JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali meluruskan berbagai tafsir yang berkembang terkait pernyataannya di program siniar atau podcast.
Dalam podcast tersebut, Ali mengeklaim dirinya secara konsisten membahas hubungan baik antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), serta kesinambungan kepemimpinan nasional yang saat ini tecermin dalam duet Prabowo-Gibran.
Menurut Ali, judul pemberitaan yang beredar berpotensi menimbulkan asumsi berbeda dari isi pembahasan sebenarnya, karena tidak mencerminkan keseluruhan konteks percakapan yang ia sampaikan.
“Kalau podcast itu ditonton secara utuh, saya sama sekali tidak sedang bicara soal menjadikan Mas Gibran sebagai lawan politik Pak Prabowo,” ujar Ali dalam keterangannya kepada Kompas.com, Sabtu (24/1/2026).
Baca juga: Cerita Ahmad Ali soal Jokowi Ingin Tengahi Konfliknya dengan Surya Paloh
Ali menekankan, dalam podcast tersebut, dirinya justru menegaskan bahwa Gibran merupakan Wakil Presiden dengan potensi dan kapasitas yang sangat kuat.
“Mas Gibran punya pengalaman, punya akar rumput, dan punya dedikasi kerja. Itu kualitas yang nyata,” ucapnya.
Selain itu, Ali menekankan bahwa Prabowo tidak mungkin menggandeng Gibran jika tidak melihat potensi dan kecocokan dalam bekerja untuk bangsa.
“Pak Prabowo tentu tidak akan memilih pendamping yang tidak punya kapasitas. Kalau hari ini Mas Gibran mendampingi beliau, itu karena dinilai mampu dan punya potensi,” jelas Ali.
Lebih jauh, Ali membeberkan pembahasan dalam podcast tersebut bukanlah spekulasi politik Pilpres 2029, melainkan penekanan pada fokus kerja pemerintahan ke depan.
Baca juga: Jokowi Pakai Kode Titip Kaesang untuk Ahmad Ali Gabung PSI
“Pak Prabowo ingin bekerja untuk Indonesia. Beliau belum memikirkan 2029. Soal politik ke depan, itu nanti saja kita lihat,” tegasnya.
Sementara itu, Ali menekankan bahwa substansi podcast tersebut adalah penguatan kerja sama, kesinambungan kepemimpinan, dan fokus pada kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran, bukan membuka ruang spekulasi atau konflik politik.
Dia mengatakan, PSI berharap media dan publik dapat melihat pernyataan tokoh politik secara utuh dan proporsional, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada narasi yang keliru.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



