Jembatan Gantung Cipalebuh Garut, Jalan Baru ke Sekolah, Sawah, Tempat Ibadah

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jembatan gantung sepanjang 80 meter dengan lebar 1,20 meter kini terbentang menghubungkan Kampung Punaga Jolok dan Kampung Baru, Desa Mandala Kasih, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut. Kehadiran jembatan gantung ini menjadi jalan baru bagi anak-anak menuju sekolah, petani ke sawah, serta warga untuk beribadah dan beraktivitas di kampung sebelah.

Kepala Desa Mandala Kasih, Iwan Darmawan, menyampaikan bahwa jembatan gantung yang dibangun oleh TNI bekerja sama dengan Vertical Rescue Indonesia (VRI) tersebut telah lama dinantikan masyarakat. Jembatan ini menjadi akses vital bagi warga yang selama bertahun-tahun harus menempuh jalur berisiko atau memutar jauh untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Alhamdulillah sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Mandala Kasih. Jembatan ini penting untuk kepentingan pertanian, perekonomian, kesehatan, dan keagamaan. Bahkan untuk mengurus administrasi ke desa pun jadi lebih cepat, karena sebelumnya harus berjalan hingga tiga kilometer,” ujar Iwan saat ditemui di sekitar jembatan gantung Cipalebuh, dikutip Minggu (25/1).

Sebelum jembatan ini dibangun, warga Kampung Baru yang berada di seberang Kampung Punaga Jolok terpaksa menyeberangi sungai untuk berangkat ke sekolah maupun mengurus administrasi ke kantor desa. Alternatif lainnya adalah berjalan memutar dengan waktu tempuh sekitar satu jam.

“Dulu masyarakat saya kalau mau ke sekolah, mengurus administrasi ke desa, dan kegiatan ekonomi benar-benar terhambat karena harus menyeberang sungai. Alhamdulillah sekarang sudah ada jembatan dan sangat bermanfaat,” lanjutnya.

Iwan menjelaskan, warga Kampung Baru dan Kampung Punaga Jolok sempat terisolasi selama hampir dua tahun akibat jembatan lama rusak tersapu banjir. Kondisi material jembatan sebelumnya juga telah keropos akibat korosi, mengingat wilayah Desa Mandala Kasih berada dekat pantai dengan kadar garam udara yang tinggi.

Jembatan gantung yang baru rampung pada awal Januari 2026 ini dibangun dengan material yang lebih kokoh dan posisi yang lebih tinggi dari permukaan banjir. Jembatan ditinggikan sekitar 1,5 meter guna mengantisipasi debit air sungai yang meningkat saat curah hujan tinggi di wilayah hulu seperti Cikajang dan Cisompet.

“Sekarang jembatan sudah ditinggikan sekitar satu setengah meter. Dulu posisinya lebih rendah,” kata Iwan.

Atas rampungnya pembangunan jembatan tersebut, Iwan menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, Satgas Percepatan Pembangunan Jembatan, serta Vertical Rescue Indonesia (VRI) yang telah membantu membuka kembali akses masyarakat.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Kasad Jenderal Maruli Simanjuntak. Beribu-ribu terima kasih atas pembangunan jembatan ini. Sangat bermanfaat bagi masyarakat kami, khususnya Desa Mandala Kasih,” ujarnya.

Ke depan, Iwan berharap jembatan gantung tersebut dapat ditingkatkan menjadi jembatan permanen yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Hal ini dinilai penting untuk mempermudah pengangkutan hasil pertanian serta menjadi jalur alternatif saat jalur utama Pameungpeuk mengalami kepadatan, terutama pada musim libur dan hari besar nasional.

“Karena kalau ini jalan bisa permanen, kepentingannya banyak. Kalau ada tahun baru, ada kemacetan, atau hari-hari besar bisa lewat sini juga,” ujarnya.

Selamatkan Anak-anak dari Arus Deras

Di Desa Mandala Kasih, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, sungai bukan sekadar bentang alam. Bagi anak-anak sekolah di desa ini, aliran sungai justru kerap menjadi ancaman. Setiap pagi, sebelum jembatan gantung berdiri, mereka harus menyeberangi sungai demi bisa duduk di bangku sekolah.

Babinsa Desa Mandala Kasih, Serka Imat, masih mengingat betul pemandangan itu. Anak-anak berseragam sekolah menunggu air surut, atau nekat menyeberang di antara arus yang kerap berubah ganas.

“Kami agak miris waktu sebelum jembatan didirikan karena anak-anak sekolah harus menyeberang. Seperti yang dilihat, di bawah ada aliran sungai yang menjadi satu. Sungai Cikaso dan Sungai Cipalebuh lalu bermuara di Leuwi Niis, Desa Mandala Kasih, sehingga luapan air yang mengalir dari hulu ke hilir itu cukup besar,” kata Serka Imat saat ditemui di jembatan gantung Cipalebuh, Pameungpeuk, Garut, dikutip Minggu (25/1).

Pertemuan dua sungai tersebut membuat debit air di kawasan itu sulit diprediksi. Ketika hujan turun di wilayah hulu, arus di Mandala Kasih bisa mendadak membesar. Kondisi sungai yang perlahan mendangkal justru memperparah keadaan, karena volume air terus meningkat tanpa ruang tampung yang memadai.

Tak heran, jembatan di lokasi ini berkali-kali tumbang diterjang banjir. “Karena kapasitas air dan juga keadaan sungai yang sekarang sudah mulai mendangkal, sedangkan kapasitas air selalu bertambah. Itu yang menyebabkan kerusakan jembatan di masa yang sudah-sudah,” ujar Serka Imat.

Kini, jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Punaga Jolok RW 09 dan Kampung Baru RW 08 menjadi pembangunan keempat di lokasi tersebut. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 80 meter dan lebar 1,20 meter. Ukurannya mungkin sederhana, tetapi manfaatnya sangat menentukan kehidupan warga.

Pembangunan jembatan kali ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Pengalaman banjir, korosi akibat udara pantai, hingga kegagalan material pada jembatan sebelumnya menjadi pelajaran penting.

Proses pengerjaan melibatkan TNI, relawan, serta warga dari dua kampung. Mereka bekerja sejak pagi hingga dini hari, berpacu dengan cuaca yang tak selalu bersahabat.

Bagi Serka Imat, pembangunan jembatan ini bukan sekadar tugas kedinasan. Ada rasa tanggung jawab sebagai pembina wilayah yang terbayar ketika jembatan akhirnya berdiri dan bisa digunakan masyarakat.

“Saya sebagai pembina Desa Mandala Kasih selalu berkoordinasi dengan pihak desa, terutama dengan Bapak Kepala Desa dan juga Muspika di Kecamatan Pameungpeuk. Alhamdulillah setiap yang kami rencanakan atau kami usulkan bisa terealisasi sehingga kami sangat merasa bangga,” tuturnya.

Kebanggaan itu, kata dia, bukan semata soal rampungnya proyek, melainkan tentang senyum warga yang kembali leluasa beraktivitas. “Bangga sekali karena hasil jerih payah dan juga tenaga yang kami keluarkan bisa terobati dengan adanya kebahagiaan yang diterima oleh warga masyarakat khususnya Desa Mandala Kasih, umumnya Kecamatan Pameungpeuk,” lanjutnya.

Kini, jembatan gantung tersebut kembali dipijak langkah-langkah kecil anak-anak menuju sekolah. Petani tak lagi harus menunggu air surut untuk pergi ke sawah. Nelayan pun lebih mudah menuju muara. Sebuah jembatan sederhana, tetapi menjadi penanda bahwa akses pendidikan dan keselamatan warga tak lagi dipertaruhkan oleh derasnya arus sungai.

Di Mandala Kasih, jembatan gantung ini bukan hanya penghubung dua kampung. Ia menjadi saksi bahwa kehadiran negara, melalui kerja bersama TNI dan masyarakat, mampu mengubah rasa miris menjadi harapan.

Pelajar Tak Lagi Bolos Sekolah karena Terhadang Banjir

Kehadiran Jembatan Gantung di Desa Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut membawa perubahan nyata bagi kehidupan warga, khususnya anak-anak sekolah dan para guru. Akses yang sebelumnya sulit dan berisiko, kini berubah menjadi jalur aman untuk menunjang aktivitas pendidikan serta keseharian masyarakat.

Siti Rohmah, guru SDN 2 Sirnajaya, Kecamatan Cisurupan, merasakan langsung dampak positif pembangunan jembatan tersebut. Guru yang telah mengabdi selama 18 tahun ini setiap hari menyeberang dari Kampung Ciburuy, Desa Cipaganti, menuju sekolah tempatnya mengajar.

“Sejak ada jembatan, alhamdulillah hampir tidak ada lagi anak-anak yang bolos sekolah. Paling yang tidak masuk mah yang sakit saja,” ujar Siti Rohmah ditemui seusai mengajar, Jumat (23/1).

Jembatan gantung ini dibangun pada pertengahan Desember lalu dan rampung sekitar 15 hari kemudian. Warga dari dua desa yang dihubungkan jembatan ini, yakni Desa Sirnajaya dan Desa Cipaganti, bergotong royong bersama TNI dan relawan dari Vertical Rescue Indonesia (VRI), bekerja siang dan malam hingga jembatan tersebut dapat digunakan.

Siti menuturkan, sebelum jembatan dibangun, banyak murid kerap tidak masuk sekolah, terutama saat hujan turun. Mereka harus menyeberangi sungai atau melalui jalan kebun yang licin dan berbahaya, kondisi yang kerap menghambat proses belajar mengajar.

Tak jarang, guru dan murid tiba di sekolah dengan pakaian basah dan kotor setelah menyeberangi sungai. Jika memilih jalur lain, waktu tempuh bisa mencapai hampir satu jam karena kondisi jalan yang rusak dan memutar. Kini, setelah Jembatan Gantung Cisurupan terbangun, akses menuju sekolah menjadi jauh lebih mudah dan aman.

“Kalau ke sana itu nguriling (memutar). Terus harus turun juga kan. Itu jelek jalannya. Mending jalan sini aja, gitu. Lebih cepat. Dari satu jam (sebelum ada jembatan), sekarang 20 menit. Tapi ya kalau jalan kaki mah 5 menit nyampe,” ujar Bu Guru Siti.

Tak hanya berdampak pada dunia pendidikan, jembatan gantung Cisurupan juga mempermudah akses warga menuju lahan pertanian, tempat ibadah, serta aktivitas ekonomi lainnya. Kehadiran jembatan ini membuat warga tidak lagi terisolasi saat cuaca buruk dan mobilitas sehari-hari menjadi lebih lancar.

Siti Rohmah pun menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya kepada pemerintah atas pembangunan jembatan tersebut. “Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Terima kasih banyak. Alhamdulillah, kami dan anak-anak jadi nyaman melewati jembatan ini,” ujarnya.

Kebahagiaan serupa dirasakan Ayu Mila Karmila, siswi kelas 5 SDN 2 Sirnajaya. Ia mengaku senang dengan selesainya pembangunan jembatan tersebut. “Kalau dulu sebelum ada jembatan harus basah-basah. Kalau sekarang, jalan ke sekolah juga lebih cepat. Dulu kan kalau hujan enggak bisa sekolah, kalau sekarang senang tetep bisa sekolah,” kata Ayu.

Ia mengaku beberapa kali terpaksa bolos sekolah saat hujan deras mengguyur kawasan Gunung Papandayan dan air Sungai Cialit meluap. “Kalau sekarang udah enggak pernah bolos lagi karena udah ada jembatan. Terima kasih kepada Bapak Prabowo yang sudah memperbaiki jembatan ini,” sambungnya.

Pembangunan Jembatan Gantung di Desa Sirnajaya, Cisurupan, menjadi bukti infrastruktur dasar berdampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat, khususnya dalam memastikan anak-anak dapat mengakses pendidikan tanpa terhambat kondisi alam dan keterbatasan akses jalan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
16 Jam Digeledah, Dokumen Keungan Hingga Sertifikat Tanah Disita dari Kantor DSI di SCBD
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Mantan Pejabat RI Jualan Beras di Glodok Demi Nafkahi Keluarga
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
TCK Kemenkes kuatkan layanan pascabencana di Kuala Cangkoi, Aceh Utara
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Brimob Polda Metro Salurkan Bantuan Makanan untuk Korban Banjir Bekasi
• 7 jam laludetik.com
thumb
Berusaha Bangkit, Fico Fachriza Akui Sulit Kembalikan Kepercayaan Orang
• 9 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.