Alat Ukur Pencemaran Udara RDF Rorotan Mati, Warga Keluhkan Bau Menyengat

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com - Panel pemantau kualitas udara di Karang Tengah, Bekasi, yang mengukur pencemaran dari Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, mati sejak 9 Januari 2026, dan menyebabkan bau menyengat yang mengganggu warga.

Hamas (23), salah satu warga, mengatakan alat tersebut tiba-tiba tidak aktif tanpa pemberitahuan.

“Tidak ada sosialisasi atau pemberitahuan ke warga soal alat itu dimatikan. Tiba-tiba saja mati. Warga juga tidak paham apa maksud ‘kolokasi’ itu,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Minggu (25/1/2026).

Menurut Hamas, aktivitas di RDF masih terlihat hingga Sabtu (24/1/2026).

Baca juga: Pemprov Jakarta Pastikan RDF Rorotan Tak Cemari Pertanian dan Lingkungan

Bahkan sehari sebelumnya warga sempat mendatangi langsung lokasi RDF, tetapi petugas di lokasi mengatakan tidak ada operasional.

“Katanya pabrik tidak beroperasi, tapi karyawannya tetap datang, itu jadi tanda tanya besar. Kalau dihitung, dari tanggal 8 sampai 25, alat ukur itu tidak aktif sudah lebih dari 20 hari,” tutur dia.

Sebelum panel dimatikan, tercatat kadar pencemar udara cukup tinggi.

Pada 7 Januari 2026 pukul 20.50 WIB, kadar hidrogen sulfida (H?S) tercatat 0,000 ppm, metil merkaptan (CH?S) 0,141 ppm, dan dimetil sulfida (C?H?S) 0,139 ppm.

Baca juga: Petani Khawatir Kualitas Padinya Menurun karena RDF Rorotan

Sehari berikutnya, 8 Januari pukul 20.13 WIB, amonia (NH?) tercatat 0,4 ppm, metil merkaptan 0,147 ppm, dan dimetil sulfida 0,144 ppm.

Pada 9 Januari pukul 17.47 WIB, panel menunjukkan status “kolokasi” dan tidak menampilkan angka parameter gas.

“Padahal pada 7 dan 8 Januari, angka pencemarannya sangat tinggi. Contohnya pada 8 Januari, CH? tercatat 0,147 ppm dan C?H? sekitar 0,144 ppm. Angkanya jauh di atas ambang yang aman,” ujar Hamas.

Nufus (28), warga lain, menambahkan bahwa belakangan bau semakin menyengat.

“Yang terbaru, baunya sangat menyengat dan bikin pusing. Banyak warga juga komplain. Keluhannya sama, pusing, mual, tidak nyaman,” kata Nufus.

Baca juga: Warga Perumahan JGC Demo, Protes Dampak RDF Rorotan dan Jalan Rusak

Hamas menjelaskan, kondisi ini mengganggu aktivitas sehari-hari warga.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Bau itu bahkan sudah masuk ke dalam rumah, sampai ke kamar. Padahal kamar itu ruang untuk istirahat. Ini jelas sudah mengganggu kehidupan masyarakat,” ujar dia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bapanas Kunci Harga Sapi Hidup Rp 55.000 Jelang Ramadan dan Idulfitri
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Klasemen dan Jadwal Liga Spanyol Pekan ke-21, Valencia Menang Dramatis atas Espanyol
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Longsor Cisarua Bandung Barat, Mensos Pastikan Kebutuhan Pengungsi Terpenuhi
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
7 Barang Wajib Bawa ke Kantor saat Musim Hujan
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Tak Diakui Denada sebagai Anak Kandung, Ressa: Saya Cuma Ingin Cium Kaki Ibu
• 10 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.