JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia saat ini baru mencukupi kebutuhan sekitar 21 hari, jauh di bawah standar internasional yang berada di kisaran 90 hari.
Menurutnya, kondisi ini menjadi tantangan serius dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
“Idealnya dalam konsensus internasional itu tiga bulan. Maka apa yang harus kita lakukan adalah membangun storage. Storage ini bukan hanya soal crude, tapi juga produk BBM,” kata Bahlil dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, penguatan kapasitas penyimpanan BBM dan infrastruktur distribusi menjadi langkah krusial untuk menjamin keandalan pasokan energi nasional.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan B50, Program Biodiesel Dikebut untuk Setop Impor BBM
Peningkatan kapasitas storage BBM juga mengurangi risiko gangguan distribusi di tengah tingginya kebutuhan energi dalam negeri.
Selain persoalan cadangan, Bahlil juga menyinggung masih besarnya ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.
Saat ini, kebutuhan solar nasional mencapai sekitar 38 juta kiloliter (KL) per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru berada di kisaran 14–16 juta KL.
Untuk menutup kesenjangan tersebut, pemerintah melakukan intervensi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati (B40) yang berasal dari campuran Crude Palm Oil (CPO) dan metanol.
Baca Juga: Lebaran 2026, Tol Solo-Jogja dan Jogja-Bawen Dibuka Fungsional
Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti
Sumber :
- pasokan bbm
- stok bbm
- storage bbm
- bahlil lahadalia
- menteri esdm




