FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Spesialisasi dan identitas konten dinilai menjadi kunci utama bagi kreator untuk bertahan dan berkembang di tengah persaingan industri kreatif yang semakin kompetitif.
Hal tersebut mengemuka dalam talkshow Road to ICCS 2026: Kreator Spesialis di Era Industri Kreatif di Lobby Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (22/1).
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Indonesia Content Creator Summit (ICCS) 2026, yang menghadirkan kreator dengan latar belakang konten industri, travel, olahraga, hingga produksi visual sinematik.
Perwakilan penyelenggara, Qusyaini, menyampaikan bahwa talkshow ini menjadi ruang diskusi sekaligus upaya membangun ekosistem kreator yang sehat dan berkelanjutan.
“Selain talkshow, kami juga rutin menggelar pameran foto, penerbitan buku foto, hingga kegiatan hunting konten bersama. Seluruh rangkaian ini akan bermuara pada puncak acara Indonesia Content Creator Summit 2026,” ujarnya.
Ia menambahkan, ICCS merupakan agenda tahunan yang telah digelar sejak 2019 dan mempertemukan kreator lintas komunitas serta lintas platform, dengan target pelaksanaan ICCS 2026 pada akhir Maret 2026.
Salah satu pembicara, Rifky Widianto, membagikan pengalamannya membangun persona sebagai kreator konten industri. Ketertarikannya pada dokumentasi pembangunan infrastruktur di Jakarta menjadi titik awal terbentuknya identitas konten yang ia kembangkan.
“Awalnya saya konten karena suka saja, tanpa kenal siapa-siapa. Saya foto dan video proses pembangunan lalu unggah ke media sosial. Dari situ pelan-pelan mulai dikenal dan akhirnya dilirik,” kata Rifky.
Ia menegaskan bahwa kualitas konten tidak selalu ditentukan oleh peralatan mahal.
“Peralatan itu penting, tapi tidak ada yang benar-benar mahal. Nilai konten justru jauh lebih besar dari gear yang digunakan,” tambahnya.
Menurut Rifky, konsistensi sudut pandang dan pemahaman cerita di balik industri menjadi faktor utama yang membuat konten memiliki nilai jangka panjang.
Pandangan serupa disampaikan Tasya Amini, yang menilai proses membangun karier kreator membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Ia mengungkapkan bahwa perjalanan menuju kerja sama dengan brand tidak selalu instan.
“Tidak instan. Ada yang butuh tiga bulan, enam bulan, bahkan tahunan sampai benar-benar di-notice. Tapi kalau sudah terlihat, biasanya peluang akan terus datang,” ujarnya.
Tasya menambahkan bahwa pengembangan personal branding juga berperan besar dalam membuka peluang komersial.
“Family branding membuat jangkauan konten jadi lebih luas, dan produk bisa di-hook secara natural untuk kebutuhan endorsement,” kata Tasya.
Ia menilai pendekatan tersebut membantu kreator menjaga relevansi sekaligus membangun kepercayaan audiens dan brand.
Sementara itu, Muhammad Akbar menceritakan perjalanannya menggabungkan hobi lari dengan aktivitas vlogging. Berangkat dari latar belakang antropologi, ia melihat vlog sebagai medium untuk merekam pengalaman sekaligus interaksi sosial.
“Memang capek dan ribet, tapi justru ngobrol sambil lari itu membantu saya dan memberi pengalaman berbeda buat penonton,” tutur Akbar.
Menurutnya, konten lari membutuhkan pendekatan kreatif agar tidak monoton.
“Gimmick saat lari itu penting, karena di situlah momen yang bisa di-capture dan jadi pembeda konten,” tambahnya.
Akbar menilai gimmick yang tepat dapat membuat konten lebih hidup sekaligus mendekatkan kreator dengan audiens.
Dari sisi produksi visual, Fajrie Hanggono menekankan bahwa konten sinematik memiliki pasar tersendiri yang tidak selalu berorientasi pada viralitas.
“Tujuan saya bukan viral, tapi kualitas. Cinematic itu butuh waktu, momen, dan cahaya yang tepat,” ujar Fajrie.
Ia menilai pilihan antara mengikuti tren dan mempertahankan gaya visual akan menentukan karakter kreator.
“Kalau ikut tren, risikonya hanya mengejar viral. Tapi kalau konsisten di cinematic, kita akan punya ciri khas sendiri,” katanya.
Melalui diskusi ini, para narasumber sepakat bahwa spesialisasi, konsistensi, serta keberanian membangun identitas menjadi fondasi penting bagi kreator di era industri kreatif.
Talkshow ini sekaligus menjadi pemanasan menuju ICCS 2026 yang diharapkan mampu memperkuat ekosistem kreatif nasional.(*)




