JAKARTA, KOMPAS.TV - Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia atau KNTI) berharap kehadiran negara memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi nelayan kecil menyusul cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi cuaca buruk dinilai mengancam keselamatan sekaligus keberlangsungan hidup nelayan di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Ketua Umum KNTI Dani Setiawan mengatakan, cuaca ekstrem tidak hanya membahayakan aktivitas melaut, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur pesisir serta menurunkan produksi perikanan tangkap.
Situasi ini kian memperberat beban nelayan kecil yang selama ini bergantung pada hasil laut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Baca Juga: Indonesia Masih Berpotensi Dihantam Cuaca Ekstrem hingga 29 Januari 2026, BMKG Ungkap Penyebabnya
KNTI mencatat 95 persen nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terdampak cuaca buruk. Bahkan, 63 persen nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena tingginya risiko keselamatan.
Data tersebut diperoleh dari survei kampung nelayan basis KNTI yang dilakukan pada 23–24 Januari 2026 di 41 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi.
Menurut Dani, angka tersebut menunjukkan bahwa dampak cuaca ekstrem bersifat luas dan sistemik, sehingga tidak dapat disikapi secara parsial.
“Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016, pemerintah wajib memberikan perlindungan kepada nelayan. Di tengah cuaca ekstrem, risiko melaut semakin tinggi dan tidak bisa ditanggung nelayan seorang diri,” ujarnya dikutip dari Antara.
Dani menegaskan, nelayan kecil di wilayah pesisir tidak cukup hanya dibekali informasi prakiraan cuaca.
Lebih dari itu, mereka membutuhkan perlindungan sosial dan ekonomi yang konkret agar tidak terpaksa melaut dalam kondisi berbahaya demi memenuhi kebutuhan harian.
“Nelayan memerlukan perlindungan sosial dan ekonomi, sehingga mereka tidak lagi memaksakan diri melaut saat cuaca ekstrem demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Dani.
Dampak cuaca ekstrem dilaporkan hampir merata di berbagai daerah.
Sekretaris KNTI Kota Ternate, Maluku Utara, Gafur Kaboli, menyebut nelayan tuna di wilayahnya hampir dua bulan tidak dapat melaut normal akibat angin kencang dan gelombang tinggi.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada
Sumber : Antara
- KNTI minta perlindungan negara
- nelayan kecil terdampak cuaca
- knti
- cuaca ekstrem
- nelayan kecil
- perlindungan sosial





