Penulis: Fityan
TVRINews-Paris, Prancis
Dibalik kesuksesan sebagai pelatih terbaik dunia, tersimpan memori pahit dan transformasi filosofi sepak bola Spanyol.
Nama Luis Enrique kini lebih dikenal sebagai arsitek di balik kesuksesan besar klub-klub elite Eropa. Baru saja dianugerahi gelar The Best FIFA Men’s Coach, pelatih Paris Saint-Germain ini memiliki reputasi yang hampir menutupi jejak langkahnya saat masih menjadi pemain.
Namun, bagi publik sepak bola Spanyol, Enrique adalah simbol dari sebuah perjalanan panjang yang penuh gejolak di panggung Piala Dunia.
Lahir dari transisi gaya permainan Spanyol, Enrique mencatatkan tiga penampilan di Piala Dunia (1994, 1998, dan 2002) yang masing-masing meninggalkan luka sekaligus pelajaran berharga bagi karier kepelatihannya di masa depan.
Tragedi Berdarah di Amerika 1994
Debut Enrique di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat ditandai dengan insiden yang hingga kini masih membekas dalam sejarah sepak bola.
Saat Spanyol menghadapi Italia di perempat final, sebuah sikut dari Mauro Tassotti mendarat keras di wajah Enrique. Wasit mengabaikan insiden tersebut, Spanyol kalah, dan Enrique meninggalkan lapangan dengan wajah bersimbah darah.
Meski demikian, Enrique telah memaafkan kejadian tersebut. Menjelang pertemuan Spanyol dan Italia di Euro 2020, ia merefleksikan momen itu dengan kedewasaan.
"Hidung saya akhirnya sembuh. Saya telah berbicara dengan Mauro Tassotti beberapa kali selama bertahun-tahun, dan saya melihatnya sebagai orang yang jujur. Itu adalah bagian dari sejarah sepak bola kami," ungkap Enrique.
Kegagalan Kolektif dan Evolusi Gaya
Pada edisi Perancis 1998, Enrique datang dengan ambisi besar di bawah arahan pelatih Javier Clemente. Clemente kala itu memuji Enrique sebagai pemain yang paling bisa diandalkan.
"Di posisi mana pun pertahanan, serangan, atau Tengah ia selalu siap bekerja dengan semangat yang luar biasa," tutur Clemente kala itu.
Sayangnya, optimisme tersebut berakhir dengan trauma nasional. Spanyol tersingkir di babak penyisihan grup meskipun Enrique tampil impresif dengan mencetak gol dan asis saat melawan Bulgaria.
Memasuki Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, Enrique berperan sebagai mentor bagi generasi muda.
Meski Spanyol kembali terhenti di perempat final oleh tuan rumah Korea Selatan lewat adu penalti, Enrique menyadari bahwa identitas sepak bola Spanyol harus berubah. Ia mulai mempertanyakan label "Spanish Fury" yang selama ini melekat pada tim nasional.
"Di zaman saya, kami disebut 'Fury'. Namun saat kami melihat tim Jerman atau Afrika, kami bertanya pada diri sendiri: Seberapa jauh kita benar-benar bisa melangkah hanya dengan kekuatan itu?" ujar Enrique dalam sesi di kanal Twitch miliknya.
Warisan yang Melampaui Trofi
Walaupun tidak pernah mengangkat trofi Piala Dunia sebagai pemain, peran Luis Enrique dianggap krusial dalam meletakkan batu pertama transformasi teknis Spanyol.
Bersama tokoh-tokoh seperti Fernando Hierro, ia memimpin jalan bagi perubahan gaya bermain dari sekadar mengandalkan fisik menjadi permainan berbasis penguasaan bola yang nantinya membawa Spanyol juara dunia di tahun 2010.
Kisah Enrique dengan Piala Dunia mungkin terasa tidak lengkap, terutama setelah hasil campur aduk saat ia menjabat sebagai pelatih tim nasional di Qatar 2022.
Namun, dedikasi dan visinya telah membuktikan bahwa kontribusi seorang figur sepak bola tidak selalu diukur dari medali, melainkan dari jalan yang ia rintis untuk generasi berikutnya.
Editor: Redaktur TVRINews




