FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Salah satu tokoh Nadhatul Ulama (NU), Umar Hasibuan mengungkapkan rasa kecewanya terhadap keputusan pemerintah terkait isu Palestina.
Ia merasa kecewa karena keputusan penting yang dianggap keliru diambil oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ini soal pernyataan dari sang Presiden yang dinilai lebih menekankan aspek keamanan Israel dibandingkan penderitaan rakyat Palestina.
Lewat cuitan di akun media sosial X pribadinya, Gus Umar menyampaikan sorotan. Yang disorot soal hampir 60 ribu warga Palestina telah dibunuh secara sadis oleh Israel.
Hanya saja, pernyataan Prabowo justru memunculkan kesan keberpihakan yang keliru.
“Sedih ya apa prabowo gak tahu hampir 60 ribu warga palestina dibunuh secara sadis oles israel,” tulisnya dikutip Minggu (25/1/2026).
Soal ketidaktahuan Presiden Prabowo soal jumlah korban dan keputusannya lebih memetingkan keamaan jauh lebih disorot. “Koq bisa dia malah lbh mikir keamanan israel dibanding palestina?,” tuturnya.
Umar pun mempertanyakan soal langkah ini dan apa yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri.
Terutama soal pembahasan dan apa yang jadi masukan dari Menlu sampai pernyataan ini keluar dari Presiden Prabowo
“Ini menlu ksh masukan apa ke prabowo sampai bicara gitu,” terangnya.
Sebelumnya, Indonesia ikut “Board of Peace for Gaza” bikinan Donald Trump. Ini adalah badan bikinan Presiden Amerika Serikat itu sesudah dia klaim bikin perdamaian di Timur Tengah. Presiden Indonesia ikut dalam penandatanganan Accord itu di Kairo tahun lalu.
Demikian sorotan peneliti ISEAS Yosuf-Ishak Institute, Made Supriatma, melalui akun media sosialnya, dikutip Jumat (23/1/2026). Dia mengaku heran dengan sikap Indonesia yang rela membayar belasan triliun di tengah jebloknya nilai tukar rupiah.
Sementara kemarin, rupiah jeblok ke 16,985 per US dollar. Padahal US dollar melemah terhadap mata uang negara lain. “Lalu apa hubungannya rupiah sama Board of Peace itu. Mungkin Anda pikir tidak ada. Atau memang tidak usah dipikir. Lha ya nggak gitu-gitunya lagi. Untuk jadi anggota pendiri Board of Peace itu, oleh Trump negara-negara ini dipatok bayar iuran US$1 milyar. Itu sama dengan Rp16,985 triliun,” urai Made.
Dia kemudian membeberkan bahwa Trump mau bikin Riviera di sana, wilayah pesisir yang indah penuh dengan hotel, night club, kasino, dan lain sebagainya. Mungkin mirip Atlantic City, sebuah kota di New Jersey di mana Trump dulu bangun kasino dan bangkrut (mana ada kasino yang bangkrut?).
“Nah proyek bikin Riviera di Gaza itu akan dipimpin oleh mantunya, Jared Kushner, yang jadi broker banyak hal di Timur Tengah. Kushner kawin sama anaknya Trump, Ivanka,” beber Made.
Ada 60 negara diundang Trump untuk ikut dalam Board of Peace ini. Tidak semua antusias ikut. Banyak negara Uni Eropa tidak ikut. “Inggris juga tidak mau ikut gabung. Bahkan negara tetangga kita yang kaya raya juga mengambil sikap tunggu dan lihat-lihat,” ungkap pria asal Bali itu.
Media Indonesia ramai memberitakan soal keikutsertaan negeri ini. Bahkan ada yang bilang bahwa Trump tepuk-tepuk pundak pemimpin negeri ini. Seakan-akan bilang, “Good boy! Good boy, Indonesia!”. (Erfyansyah/fajar)




