Bisnis.com, JAKARTA – Pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) membuka ruang bagi penurunan suku bunga kredit pada 2026. Namun, dunia perbankan memilih langkah yang hati-hati dengan menurunkan bunga secara bertahap dan selektif.
Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin menyampaikan, kebijakan pelonggaran BI, termasuk melalui penurunan BI Rate, memperkuat jalur transmisi suku bunga dan memberikan sinyal positif bagi perbankan untuk menyesuaikan harga. Kondisi ini membuka peluang bagi bank untuk menurunkan suku bunga, meski tidak dilakukan secara agresif.
“Ke depan masih mungkin terbuka penurunan suku bunga [bank], tapi saya rasa akan gradually decrease dan sangat selektif,” kata Amin kepada Bisnis, dikutip pada Sabtu (24/1/2026).
Namun, Amin menyebut bahwa bank tetap mempertimbangkan berbagai faktor dalam menurunkan suku bunga. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kebutuhan menjaga stabilitas sistem keuangan, serta pengelolaan likuiditas perbankan menjadi perhatian utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Selain faktor domestik, dia mengungkapkan ketidakpastian ekonomi global turut memengaruhi sikap kehati-hatian perbankan. Dinamika global yang masih rentan berpotensi memberikan dampak lanjutan terhadap perekonomian nasional, sehingga bank perlu mengantisipasi risiko yang dapat muncul.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Amin menilai bahwa penurunan suku bunga kredit bank akan lebih difokuskan ke segmen-segmen berisiko rendah, sektor prioritas, maupun debitur dengan kualitas kredit yang baik.
Baca Juga
- Bank Indonesia Ramal Kredit pada 2026 Tumbuh Lebih Tinggi, DPK Bakal Melambat
- Usai Tahan BI Rate 4,75%, Kapan Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga Acuan Lagi?
- Arah Nilai Tukar Rupiah Setelah Bank Indonesia Tahan BI-Rate dalam RDG Perdana 2026
Menurutnya, bank menghindari penurunan suku bunga secara menyeluruh agar tetap menjaga keseimbangan antara upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Ke depan, kebijakan suku bunga perbankan diperkirakan tetap berada dalam jalur yang akomodatif, namun dijalankan dengan penuh kehati-hatian untuk memastikan ketahanan sektor keuangan tetap terjaga.
“Artinya kebijakan suku bunga bank ke depan masih akomodatif tapi berhati-hati. Ini karena menjaga keseimbangan tadi, antara pertumbuhan dan stabilitas sistem keuangan,” pungkasnya.
Berdasarkan data BI, suku bunga perbankan pada Desember 2025 tercatat turun signifikan, baik pada suku bunga deposito maupun suku bunga kredit.
Tercatat, suku bunga deposito tenor 1 bulan tercatat turun sebesar 56 basis poin (bps) secara tahunan, dari 4,81% menjadi 4,25%. Suku bunga kredit juga melunak 39 bps, dari 9,20% menjadi 8,81 pada Desember 2025.



