Perhatian! Tanda-Tanda Kiamat Dunia Muncul di Keju

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: REUTERS/Ilya Naymushin

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanda "kiamat" berupa perubahan iklim akibat aktivitas manusia mulai terlihat pada berbagai produk pangan, termasuk keju. Para ilmuwan memperingatkan bahwa krisis iklim mempengaruhi kualitas susu sapi, yang merupakan bahan utama dalam pembuatan keju.

Temuan tersebut tertuang dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Dairy Science. Peneliti dari Université Clermont Auvergne, Prancis, menemukan adanya perubahan rasa pada susu sapi yang dipicu oleh perubahan jenis dan kualitas pakan yang dikonsumsi ternak.


Sapi mengonsumsi makanan pakan tambahan seperti jagung dan konsentrat. Sebab makanannya, rumput mengalami kekeringan dan membuatnya menjadi kurang untuk dikonsumsi sapi.

Baca: Di Hadapan Prabowo-David Lammy, Raksasa Bisnis Inggris-RI Sepakati Ini

Karena perubahan itu, membuat rasa kandungan gizi susu berubah. Pada akhirnya rasa keju pun menjadi kurang nikmat.

"Kalau perubahan iklim terus berjalan seperti sekarang, kita akan merasakannya dalam rasa keju kita," ujar Matthieu Bouchon, peneliti utama dari studi tersebut kepada Science News, dikutip Sabtu (24/1/2026).

Mereka melakukan penelitian pada 2021 dengan membandingkan dua kelompok sapi. Salah satunya mengonsumsi rumput dan sisanya diberi pakan tambahan.

Sapi yang makan jagung akan menghasilkan sapi dengan volume setara dan emisi metana lebih rendah. Namun rasa susu yang dihasilkan kurang gurih dan kaya dibandingkan dengan sapi yang mengonsumsi rumput.

Baca: Update Kebakaran Mal di Tengah Kota, Korban Jiwa Terus Bertambah

Sapi yang merumput juga memiliki lebih banyak asam lemak omega-3 dan asam laktat. Kandungan ini penting bagi kesehatan jantung dan sistem pencernaan.

Fenomena ini terjadi pada banyak wilayah. Mulai dari Eropa hingga Brasil.

Salah satu peternak sapi perah asal Brasil, Gustavo Abijaodi mengatakan perubahan iklim membuat kandungan susu di sana menurun.

"Kami menghadapi banyak masalah dengan kandungan protein dan lemak dalam susu karena suhu panas. Kalau kami bisa menstabilkan dampak panas, sapi akan menghasilkan susu yang lebih baik dan bergizi," ungkap Abijaodi.

Temuan lainnya adalah pola makan sapi berubah. Sebab suhu ekstrem karena pemanasan global membuat sapi makan lebih sedikit.

"Sapi menghasilkan panas saat mencerna makanan, jadi kalau mereka sudah merasa panas, mereka akan makan lebih sedikit untuk menurunkan suhu tubuhnya," kata Pakar peternakan lainnya, Marina Danes dari Universitas Federal Lavras, Brasil.

Sapi yang makan lebih sedikit akan membuat daya tahan tubuh hewan menjadi menurun. Selain itu juga akan membuat hewan menjadi rentan terkena penyakit.

"Proses ini bisa berujung pada penurunan daya tahan tubuh, membuat hewan lebih rentan terkena penyakit," jelasnya.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Transaksi Digital Bikin Bisnis Properti - Logistik Makin Cuan

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perkuat Kerja Sama Strategis, Presiden Prabowo Sambangi Presiden Macron di Paris
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Presiden Prabowo dan Macron Perkuat Diplomasi di Élysée
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
Foto: Proses Evakuasi Korban Tanah Longsor di Kabupaten Bandung Barat
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi Masih Menunggu Hasil Visum untuk Pastikan Penyebab Meninggal Lula Lahfah
• 47 menit lalukompas.com
thumb
Korban Bus Ugal-ugalan di Kediri Jadi 11 Orang, Ada Anak-anak
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.