Dewan Perdamaian Gaza Tidak Akan Menciptakan Perdamaian

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Donald Trump telah mengambil inisiatif membentuk Dewan Perdamaian Gaza. Tujuannya, kata Trump, untuk menyusun kerangka kerja dan mengkoordinasikan pendanaan rekonstruksi Gaza. Sehingga otoritas Palestina mampu memimpin wilayah tersebut secara aman dan efektif.

Dilihat dari sisi tujuan gagasan Trump tampak menarik karena dewan ini akan memikirkan bagaimana Gaza yang sudah porak poranda dibom oleh Israel bisa dibangun kembali. Tetapi pertanyaannya: bukankah Amerika telah ikut menghancur-leburkan Gaza karena Amerika selalu berada di belakang Israel.

Amerika semestinya bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Lalu mengapa sekarang dia harus mengajak negara-negara lain untuk membangun kembali Gaza? Kalau seandainya pembangunan di Gaza tersebut sudah selesai, apakah Amerika dan Israel akan mau menyerahkan pengurusan Gaza kepada pemerintah Palestina yang merdeka?

Jawabnya jelas tidak karena Donald Trump tidak akan mendukung berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat? Karena berkaca pada apa yang dilakukan pada masa jabatan yang lalu (2017-2021), Trump tampak sekali mendukung tindakan dan langkah-langkah Israel yang jelas-jelas sangat merugikan Palestina.

Sebagai contoh, Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, dan memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem. Lalu sekarang mengapa beberapa negara Timur Tengah akan mendukung dewan yang dibentuk oleh Trump tersebut?

Rasa-rasanya apa yang dilakukan oleh Trump bersama dewan yang dia bentuk hanya akan memperlemah dan merugikan perjuangan rakyat Palestina yang ingin merdeka dan berdaulat. Apalagi kita tahu Benyamin Netanyahu sudah jelas-jelas menolak berdirinya negara Palestina yang merdeka.

Jadi kesimpulannya, Dewan Perdamaian Gaza tidak akan bisa diharapkan untuk dapat menciptakan perdamaian di Gaza. Bahkan mungkin yang akan terjadi sebaliknya karena yang dibutuhkan oleh rakyat Gaza bukan gedung dan jembatan yang indah dan megah. Tapi berdirinya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat sementara hal itu jelas tidak diinginkan oleh Trump dan Benyamin Netanyahu.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gelar Rakernas, Tilawati Perkuat Manajemen Dakwah di Era Disrupsi
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hasil Liga Inggris: Drama Gol Menit Akhir, Liverpool Ditekuk Bournemouth
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Takalar Bentuk 99 Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan, Pertama di Sulsel
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Update Banjir Jakarta: 19 RT Masih Terendam, Ketinggian Air 140 Cm
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Membalas Kejahatan dengan Kebaikan, Menanggung Luka Sendiri
• 20 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.