EtIndonesia. Amazon pada Oktober tahun lalu telah memangkas sekitar 14.000 posisi karyawan kantoran. Kini perusahaan tersebut berencana melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kedua pada pekan depan. Langkah ini merupakan bagian dari target Amazon untuk mengurangi total sekitar 30.000 pegawai kantor.
Menurut laporan Reuters, sumber yang mengetahui rencana tersebut—dan meminta identitasnya dirahasiakan—mengatakan bahwa jumlah PHK kali ini diperkirakan hampir sama dengan gelombang sebelumnya dan paling cepat bisa dimulai pada 27 Januari, meskipun rincian rencana masih dapat berubah. Juru bicara Amazon menolak memberikan komentar.
Sumber tersebut menyebutkan bahwa sejumlah posisi di berbagai divisi Amazon kemungkinan akan terdampak, termasuk Amazon Web Services (AWS), unit ritel, Prime Video, serta divisi sumber daya manusia yang dikenal sebagai People Experience and Technology. Namun, cakupan pastinya masih belum jelas.
Pemangkasan total 30.000 posisi hanya mencakup sebagian kecil dari total 1,58 juta karyawan Amazon di seluruh dunia, tetapi hampir 10 persen dari tenaga kerja kantoran perusahaan. Sebagian besar karyawan Amazon bekerja di pusat pemenuhan pesanan dan gudang logistik.
Jika terealisasi, ini akan menjadi PHK terbesar dalam sejarah 30 tahun Amazon. Sebelumnya, pada tahun 2022, Amazon juga telah memangkas sekitar 27.000 posisi.
Para karyawan yang terdampak PHK pada Oktober lalu diberi tahu bahwa mereka akan tetap menerima gaji selama 90 hari, di mana mereka dapat melamar posisi internal atau mencari pekerjaan lain. Masa tersebut akan berakhir pada 26 Januari.
Amazon sebelumnya menjelaskan bahwa PHK pada Oktober lalu berkaitan dengan pesatnya perkembangan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI).
Dalam memo internal perusahaan, Amazon menyatakan: “Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak hadirnya internet, dan memungkinkan perusahaan berinovasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”
Namun, CEO Amazon Andy Jassy kemudian mengatakan dalam panggilan konferensi laporan keuangan kuartal ketiga bahwa PHK tersebut “sebenarnya tidak didorong oleh faktor keuangan, dan bahkan tidak sepenuhnya didorong oleh AI”, melainkan oleh masalah budaya perusahaan, yang merujuk pada struktur birokrasi internal yang terlalu besar.
Saat ini, semakin banyak perusahaan besar memanfaatkan AI untuk menulis kode perangkat lunak dan menggunakan agen AI guna mengotomatiskan tugas-tugas rutin, demi menekan biaya dan mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manusia. Amazon sendiri gencar mempromosikan model AI terbarunya dalam konferensi tahunan AWS Cloud Computing yang digelar pada Desember lalu. (Hui)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482258/original/087217900_1769169645-20260126BL_Kelme_X_PSSI-11__1_.jpg)


