Pembongkaran Ndalem Padmosusastro dan Hilangnya Peninggalan Bapak Sastra Jawa Modern

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Pembongkaran Ndalem Padmosusastro di Kota Surakarta, Jawa Tengah, mengundang keprihatinan banyak pihak. Sebab, selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, bangunan peninggalan tokoh sastra Jawa, Ki Padmosusastro, itu sempat difungsikan sebagai ruang publik untuk mewadahi beragam acara.

Ndalem Padmosusastro terletak di Jalan Ronggowarsito Nomor 153, Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Berdasarkan pantauan Kompas, Sabtu (24/1/2026) sore, jejak pembongkaran bangunan masih terlihat di lokasi tersebut.

Di halaman kompleks Ndalem Padmosusastro, tampak tumpukan kayu bekas pembongkaran bangunan. Selain itu, terlihat pula struktur tembok bercat putih yang tak lagi memiliki atap. Di bagian depan kompleks bangunan itu, terdapat pagar yang dirantai dan digembok.

Ndalem Padmosusastro merupakan peninggalan Ki Padmosusastro, sastrawan dan wartawan yang dianggap berpengaruh dalam perkembangan sastra Jawa modern. Padmosusastro lahir dengan nama Suwardi pada tahun 1841 di Surakarta. Dia pernah menjadi abdi dalem Keraton Surakarta dan belajar pada pujangga besar Raden Ngabehi Ronggowarsito.

Seperti disebut dalam buku Kepengarangan Pujangga Ki Padmasusastra (1993) yang disusun Renggo Astuti dkk, Padmosusastro menulis sejumlah karya yang sebagian di antaranya berbentuk novel, seperti Rangsang Tuban, Prabangkara, Kandhabumi, dan Serat Durcaraarja. Selain itu, dia menerbitkan beberapa buku yang berisi pengetahuan bahasa, misalnya Layang Madubasa, Serat Pathibasa, Paramabasa, dan Warnabasa.

Ada juga buku yang berisi pengetahuan tentang sastra dan bacaan sastra, misalnya Serat Erang-erang, Layang Basa Jawa, Serat Kancil Tanpa Sekar, Serat Urapsari, Piwulang Becik, dan Baletri. Karya lainnya adalah Serat Tatacara, Hariwara, dan Kawruh Klapa. Selain menulis buku, Padmosusastro juga aktif menulis di surat kabar pada zamannya.

Baca JugaKonflik di Keraton Surakarta Kembali Memanas, Bagaimana Duduk Perkaranya?

Padmosusastro menjadi abdi dalem Keraton Surakarta hingga usia 42 tahun. Setelah tidak lagi menjadi abdi dalem, dia tetap menulis berbagai karya sastra Jawa sehingga dikenal dengan julukan tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi atau orang bebas yang menggeluti kesusastraan Jawa. Bahkan, Padmosusastro dianggap sebagai tokoh penting dalam sastra Jawa setelah era Ronggowarsito.

Dalam buku Kepengarangan Pujangga Ki Padmasusastra disebutkan, Padmosusastro dianggap sebagai sosok yang menjembatani hubungan antara sastra Jawa klasik dengan sastra Jawa modern. Sementara itu, dalam buku The Novel in Javanese (1992) karya pakar sastra dan budaya Jawa George Quinn, Padmosusastro disebut sebagai bapak sastra Jawa modern.

Padmosusastro meninggal dunia tahun 1926. Setelah itu, Ndalem Padmosusastro diwariskan kepada keturunannya. Sekitar tahun 2019-2024, Ndalem Padmosusastro pernah dimanfaatkan menjadi rumah budaya untuk menyelenggarakan berbagai acara, seperti diskusi, bedah buku, pentas seni, pemutaran film, dan sebagainya. Namun, aktivitas itu kemudian terhenti hingga terungkap terjadinya pembongkaran Ndalem Padmosusastro pada Kamis (22/1/2026).

Mantan pengelola Ndalem Padmosusastro, Fawarti Gendra Nata Utami, mengaku mendengar informasi soal pembongkaran itu pada Kamis sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah itu, dia datang ke Ndalem Padmosusastro dan melihat adanya sejumlah orang yang sedang membongkar bangunan di kompleks tersebut.

Baca JugaPenetapan Cagar Budaya Nasional Jangan Sebatas Simbol

Fawarti menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pembongkaran itu diduga sudah terjadi sejak Rabu (21/1/2026). Bahkan, sebagian kayu di bangunan Ndalem Padmosusastro sudah dibongkar dan diangkut menggunakan truk pada hari itu.

Menurut Fawarti, luas lahan kompleks Ndalem Padmosusastro itu sekitar 2.180 meter persegi. Di dalam kompleks itu, terdapat dua bangunan tua, yakni pendopo dan ndalem atau rumah utama. Selain itu, ada beberapa bangunan lain yang ditambahkan kemudian.

“Saya benar-benar terpukul, ndalem itu kok dihancurkan. Ini saya masih menangis sampai hari ini,” kata Fawarti saat dihubungi, Sabtu (24/1/2026).

Sengketa

Fawarti menyebut, pembongkaran itu diduga berkait dengan sengketa yang terjadi di antara ahli waris. “Utamanya memang itu (sengketa ahli waris) pemicunya, tetapi sepihak melakukan itu (pembongkaran) yang kita enggak ngerti kok senekad itu,” ujarnya.

Dia pun menyayangkan pembongkaran itu karena Ndalem Padmosusastro sudah ditetapkan sebagai bangunan yang dianggap telah memenuhi kriteria sebagai cagar budaya. Apalagi, sebelum dibongkar, Ndalem Padmosusastro merupakan situs kapujanggan di Surakarta yang masih utuh.

“Yang juga kita sayangkan, ini (Ndalem Padmosusastro) satu-satunya situs kapujanggan di Kota Solo (Surakarta) yang masih utuh dan berfungsi sebagai tempat transfer knowledge atau ruang pembelajaran,” ungkapnya.

Baca JugaPendopo Kepatihan Mangkunegaran Dibongkar Pemilik

Dosen Program Studi Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Priyatmoko, juga menyayangkan pembongkaran Ndalem Padmosusastro. Dia menyebut, bangunan itu merupakan tetenger atau penanda tradisi kapujanggan dan intelektual pada masa lalu di Surakarta, khususnya yang berada di luar keraton.

“Padmosusastro itu besar dan menghidupi dirinya (sebagai sastrawan) di luar tembok keraton setelah tidak lagi menjadi abdi dalem. Anak dan keturunan Padmosusastro itu juga mewarisi tradisi literasi. Dan itu salah satu jejak sejarahnya ya di rumah itu,” ujar Heri yang intens meneliti sejarah Surakarta.

Oleh karena itu, Heri menyebut, Ndalem Padmosusastro mempunyai nilai sejarah yang penting dalam khazanah intelektual dan literasi di Surakarta. Apalagi, dalam sejarah sastra Jawa, Padmosusastro dinilai memiliki peran krusial.

Menurut Heri, Padmosusastro dinilai masuk dalam kelompok pujangga modern karena karya sastranya tidak banyak menggunakan pasemon atau ungkapan tidak langsung seperti era Ronggowarsito. Selain itu, Padmosusastro juga merupakan wartawan dan intelektual publik yang berkarya tanpa menghamba pada kekuasaan.

Saya benar-benar terpukul, ndalem itu kok dihancurkan. Ini saya masih menangis sampai hari ini

Heri menambahkan, Ndalem Padmosusastro bukan hanya bangunan bersejarah, tetapi sempat bisa dihidupkan menjadi ruang publik untuk beragam kegiatan, termasuk diskusi dan pentas kesenian. Bahkan, Heri dan pegiat sejarah di Surakarta juga beberapa kali menggelar jelajah sejarah di tempat itu.

“Dalam konteks kekinian, biasanya heritage atau cagar budaya itu hanya selesai pada stempel atau pemasangan logo. Tapi dalam kasus Ndalem Padmosusastro itu bisa direvitalisasi dan diberdayakan menjadi ruang publik. Pemanfaatan ruang itu menurut saya cukup berhasil waktu itu,” ungkap Heri.

Sayangnya, bangunan bersejarah itu kini telah dibongkar. Jejak peninggalan sang bapak sastra Jawa modern itu pun hilang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ayah dan Anak Tewas Tertimpa Pohon Randu Setinggi 20 Meter yang Tumbang di Jalan Baru Notonegoro Sleman
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini, 25 Januari 2026: Buyback Rp2,71 Juta per Gram di Pegadaian
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Australia Minta Trump Hormati Tentara NATO soal Afghanistan
• 1 jam laludetik.com
thumb
Pemuda asal Bengkulu Ini Keliling Indonesia Berjalan Kaki, Kagumi Keramahan Masyarakat Toraja
• 13 menit laluharianfajar
thumb
Pemprov Jabar Siapkan Kompensasi Rp25 Juta untuk Keluarga Korban Meninggal Longsor Pasirlangu
• 16 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.