SEMARANG, KOMPAS — Sejumlah daerah di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, seperti Kabupaten Pemalang, Tegal dan Purbalingga dilanda banjir bandang pada Jumat (23/1/2026). Dalam kejadian itu, satu orang tewas, puluhan orang luka-luka, dan ratusan orang mengungsi.
Di Pemalang, banjir bandang terjadi pada Jumat, sekitar pukul 17.30 WIB hingga Sabtu (24/1/2026) sekitar pukul 03.30. Banjir bandang melanda setelah hujan lebat turun di sekitar Kecamatan Pulosari dan Moga.
Banjir bandang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan rumah warga. Ada empat desa yang terdampak, yakni Desa Gunungsari, Penakir, dan Jurangmangu di Kecamatan Pulosari serta Desa Sima di Kecamatan Moga.
Dalam kejadian itu, timbul satu korban jiwa. Puluhan orang juga menderita luka-luka, sebanyak dua orang luka berat dan 22 orang luka ringan. Baik korban tewas maupun luka-luka sudah ditangani secara medis.
"Kronologi (kematian) belum jelas, saat ini korban masih berada di Rumah Sakit Muhammadiyah Rodliyah Achid di Moga. Korban inisial T usia sekitar 27 tahun," kata Camat Pulosari, Arif Senoaji saat dihubungi, Sabtu.
Menurut Arif, pihaknya masih fokus pada proses evakuasi dan penanganan warga di pengungsian. Hingga Sabtu siang, sedikitnya 300 orang dievakuasi ke dua titik pengungsian, yakni Gedung Nahdlatul Ulama dan Taman Kanak-Kanak Pulosari.
Pada Sabtu siang, kondisi di sekitar Pulosari masih hujan lebat disertai angin. Kabut juga masih menyelimuti sebagian wilayah di kawasan tersebut. Pemerintah setempat mangimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena ada potensi banjir susulan.
Di Kabupaten Tegal, banjir bandang terjadi di pada Sabtu sekitar pukul 01.30 WIB di daerah aliran sungai Gung di Obyek Wisata Guci, Kecamatan Bumijawa. Banjir bandang itu melanda wilayah tersebut setelah hujan lebat yang turun sejak Jumat siang.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal Muhammad Afifudin mengatakan, banjir bandang di wilayah Obyek Wisata Guci bukan kali ini terjadi. Pada akhir Desember 2025 lalu, banjir bandang juga melanda obyek wisata andalan Kabupaten Tegal itu.
"Banjir bandang ini menimbulkan berbagai dampak, di antaranya, ada tiga jembatan yang rusak, yaitu jembatan Jedor, jembatan gantung di area Pancuran 13, dan jembatan di area Pancuran 5. Kemudian obyek wisata yang terdampak adalah area Pancuran 13 dan Pancuran 5 yang beberapa waktu sudah dibenahi, sekarang mengalami kerusakan lagi, yaitu kolamnya tertimbun material pasir dan batu," ucap Afifudin.
Dalam bencana banjir bandang di Tegal, tidak ada korban jiwa maupun korban luka. Untuk sementara waktu, aktivitas wisata di sekitar Pancuran 5 dan Pancuran 13 dihentikan demi keselamatan pengunjung.
Menurut Afifudin, banjir bandang itu telah menyebabkan perubahan alur aliran Sungai Gung. Ke depan, pihaknya bakal berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, Sumber Daya Air, dan Penataan Ruang Provinsi Jateng dalam pembenahan alur sungai.
Di samping itu, pemerintah juga menggagas pemasangan jembatan bailey sebagai sarana sementara. Hal itu agar akses di kawasan tersebut yang kini terputus bisa kembali tersambung.
Sementara itu, di Kabupaten Purbalingga, banjir bandang dilaporkan terjadi di bagian utara Kecamatan Karangreja pada Jumat. Hujan deras yang turun di wilayah itu sejak Jumat siang disebut mengakibatkan sejumlah sungai meluap. Air yang melimpas hingga ke permukiman warga itu membawa material berupa lumpur dan batuan.
"Akses jalan kabupaten menuju Dusun Malang dan Dusun Bambangan di Kecamatan Karangreja terisolasi akibat tertutup material banjir. Jembatan Kali Bambangan juga putus total," ujar Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan.
Menurut Bergas, warga yang terdampak langsung mengungsi ke tempat yang lebih aman. Hingga Sabtu siang, setidaknya 110 jiwa dari 31 keluarga dari Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja mengungsi.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jateng menyayangkan terus berulangnya banjir bandang di wilayah lereng Gunung Slamet. Walhi Jateng menilai, banjir bandang yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari kondisi di wilayah hulu.
Berdasarkan catatan Walhi, ada aktivitas penambangan yang cukup masif di Gunung Slamet. Beberapa waktu terakhir, hal itu dilaporkan oleh masyarakat. Namun, kala itu, Pemerintah Provinsi Jateng disebut tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, aktivitas itu dinilai berizin.
"Apakah karena sudah berizin jadi tidak ada risikonya sama sekali? Wilayah hulu yang merupakan daerah tangkapan air ini kan seharusnya ditumbuhi vegetasi, pepohonan, tidak boleh dialihfungsikan, termasuk ditambang," kata Bagas Kurniawan, dari Bidang Kajian dan Pengelolaan Pengetahuan Walhi Jateng.
Bagas berharap, banjir bandang yang terjadi saat ini bisa menjadi momentum bagi pemerintah untuk kembali melakukan kajian komprehensif untuk melihat dampak dari sebuah kebijakan, khususnya mengenai tata ruang. Ke depan, pemerintah diminta membatasi izin-izin kegiatan industri ekstraktif, seperti pertambangan demi kelestarian lingkungan.
"Karena, kalau sudah mendapatkan izin itu akan menjadi tameng untuk secara sah melakukan kegiatan ekstraktif. Jadi, disamping melakukan evaluasi, perlu juga pemerintah itu menekan izin. Jangan semudah itu memberikan izin untuk aktivitas yang berisiko menimbulkan risiko bencana," ucapnya.


