Human-Centric Design Jadi DNA Subaru Hadapi Persaingan Otomotif Indonesia

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di tengah pasar otomotif Indonesia yang semakin sarat teknologi dan adu fitur, Subaru memilih mengambil jalur berbeda. Merek asal Jepang itu menegaskan fokus utamanya bukan sekadar kecanggihan, melainkan pengalaman manusia di balik kemudi.

Pendekatan tersebut dikenal sebagai human-centric design, sebuah filosofi yang menempatkan kebiasaan, kenyamanan, dan keselamatan pengemudi sebagai titik awal pengembangan produk. Subaru meyakini mobil yang baik adalah mobil yang terasa natural saat digunakan, bukan yang terasa rumit oleh teknologi.

Executive General Manager Subaru Indonesia, Adrian Quintano, menjelaskan sejak awal Subaru dirancang dengan cara pandang manusia sebagai pusatnya. Menurutnya, setiap detail mobil Subaru lahir dari pemahaman terhadap perilaku dan kebutuhan pengendara.

“Yang dimulai di Subaru, penekatannya adalah tentang manusia. Mulai dari habitnya manusia, jadi sehingga ketika orang bawa Subaru, itu mereka lebih nyaman,” ujar Adrian saat berkunjung ke kantor kumparan, Jumat (23/1/2025).

Pendekatan tersebut tercermin dari berbagai aspek sederhana namun krusial, mulai dari posisi duduk hingga kemudahan visibilitas. Bahkan karakter SUV Subaru tetap dibuat ramah dan tidak terasa mengintimidasi saat dikendarai.

“Contohlah dari hal-hal kecil, ground clearance, ground clearance Subaru itu walaupun 120 mm ketika orang naik, itu nggak kerasa kayak naik mobil tinggi, sangat nyamanlah,” kata Adrian.

Menurut Adrian, perhatian terhadap detail tersebut berakar dari budaya Jepang yang sangat menekankan kenyamanan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi itu kemudian diterjemahkan Subaru ke dalam desain dan rekayasa kendaraan.

“Jadi hal-hal kecil yang dipikirin oleh orang Jepang itu memang untuk kenyamanan manusia,” ucapnya.

Salah satu ciri khas Subaru adalah visibilitas kokpit yang luas, yang terinspirasi dari dunia penerbangan. Aspek ini dinilai berkontribusi langsung terhadap keselamatan dan rasa percaya diri pengemudi.

“Ketika kita masuk ke mobil di Subaru, itu visibilitas kokpitnya sangat bagus. Terinspirasi dari desain pesawat,” tutur Adrian.

Di sisi lain, Subaru juga dikenal tidak terburu-buru mengadopsi teknologi yang belum terbukti. Bagi merek ini, inovasi harus melewati proses pengujian menyeluruh agar tetap aman dan relevan dalam jangka panjang.

“Dan ketika teknologi itu belum proven, itu tidak akan diwujudkan oleh Subaru,” ujarnya.

Prinsip tersebut membuat Subaru masih mempertahankan teknologi yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan pengguna saat ini. Pendekatan konservatif ini justru menjadi pembeda di tengah tren elektrifikasi dan digitalisasi yang agresif.

“Jadi kita memang memilih teknologi yang konvensional, yang kita yakin bisa dipakai ke jangka panjang,” kata Adrian.

Pendekatan jangka panjang itu tercermin dari tingkat loyalitas konsumen Subaru di berbagai pasar global. Di Amerika Serikat, angka repeat purchase Subaru disebut mencapai lebih dari 60 persen.

“Kalau kita lihat di Amerika itu, orang yang repeat purchase Subaru itu lebih dari 62 persen. Artinya dari 10 orang yang beli, 6 itu beli lagi,” ungkap Adrian.

Pola serupa mulai terlihat di Indonesia, seiring bertambahnya konsumen yang kembali membeli Subaru setelah pengalaman pertama. Loyalitas ini dinilai muncul karena kepercayaan terhadap karakter dan nilai merek.

Once kita udah coba Subaru, pasti akan nambah lagi. Cukup banyak populasi orang yang awalnya beli satu, kemudian dibeli lagi,” katanya.

Dari sisi pemasaran, tantangan Subaru di Indonesia justru terletak pada edukasi merek. Banyak konsumen masih mengenal Subaru sebatas citra balap tanpa memahami keunggulan fundamentalnya.

“Saya tahu awalnya Subaru itu balapan aja gitu,” ujar General Manager Marketing, PR, and CRM Subaru Indonesia, Irhan Farhan.

Menurut Irhan, Subaru berupaya menyampaikan pesan bahwa kekuatan merek ini terletak pada teknologi inti yang berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan. Mulai dari Boxer Engine, Symmetrical All-Wheel Drive, hingga platform global Subaru.

“Subaru dengan core teknologi ada Boxer engine, Symmetrical all-wheel drive, global platform, dan EyeSight, kita membawa value untuk customer, safety dan comfort,” jelas Irhan.

Bahkan dalam pengembangan produk, Subaru disebut rela mengesampingkan tren demi menjaga karakter berkendara. Keputusan ini diambil jika teknologi baru berpotensi mengganggu aspek keselamatan.

“Kenapa nggak model ini ada hybrid-nya? Karena setelah di-trial, mengganggu handling dan safety-nya,” kata Irhan.

Dengan filosofi human-centric design, fokus pada keselamatan, serta pendekatan jangka panjang, Subaru menegaskan posisinya sebagai alternatif berbeda di pasar otomotif Indonesia. Bagi Subaru, membangun kepercayaan dan pengalaman berkendara dinilai jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Blusukan Pelatih Timnas Indonesia John Herdman dari Stadion ke Stadion, Pengamat: Pemain Suka Grogi
• 16 jam lalubola.com
thumb
Trump Kobarkan "Perang" di Dalam Negeri, Aparat Tembak Mati Warga Lagi
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jadwal Final Indonesia Masters: Alwi Farhan & Raymond/Joaquin Bidik Juara
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Rekap Transfer Paruh Musim BRI Super League 2025/2026: Persija Bikin Kejutan!
• 23 jam lalubola.com
thumb
Indonesia Lampaui Target dengan Raih 102 Emas di ASEAN Para Games 2025 Thailand
• 8 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.