25 Korban Longsor Cisarua Telah Ditemukan, 65 Warga Dilaporkan Masih Hilang

fajar.co.id
20 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, BANDUNG — Puluhan korban longsor Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih menunggu proses pencarian dan evakuasi oeh Tim Search and Rescue (SAR) gabungan.

Dari jumlah warga yang dilaporkan hilang dari bencana longsor tersebut, saat ini Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap sedikitnya 65 korban, yang diduga masih tertimbun material longsor.

Adapun pada hari kedua pencarian korban, Tim SAR Gabungan setidaknya telah menemukan 20 korban. Para korban yang telah ditemukan dan dievakuasi itu selanjukan diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) untuk identifikasi lebih lanjut.

Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian, di Bandung, Minggu, mengatakan pihaknya telah menghentikan pencarian pada hari kedua ini pada pukul 16.00 WIB dan akan melanjutkan pencarian sekitar 65 korban yang masih tertimbun pada esok hari.

“Dari pukul 16.00 WIB, kami menghentikan pencarian karena cuaca yang tidak mendukung (hujan deras) dan akan dilanjutkan besok dan total ada 25 kantong jenazah yang diserahkan kepada pihak DVI Polri,” katanya.

Dia menjelaskan, pencarian hari kedua difokuskan pada area yang sebelumnya sudah terdeteksi adanya korban dengan koordinasi tim SAR gabungan dan masyarakat sekitar untuk mempercepat proses evakuasi.

“Penemuan ada di sektor A dan B, dan kebanyakan di A1, A2, dan B1, sesuai informasi di lapangan. Kami memfokuskan pencarian ke dua area tersebut karena banyak korban longsor berada di area tersebut berdasarkan informasi warga,” ujarnya.

Sementara itu, sebanyak 11 jenazah berhasil diidentifikasi tim DVI dengan rincian 10 jenazah dalam kondisi tubuh yang utuh dan satu jenazah dalam bentuk potongan tubuh.

Korban yang telah teridentifikasi atas nama Suryana (57), Jajang Tarta (35), Dadang Apung (60), Nining (40), Nurhayati (42), Lina Lismayanti (43), A.I. Sumarni (35), Koswara (40), Koswara (26), dan Ayu Yuniarti (31). Sementara satu korban lainnya, M. Kori (30), berhasil diidentifikasi melalui potongan tubuh berupa tangan.

Pada kesempatan tersebut, ia juga memaparkan hambatan longsor susulan menjadi salah satu tantangan dalam proses evakuasi korban hari ini.

“Tadi terjadi longsor susulan karena ada retakan di mahkota longsor sehingga pencarian dihentikan sementara sekitar 30 menit. berdasarkan kajian di lapangan pada pukul 10.30 WIB, dan dilanjutkan pukul 11.00 WIB,” katanya.

Terkait metode pencarian esok hari, Ade Dian menjelaskan, tim SAR akan menambah titik pencarian di area yang sulit dijangkau dan menggunakan alat deteksi tambahan untuk mempercepat proses identifikasi korban.

“Dalam proses pencarian hari kedua ini, kami menurunkan alat berat, besok direncanakan ada tiga tambahan alat berat jadi total ada enam yang dikerahkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, koordinasi dengan pihak DVI akan terus dilakukan agar setiap jenazah yang ditemukan bisa segera diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.

“Kami tetap fokus pada kendala yang ada, di mana faktor cuaca sangat menentukan. Lokasi-lokasi menjadi bahan evaluasi kami,” katanya.

Sementara Badan Geologi Kementerian ESDM mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria menjelaskan bencana gerakan tanah berupa longsor di Desa Pasirlangu, Sabtu (24/1/2025), dipicu curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian.

“Faktor pemicu utamanya adalah curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadinya kegagalan lereng,” ujarnya, dalam keterangannya, yang dikutip di Jakarta, Minggu.

Selain faktor hujan, lanjut Lana, gerakan tanah di Pasirlangu juga dipengaruhi kondisi geologi setempat yang didominasi batuan gunung api tua yang telah lapuk, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah terdampak termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah.

Pada zona ini, gerakan tanah berpotensi terjadi terutama pada lereng yang telah mengalami gangguan, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia, khususnya saat hujan deras berlangsung lama.

Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum optimal, turut memperbesar risiko longsor dan menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut.

“Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas,” jelas Lana.

Pascakejadian, Badan Geologi memberangkatkan tim tanggap darurat (TTD) ke lokasi bencana.

Tim telah melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengetahui penyebab gerakan tanah serta menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas 30 hektare.

“Tim Tanggap Darurat Badan Geologi saat ini sudah berada di lokasi terjadinya tanah longsor. Tim akan melakukan pemeriksaan di lokasi bencana untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya.

Tim yang beranggotakan 10 orang, yang terdiri atas 5 tim teknis dan 5 nonteknis tersebut akan memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah dan sosialisasi mengenai kondisi gerakan tanah yang telah terjadi kepada masyarakat yang terkena bencana sebagai bagian dari mitigasi bencana yang mungkin dapat terulang kembali.

Wilayah terdampak merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup tinggi.

Badan Geologi meminta warga di sekitar lokasi longsor untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Masyarakat yang tinggal di dekat lereng curam diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat dan setelah hujan deras, mengingat potensi terjadinya gerakan tanah susulan masih tinggi,” ujar Lana.

Dalam proses penanganan bencana, Badan Geologi juga mengingatkan agar keselamatan petugas di lapangan menjadi perhatian utama.

“Penanganan longsoran dan pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras, karena daerah ini masih berpotensi terjadi gerakan tanah susulan yang bisa menimpa petugas,” sebut Lana. (fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
DPR Desak Investigasi Penyebab Longsor di Bandung Barat
• 3 jam laluokezone.com
thumb
KSAL: 23 Anggota Marinir Tertimbun Longsor Cisarua, Baru 4 Ditemukan Meninggal
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Badai Salju Terjang AS, 7 Orang Tewas
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Kapolri Sebut 19.105 Fasilitas Layanan Dibangun bagi Kelompok Rentan
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Mulai Senin, 26 Januari 2026, Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP Jadi Segini
• 11 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.