FAJAR, JAKARTA — Tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tak hanya meninggalkan duka, tetapi juga kisah pengabdian aparatur negara yang gugur saat menjalankan tugas.
Pemerintah memastikan tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi korban kecelakaan tersebut mendapatkan seluruh hak sebagai bentuk penghormatan negara.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Didit Herdiawan, menegaskan negara tidak akan abai terhadap keluarga korban.
“Semua hak mereka akan kami berikan, baik itu dari Taspen, dari Jiwasraya, dari KKP sendiri, dan lain sebagainya,” kata Didit di Auditorium Madidihang AUP Kelautan dan Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta, Minggu, 25 Januari, dikutip dari Antara.
Pesawat ATR 42-500 bernomor lambung PK THT milik Indonesia Air Transport (IAT) tersebut jatuh pada Sabtu, 17 Januari. Dalam insiden itu, tiga pegawai KKP bersama tujuh kru pesawat dinyatakan gugur.
Tiga ASN KKP yang meninggal dunia yakni Ferry Irawan, Yoga Naufal, dan Deden Maulana. Ferry dan Yoga gugur saat menjalankan misi pengawasan sumber daya perikanan, sementara Deden sebelumnya telah dimakamkan lebih dahulu pada 22 Januari lalu.
Didit menyebut, selain santunan dan asuransi, dua pegawai yang gugur dalam misi operasi akan mendapatkan kenaikan pangkat Anumerta.
“Kami naikkan pangkatnya karena mereka melaksanakan tugas operasi, untuk pelaksanaan kegiatan surveillance (pemantauan),” ujarnya.
Tak hanya itu, keluarga korban juga akan memperoleh jaminan kecelakaan kerja, asuransi personnel on board, serta beasiswa pendidikan bagi anak-anak pegawai KKP yang ditinggalkan.
Ferry Irawan tercatat telah mengabdi selama 18 tahun sebagai PNS di KKP. Sementara Yoga Naufal merupakan tenaga profesional yang terlibat dalam kegiatan operasional pendukung penerbangan dan dokumentasi udara Direktorat Jenderal PSDKP.
Upacara penghormatan dan pelepasan jenazah digelar di Auditorium Madidihang sebagai bentuk penghargaan terakhir negara atas dedikasi para korban.
“Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi kami atas pengabdian mereka dalam menjaga sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia,” tutup Didit.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa di balik tugas pengawasan laut, ada risiko besar yang dihadapi para ASN demi menjaga kedaulatan sumber daya Nusantara. (*)





