Tomas Trucha Samai Rekor Buruk Bernardo Tavares di PSM: Telan 5 Kekalahan Beruntun, tetapi Ini Bedanya!

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR – Kekalahan 0-2 PSM Makassar dari Persijap Jepara di Super League 2025/2026 menorehkan tinta hitam bagi sang pelatih, Tomas Trucha.

Hasil minor di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu(24/1/2026), memastikan Juku Eja menelan 5 kekalahan beruntun.

Sebuah catatan kelam. Menyamai rekor buruk era Bernardo Tavares, namun dengan konteks yang berbeda.

Rentetan hasil buruk Pasukan Ramang di bawah kendali Trucha bermula dari kekalahan atas Malut United. Kemudian berlanjut saat menghadapi Persib Bandung, Borneo FC, Bali United, hingga puncaknya kontra Persijap.

Menanggapi situasi ini, Tomas Trucha tampak berusaha tetap tenang meski mengakui timnya sedang dalam krisis.

“Hasil ini jelas mengecewakan. Namun, fokus kami adalah menatap laga berikutnya,” ujar pelatih asal Republik Ceko tersebut dalam konferensi pers pascalaga.

Trucha menyoroti rapuhnya lini pertahanan yang membiarkan lawan mencetak gol cepat. Menurutnya, koordinasi pemain belakang yang lambat dalam menyapu bola menjadi lubang menganga yang dimanfaatkan Persijap.

Perbandingan Trucha dan Tavares

Meski sama-sama mengoleksi lima kekalahan beruntun, terdapat perbedaan mencolok dalam situasi yang dihadapi kedua pelatih ini.

Tomas Trucha (Musim 2025/2026): Lima kekalahan Tomas Trucha terjadi seluruhnya di kompetisi domestik (Super League). Hal ini membuat posisi PSM di klasemen liga saat ini sangat terancam.

Bernardo Tavares (Musim 2023/2024): Lima kekalahan beruntun Tavares terbagi dalam dua ajang berbeda.
Tiga kekalahan di Liga 1 (melawan Borneo FC, PSIS, dan Madura United) serta dua kekalahan telak di level internasional, yakni Piala AFC (kontra Hai Phong dan Sabah FC).

Kala itu, Tavares berdalih bahwa penurunan performa disebabkan oleh eksodus pemain pilar, sementara Trucha lebih banyak menyoroti faktor teknis di lapangan dan aspek keberuntungan.

Mengapa Trucha Lebih Berbahaya?

Melihat data di atas, situasi PSM Makassar saat ini mengkhawatirkan.

Berbeda dengan Tavares yang fokusnya terpecah antara Asia dan domestik, Trucha murni gagal menjaga konsistensi di liga.

Kekalahan beruntun di liga domestik memberikan dampak psikologis yang lebih berat, karena langsung mempengaruhi posisi tawar tim di klasemen akhir dan ancaman degradasi yang lebih nyata.

Tavares dicirikan dengan hilangnya pemain kunci, yang secara logika teknis sulit diakali dalam waktu singkat. Namun, pada era Trucha, masalah utama yang diakui adalah “kesalahan koordinasi” dan “gol cepat”.

Ini mengindikasikan adanya masalah pada skema latihan atau konsentrasi pemain, yang seharusnya bisa diperbaiki lebih cepat jika manajemen ruang ganti berjalan baik.

Dengan rekor yang kini identik dengan periode terburuk klub dalam tiga tahun terakhir, tekanan publik Makassar akan jauh lebih besar kepada Trucha.

Jika Tavares memiliki “tabungan” prestasi berupa gelar juara Liga 1 2022/2023, Trucha tidak memiliki dukungan emosional yang sama dari suporter. Bisa saja membuat posisinya kini berada di ujung tanduk.(*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dukung Pemulihan Pascabencana, TP PKK Pusat Serahkan Bantuan ke Dusun Sarah Gala, Aceh Timur
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Gerindra DKI Tanya Pemprov: Apa Bisa Banjir Kiriman Dialihkan?
• 13 jam laludetik.com
thumb
Padi Reborn Rayakan 28 Tahun Perjalanan Lewat "Konser Dua Delapan" dengan Panggung 360
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Isak Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Jenazah Farhan Kopilot ATR 42-500
• 10 jam laludetik.com
thumb
3 Skema buat Pengungsi Longsor Bandung Barat: Huntara-Relokasi
• 1 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.