Jerit Pedagang Ikan di Surabaya, Omzet Menyusut Imbas Cuaca Ekstrem

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, SURABAYA — Para pedagang ikan di Pasar Pabean, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya, Jawa Timur mengaku tengah was-was dan risau dengan penghasilan yang mereka kantongi akhir-akhir ini bisa merosot hingga dua kali lipat.

Bagaimana tidak, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara senantiasa rajin untuk menyampaikan maklumat mengenai peringatan mengenai gelombang tinggi serta cuaca ekstrem yang melanda wilayah Provinsi Jawa Timur. 

Seperti, BMKG Maritim Tanjung Perak misalnya yang menyampaikan peringatan gelombang tinggi masih berpotensi terjadi di mayoritas perairan Jawa Timur. Bahkan, gelombang tersebut dikabarkan dapat menyentuh ukuran empat meter di sejumlah wilayah.

Nelayan pun diharapkan dan diimbau dapat menahan diri untuk melaut serta meningkatkan kewaspadaan bila menemukan kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang sebesar 1,25 meter.

Tak hanya itu, BMKG Stasiun Meteorologi Juanda juga turut menyampaikan peringatan mengenai potensi bencana hidrometeorologi yang semakin menambah kekhawatiran para nelayan hingga pedagang ikan yang menggantungkan hidupnya dari lautan.

Berbagai fenomena alam, di antaranya seperti hujan lebat, angin kencang, hingga hujan es diprediksi akan menghantui wilayah Jawa Timur hingga akhir Januari 2026 nanti.

Baca Juga

  • DPRD Surabaya Minta Pemkot Optimalisasi Layanan Sampah
  • DPRD Surabaya Dukung Kemudahan Regulasi Pengembangan UMKM
  • Intiland (DILD) Perkuat Pasar Surabaya, Rilis Hunian Premium Rp4 Miliar

Selain itu, berdasar pada hasil dari pemantauan radar, terpantau kecepatan angin di atas langit Jawa Timur meningkat drastis. Berdasarkan data terbaru, kecepatan angin tercatat meningkat hingga 32 knot, di mana hal tersebut dapat memicu pohon tumbang hingga merusak struktur bangunan.

Huda, salah satu pedagang ikan di pasar legendaris yang telah eksis sejak era 1849 tersebut menuturkan fenomena cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini menjadi biang kerok utama atas stok serta harga jual komoditas sari laut yang tidak stabil. Pria itu membeberkan cumi menjadi salah satu sari laut yang harganya terapresiasi.

"Cuaca buruk, cumi mahal. [Harga] standar itu kalau lagi musim, cumi merah paling mahal Rp65 ribu per kilogram, kalau [cumi] putih paling mahal Rp70 ribu per kilogram. Sekarang lagi cuaca buruk jadi Rp95-100 ribu per kilogram," ungkap Huda saat ditemui Bisnis di lapaknya.

Potret Huda, salah satu pedagang komoditas sari laut di Pasar Pabean, Surabaya yang tengah menjajakan dagangannya. /Bisnis-Julianus Palermo 

Selain cumi yang mengalami inflasi akibat fenomena cuaca buruk yang terjadi, Huda pun mengungkap komoditas lainnya, seperti ikan kembung atau banyar, mengalami kondisi serupa. Kenaikan harga ikan yang mengandung protein tinggi dan Omega-3 yang melimpah tersebut bisa terjadi karena stok yang menipis serta pemasok yang menetapkan banderol di atas rata-rata. 

"Kenaikan signifikan ikan kembung atau banyar. Biasanya kembung itu jual dari harga Rp25 ribu per kilogram, paling mahal sekarang jadi Rp35 ribu per kilogram, stoknya juga nipis. Kadang kita stok masih sisa, ini pasar besar dibeli, dikulak sama penjual pasar-pasar kecil, nah kita jual mahal bukan cari untung banyak karena kita beli stok, kulaknya memang mahal,"

Walau stok ikan masih dalam ambang batas aman, Huda mengaku tidak selalu bersumber dari ikan segar. Ketika kuantitas terbatas, pedagang seperti dirinya terpaksa untuk mengeluarkan komoditas laut beku, hasil tangkapan nelayan yang langsung didinginkan ketika melayar di atas laut lepas. Harga ikan beku dan segar pun berbeda ketika diperjualbelikan.

"Dia bukan frozen dari pabrik. Jadi, nelayan sekarang ada alatnya juga sama freezer. Jadi nelayan itu kalau dia berlayar, di tengah dapat tangkapan, langsung difrozen karena kalau nunggu balik ke pesisir kan biaya lagi kan, bisa saja ikan yang didapat dikit, jadi rugi, tapi kualitas sama. Namun, harganya beda, lebih mahal yang segar," paparnya.

Huda pun menyebut, berbagai macam komoditas yang dijajakannya tersebut mayoritas merupakan tangkapan dari nelayan di laut lepas, seperti cakalang, tongkol putih, tenggiri, dorang, cumi, selar, kembung, tengkurungan, hingga lemadang. Ia mengaku berbagai macam sari laut tersebut diperolehnya dari para nelayan yang melaut di sekitar laut utara Jawa hingga perairan Madura.

"Ikan dikirimnya dari Rembang, Probolinggo, Madura juga ada. Cuma yang paling sering dari Rembang dan Probolinggo," tambahnya.

Huda pun juga berharap situasi cuaca buruk yang sedang terjadi akhir-akhir ini dapat segera mereda dan berakhir. Apalagi, dirinya juga mengaku omzet penjualan harian pun saat ini dapat merosot hingga 50% bila dengan dibanding hari-hari normal saat cuaca sedang bersahabat bagi nelayan.

"Sangat terasa dampaknya cuaca ini. Sekarang meski tidak [fase bulan] purnama, tapi cuaca, angin juga mempengaruhi. Pendapatan menurunnya lumayan juga, hari biasa normal gitu, saya minimal dapat sampai Rp8 juta sehari bisa, sekarang rata-rata hanya Rp3-5 juta," pungkasnya. 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Seskab Ungkap Isi Pertemuan Prabowo-Macron Selama 2,5 Jam di Elysee
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
IPA Dorong Penguatan SDM Energi yang Adaptif
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jakarta Electric PLN Dibungkam Gresik Petrokimia, Alim Suseno: Banyak Blunder
• 12 jam lalugenpi.co
thumb
Banjir di Kabupaten Tangerang Meluas ke 7 Kecamatan, 14 Ribu KK Terdampak
• 20 jam laludetik.com
thumb
Jawaban Trump soal Tangannya Terlihat Memar saat Acara World Economic Forum
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.