepang. Dengan tingkat pertumbuhan saat ini sekitar 5 persen per tahun, Indonesia tercatat sebagai pasar kopi dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Dengan laju ini, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menyalip Jepang sebagai konsumen terbesar di kawasan Asia.

Meningkatnya konsumsi kopi domestik tersebut dapat dikaitkan dengan semakin kuatnya budaya ngopi di kafe, terutama di kalangan anak muda perkotaan. Pada tahun 2023, pasar kedai kopi di Indonesia diperkirakan menghasilkan nilai penjualan sekitar 2,1 miliar dolar AS atau setara Rp 34 triliun, dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) mencapai sekitar 10 persen.

Baca JugaBisnis Kedai Kopi: Gaya Hidup Modern dan Perangkap Kegagalan

Sementara laporan lain dari International Coffee Organization (ICO) menyebutkan, pertumbuhan pasar kopi spesial di Indonesia sebesar 12 persen per tahun hingga 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya jumlah gerai dan konsumsi kopi domestik yang signifikan.

Dengan meningkatnya paparan terhadap tren konsumsi internasional, generasi muda Indonesia telah merangkul gelombang keempat budaya minum kopi. Kopi berkualitas lokal, serta minuman kopi susu dingin dengan berbagai rasa yang sesuai dengan selera lokal, kini telah menjadi tren di masyarakat.

Kedai kopi kini telah menjadi tempat nongkrong yang lebih populer daripada bar. Dalam beberapa tahun terakhir, jaringan kedai kopi lokal telah mengungguli merek global dalam hal pangsa pasar. Tidak hanya sekadar tren, kedai kopi sudah menjadi “infrastruktur sosial”.

Dengan jumlah hampir 462 ribu lokasi, Indonesia menjadi pemilik kedai kopi terbanyak di dunia. Data tersebut bersumber dari Seasia Stats (South East Asia Stats) yang bekerja sama dengan Point of Interest (POI). Laporan ini dirilis pada awal tahun 2026 yang memetakan jumlah titik lokasi kedai kopi di seluruh dunia.

Jumlah tersebut tidak hanya mencakup coffee shop modern dengan mesin espresso dan konsep kopi spesial, tetapi juga warung kopi sederhana, kedai tradisional, hingga warkop pinggir jalan yang tersebar di berbagai daerah.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia di posisi teratas, melampaui sejumlah negara dengan budaya kopi kuat. China berada di peringkat kedua dengan lebih dari 190.000 kedai kopi, disusul Amerika Serikat sekitar 145.600 kedai, Vietnam memiliki kedai sekitar 132.000 buah, dan Korea Selatan sekitar 100.000 kedai kopi.

Baca JugaMengapa Kafe dan Kedai Kopi Kian Marak di Indonesia?

Kenapa bisa sebanyak itu? Pesatnya pertumbuhan kedai kopi di Indonesia didorong oleh perubahan gaya hidup masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Kedai kopi kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menikmati minuman, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial, bekerja, hingga aktivitas kreatif.

Dari warkop legendaris sampai kafe spesialti estetik, kopi kini jadi ritual harian lintas kelas sosial, bukan lagi gaya hidup eksklusif. Berkat layanan pesan-antar, kedai kecil di garasi pun kini bisa bersaing dan tercatat di peta dunia.

Selain itu, tak lagi sekadar ekspor biji kopi terbaik, tapi menikmati kopi produksi Negeri sendiri. Dari Gayo sampai Flores, semua ada di meja kita. Fenomena ini bukti kalau Indonesia punya standar industri kopi sendiri yang berbasis budaya lokal dan teknologi.

Tantangan bisnis kedai kopi 2026

Meskipun budaya "ngopi" tetap kuat di Indonesia, para pelaku usaha masih akan menghadapi beragam tantangan baru yang membutuhkan respons cerdas dan strategis pada tahun ini. Tantangan tersebut mulai dari profitabilitas, keberlanjutan operasional, hingga diferensiasi pasar.

Di balik setiap sajian espresso yang sempurna dan latte yang dituangkan dengan indah, ada peluang untuk membangun sistem, mengembangkan keahlian, dan menciptakan bisnis berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang. Dalam lanskap yang terus berkembang ini, kemampuan beradaptasi adalah keterampilan yang paling penting.

Pada tahun ini, bisnis kedai kopi diperkirakan memiliki potensi besar seiring gaya hidup urban yang semakin menghargai pengalaman dan kualitas dalam menikmati kopi. Terlebih, kedai kopi ini bukan sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang bertemu, bekerja hingga membangun jejaring.

Di sisi lain, fleksibilitas model bisnis mulai dari konsep butik hingga kopi spesial yang berorientasi komunitas, membuat kedai kopi relatif adaptif terhadap tren dan kondisi ekonomi. Dengan pengelolaan yang tepat kedai kopi bisa menawarkan peluang pertumbuhan berkelanjutan sekaligus positioning merek yang kuat untuk konsumen dari semua kalangan.

Baca JugaMengintip Tren dan Tantangan Bisnis Kopi 2025

Dikutip dari laman Bean and Brew Tech (23/11/2025), terdapat sejumlah kunci yang membuat bisnis kedai kopi bisa berhasil dan sukses pada tahun ini. Pertama berkaitan dengan penetapan harga yang strategis. Inflasi masih menjadi masalah utama bagi para pelaku usaha kedai kopi karena memengaruhi harga biji kopi yang fluktuatif.

Karena itu, penting menetapkan harga secara strategis yakni dengan mengkomunikasikan nilai dan membangun hubungan pelanggan yang kuat secara jelas, sehingga orang memilih kualitas daripada kenyamanan atau pertimbangan harga semata.

Kedua, membangun tim yang kuat. Investasi pada sumber daya manusia seperti barista yang terampil dan berpengalaman menjadi fondasi kesuksesan jangka panjang. Para pelaku usaha perlu memperlakukan tim sebagai aset berharga, bukan sekadar tenaga kerja yang dapat diganti. Sebab, tim dengan layanan yang baik, akan menciptakan siklus bisnis positif dan menghasilkan profit yang berkelanjutan.

Ketiga, peralatan berkualitas dengan pemeliharaan rutin merupakan tulang punggung setiap usaha kedai kopi yang sukses. Mesin kopi, penggilingan hingga penyaringan air terbaik akan mempertahankan kualitas yang konsisten dan membangun reputasi merek sehingga konsumen akan repeat order.

Keempat, menjaga konsistensi produk. Konsistensi menjadi salah satu peluang terbesar bagi kedai kopi untuk membedakan diri dan membangun basis pelanggan setia. Ketika pelanggan tahu akan mengandalkan pengalaman yang berbeda setiap kunjungan, mereka akan menjadi pelanggan tetap yang loyal sehingga dapat menjadi fondasi kesuksesan bisnis yang berkelanjutan.

Kelima, melampaui ekspektasi pelanggan. Pelanggan kedai kopi kini memiliki selera yang canggih dan ekspektasi tinggi. Hal ini dapat menjadi peluang menarik bagi kafe untuk memberikan pengalaman yang unik dan berbeda. Pelanggan kini tidak hanya menginginkan kopi yang enak, mereka juga mencari pengalaman sehingga bersedia membayar harga premium karena mendapatkannya di kedai kopi.

Selain itu, media sosial, yang acapkali dianggap menambah tekanan, sebenarnya menyediakan pemasaran gratis bagi kedai kopi atau kafe yang memanfaatkannya secara strategis. Setiap foto latte yang indah, setiap unggahan pelanggan yang menandai lokasi, dan setiap berbagi kisah asal usul, akan memperluas jangkauan, bahkan bisa jauh melampaui apa yang dapat dicapai oleh iklan tradisional.

Kafe yang sukses di media sosial tidak menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk membuat konten. Mereka menciptakan pengalaman otentik yang layak dibagikan dan mempermudah pelanggan untuk melakukannya.

Baca JugaJakarta Coffee Week 2025 dan Tren Pasar Kedai Kopi Indonesia

Keenam, teknologi sebagai keunggulan kompetitif. Teknologi yang tersedia bagi pemilik kedai kopi akan memberikan peluang untuk beroperasi lebih efisien, memahami bisnis dengan lebih baik, dan memberikan pengalaman pelanggan yang unggul. Para pelaku bisnis bisa memanfaatkan alat-alat ini sebagai pengganda kekuatan yang memperkuat upaya dan keahlian mereka.

Sistem point-of-sale modern telah berkembang jauh melampaui sekadar pemrosesan transaksi sederhana. Sistem saat ini memberikan wawasan secara real-time tentang tren penjualan, efisiensi tenaga kerja, perputaran inventaris, dan preferensi pelanggan.

Sistem ini juga bisa mengidentifikasi barang yang paling menguntungkan, jam-jam tersibuk, dan pelanggan yang paling berharga. Data ini bisa memberdayakan pengambilan keputusan yang lebih baik dalam setiap aspek bisnis, mulai dari penjadwalan, pengembangan menu, hingga pemasaran.

Akhirnya, bisnis kedai kopi di tahun 2026 bisa menawarkan peluang besar bagi para pengelola yang menggabungkan semangat dan profesionalisme dalam pekerjaan mereka. Pasar sedang kuat, pelanggan bersedia membayar untuk kualitas, teknologi memberikan dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan strategi sukses yang telah terbukti terdokumentasi dengan baik dan mudah diakses. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Banjir Jakarta, 90 RT dan 9 Ruas Jalan Tergenang pada Sabtu
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lula Lahfah Meninggal Dunia, Reza Arap: Ambil Aku Saja
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
Jembatan Penghubung Antarkampung di Puncak Bogor Putus Imbas Hujan Deras
• 6 jam laludetik.com
thumb
Ketika Macron Sambut Prabowo Gunakan Bahasa Indonesia, Simbol Kedekatan RI-Prancis
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Menakar Asa Timothée Chalamet Menang Oscar Aktor Terbaik 2026
• 8 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.