Guru di Talaud Dikeroyok, Komandan TNI AL VIII Minta Maaf

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

SURABAYA, KOMPAS – Komandan TNI Angkatan Laut di Manado, Sulawesi Utara, memohon maaf kepada warga Kepulauan Talaud atas keterlibatan lima prajurit dalam cekcok dengan seorang warga sipil. Perkelahian itu diduga dipicu oleh minuman keras.

Dalam keterangan pers yang diterbitkan Sabtu (24/1/2026), Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VIII Laksamana Muda TNI Dery Triestanto Suhendi membenarkan adanya “kesalahpahaman” yang melibatkan lima personel Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Melonguane di Talaud dengan seorang warga pada Kamis (22/1/2026) jelang tengah malam.

"Benar telah terjadi kesalahpahaman yang berujung pada keributan fisik. […] Sehubungan dengan hal tersebut pihak Lanal Melonguane memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Melonguane atas ketidaknyamanan yang terjadi,” kata dia.

Warga yang menjadi korban penganiayaan itu adalah Berkam Saweduling, yang disebut oleh beberapa pihak sebagai seorang guru SMK. Berdasarkan video-video yang beredar di Facebook, Berkam babak belur dengan mata kanan yang tertutup kain kasa. Berbagai luka gores terlihat di punggungnya, sementara kedua lututnya juga terluka.

Berbagai sumber di media sosial menyebut Berkam menegur lima prajurit TNI AL yang sedang berkaraoke sekitar pukul 23.30 Wita, tetapi teguran tersebut tidak diindahkan. Meski begitu, Kodaeral VIII tak mengonfirmasi dugaan tersebut.

Siaran pers Kodaeral VIII hanya menyatakan percekcokan tersebut “berawal dari kesalahpahaman yang diduga dipicu oleh pengaruh minuman keras, sehingga menyebabkan korban mengalami luka-luka dan situasi sempat tidak kondusif.”

Baca JugaGuru Dikeroyok Siswa di Jambi, Korban Diusulkan Pindah Tugas demi Keselamatan Diri

Penganiayaan yang diderita Berkam tak ayal memicu kemarahan masyarakat Talaud. Keesokan harinya, ratusan warga mendatangi Lanal Melonguane. Dipimpin kelompok tetua adat, mereka berkonvoi dengan menumpangi mobil-mobil bak serta sepeda motor, seperti disiarkan Godfried Timpua, salah satu tetua adat, di laman Facebooknya.

Video lain yang beredar di Facebook menunjukkan warga menjebol pagar Lanal Melonguane, kemudian merangsek masuk. Bentrokan fisik dengan para tentara tak terhindarkan. Mereka kemudian menyerbu gedung kantor polisi militer hingga meruntuhkan kanopi seng di luar gedung. Warga tak tampak memasuki gedung.

Menjelang sore hari, warga lanjut berdemonstrasi di Monumen Tuhan Yesus Raja Memberkati di Melonguane. Dalam orasinya, Godfried mengeluhkan kehadiran Lanal Talaud yang ia sebut beberapa kali “menjadi musibah” bagi warga setempat akibat “perlakuan-perlakuan yang semena-mena”.

“Oleh karena itu, kami minta kepada pemerintah Republik Indonesia, jika kehadiran pangkalan Angkatan Laut yang ada di Melonguane menjadi beban dan menimbulkan rasa ketakutan bagi masyarakat, sebaiknya dicabut penempatannya dari Talaud!” ujarnya disambut sorak para demonstran lain.

Ketegangan sempat berlanjut dengan dilepasnya Kapal AL Pulau Karakelang dari tambatan di Pelabuhan Melonguane. Keadaan baru berubah lebih kondusif setelah kelima pelaku ditahan, disusul mediasi antara tetua adat dengan Lanal Melonguane yang difasilitasi oleh Pemkab Talaud pada Sabtu (24/1/2026).

Komandan Lanal Melonguane Letnal Kolonel Laut (P) Yogie Kuswara menyampaikan permohonan maaf kepada warga Melonguane dan Kepulauan Talaud. “Pada saat ini, oknum-oknum tersebut sedang menjalani pemeriksaan yang intensif oleh polisi militer dan akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Pernyataan Yogie selaras dengan Komandan Kodaeral VIII Dery. Peristiwa itu, ujarnya, menjadi bahan evaluasi serius dalam membina prajurit agar menjadi disiplin, profesional, dan mengedepankan sikap humanis dalam menjalankan tugas di tengah warga sipil.

“Atas nama pemimpin TNI Angkatan Laut, kami tidak [menoleransi] segala bentuk tindakan tidak terpuji dan melanggar hukum yang dilakukan anggota TNI Angkatan Laut,” kata Dery, sembari menegaskan bahwa situasi sudah kondusif setelah tim gabungan polisi dan tantara diturunkan untuk meningkatkan pengamanan.

Baca JugaGuru yang Hukum Murid Duduk di Lantai karena Tak Bayar SPP Diberhentikan Sementara

Selepas konferensi pers itu, Godfried juga mengubah pernyataannya menjadi lebih lunak. Ia menyebut Lanal Melonguane telah merespons dengan baik apa yang menjadi keresahan masyarakat.

“Kami berharap proses ini terus berjalan, terus dilakukan pihak Danlanal sambil masyarakat mengawasi secara langsung. Masyarakat Melonguane dimohon tenang karena masalah ini serius ditangani,” kata dia.

Sementara itu, anggota DPR RI dari Sulut Hillary Brigitta Lasut mengatakan, pihaknya sudah meneruskan laporan konstituennya di Kepulauan Talaud kepada Kepala Staf AL serta Pusat Polisi Militer AL, begitu pula kepada jajaran pimpinan Komisi I DPR RI. Ia mengimbau masyarakat untuk bersikap lebih tenang.

Baca JugaGuru yang Tetap Ikhlas Mendidik Siswa

“Kami berharap masyarakat dapat tetap tenang dan berhati-hati dalam aksi. Kami berharap tidak terjadi demo anarkis karena saat ini sudah ditangani dan sampai ke pusat,” kata dia melalui akun Facebook-nya.

Setidaknya, penganiayaan terhadap Berkam adalah yang kedua kali terhadap guru tahun ini. Pada pertengahan Januari 2026, Agus Sunaryo, seorang guru di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, dikeroyok oleh siswa setelah menampar siswa yang disebut melontarkan kata-kata tak sopan kepadanya.

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bupati Agam minta sawah rusak masuk dampak ekonomi akibat bencana
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Pedagang Daging Sapi Tak Mogok Jualan Lagi, Sepakati Harga Rp 55 Ribu per Kg
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Proof of Reserves (PoR) Adalah: Pilar Transparansi Bursa Kripto 2026
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
AS Nilai Rusia-Ukraina Ambil Langkah Besar Menuju Perdamaian Usai Dialog Abu Dhabi
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Satu Keluarga Korban Longsor Cisarua Ditemukan Saling Berangkulan
• 2 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.