JAKARTA,KOMPAS.com - Konsumsi ikan dari perairan tercemar menyimpan risiko serius bagi kesehatan manusia, terutama jika dilakukan secara rutin dan dalam jangka panjang.
Salah satu ikan yang kini banyak diperbincangkan adalah ikan sapu-sapu, spesies invasif yang hidup dan berkembang biak di sungai-sungai perkotaan Jakarta, termasuk Sungai Ciliwung.
Pakar penyakit dalam Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, menegaskan bahwa bahaya utama ikan sapu-sapu bukan terletak pada jenis ikannya, melainkan pada lingkungan tempat ikan tersebut hidup.
Baca juga: Perjalanan Ikan Sapu-sapu, dari Kali Ciliwung ke Gerobak Siomay
“Pertama tentu tunggu berbahaya jika ikan itu tercemar dengan berbagai macam bakteri, kemudian juga kuman, dan juga biasanya logam, logam berat yang ada pada ikan tersebut,” ujar Ari saat dihubungi Kompas.com, Jumat (23/1/3026).
Menurut Ari, persoalan tidak berhenti pada tahap penangkapan ikan dari sungai tercemar. Risiko justru meningkat ketika ikan tersebut dikonsumsi tanpa pemahaman yang cukup mengenai kandungan cemarannya.
“Dan terus terang saja, jadi masalah adalah apabila ikan tersebut dikonsumsi secara mentah, proses pemasakan pun kadang-kadang pada suatu keadaan belum tentu bisa menghasilkan racun yang ada pada ikan tersebut,” tutur dia.
Ari menjelaskan bahwa banyak masyarakat beranggapan proses memasak dapat menghilangkan seluruh risiko kesehatan.
Padahal, dalam konteks pencemaran logam berat, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
“Di satu sisi kadar logam berat pun juga tidak bisa hilang dengan proses pemasakan,” kata dia.
Baca juga: Mengintip Dapur Pengolahan Ikan Sapu-sapu di Kolong Jembatan Kalibata
Dampak konsumsiDampak konsumsi ikan tercemar bisa muncul dalam dua fase. Pada jangka pendek, gejalanya bisa langsung dirasakan oleh tubuh.
“Pada jangka pendek tentu pasien akan muntah-muntah setelah mengonsumsi ikan yang sudah tercemar tersebut,” ujar Ari.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah efek jangka panjang yang sering kali tidak disadari masyarakat karena berlangsung perlahan.
“Dalam jangka panjang tentu bisa menyebabkan kerusakan ginjal maupun liver pada pasien tersebut,” kata Ari.
Ia menegaskan, pentingnya kebijaksanaan masyarakat dalam memilih sumber pangan, terutama ikan.
“Apalagi kita tahu bahwa ternyata ikan itu hidup dari tempat yang sudah tercemar airnya. Termasuk juga kita tahu ikan sapu-sapu,” ucap Ari.
Menurutnya, paparan logam berat bersifat akumulatif. Artinya, meski dampaknya tidak langsung terasa, risiko kesehatan akan meningkat seiring frekuensi konsumsi.
“Karena sekali lagi, ikan yang sudah tercemar dengan logam tentu juga akan membawa dampak pada orang yang mengkonsumsi ikan tersebut,” ujar dia.
Baca juga: Begini Risiko Makan Ikan Sapu-sapu dari Sungai yang Tercemar
Risiko dari perspektif keamanan panganSejalan dengan peringatan medis tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) juga menegaskan bahwa ikan sapu-sapu hasil tangkapan liar dari sungai tercemar tidak dapat disamakan dengan ikan konsumsi pada umumnya.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu secara biologis memang bukan ikan beracun. Namun, faktor lingkungan menjadikannya berisiko tinggi.
“Ikan sapu-sapu secara biologis bisa dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan di sungai atau waduk yang tercemar,” ujar Hasudungan saat dihubungi.
Bahkan, dalam kondisi budidaya pun ikan tersebut tetap harus melalui pengujian ketat.
“Dalam kondisi inipun masih harus disertai dengan uji laboratorium (logam berat maupun mikrobiologi),” kata dua.
Berbeda dengan ikan budidaya, ikan sapu-sapu dari sungai tercemar menghadapi risiko berlapis.
“Pada kali yang tercemar, risiko kontaminasi cemaran logam berat berbahaya sangat tinggi dan kontaminan lain seperti E-coli yang berbahaya jika dikonsumsi,” ujar Hasudungan.
Menurut Hasudungan, secara regulasi, ikan tangkapan liar dari sungai tercemar tidak memiliki jaminan keamanan pangan.




