jpnn.com, CISARUA - Proses pencairan dan pertolongan (SAR) korban longsor dan banjir bandang di wilayah Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, masih menghadapi kendala.
Salah satunya ialah sulitnya alat berat masuk dikarenakan kondisi tanah yang masih lembek.
BACA JUGA: 65 Orang Korban Longsor Cisarua KBB Belum Ditemukan
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya (Marsdya) TNI Muhammad Syafii mengatakan, operasi SAR dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel di lapangan.
"Alat berat belum bisa masuk karena kondisi longsoran ini masih dalam bentuk pasir yang bubur pasir sehingga operasi SAR bertahap ini dikoordinir oleh SAR Bandung," kata Syafii di Posko Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, KBB, Minggu (25/1/2026).
BACA JUGA: Mendagri Tito Karnavian Tegaskan Kawasan Longsor Cisarua KBB Tidak Layak Dihuni
Syafii menjelaskan, operasi SAR ini merupakan operasi gabungan yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, termasuk TNI dan Polri di wilayah Jawa Barat.
"Saya sampaikan dalam operasi SAR ini adalah badan SAR nasional dibantu seluruh kementerian lembaga khususnya TNI Polri yang ada di Jabar," jelasnya.
BACA JUGA: 2 Polisi yang Meninggal dalam Operasi Penanggulangan Bencana Longsor Cisarua Dapat Kenaikan Pangkat
Berdasarkan hasil asesmen awal, area longsoran dibagi ke dalam beberapa sektor mulai dari titik mahkota longsor hingga lidah longsoran.
Saat ini, sebanyak 250 personel terlatih dikerahkan langsung dalam operasi SAR, dengan total personel gabungan termasuk unsur pendukung mencapai sekitar 450 orang.
"Sekarang yang tergabung operasi SAR ini ada 250 personel terlatih. Kemudian dalam gabungan operasi termasuk pendukung ada 450 yang terdata," ujarnya.
Dari sisi sarana dan prasarana, operasi SAR melibatkan unsur udara dan darat.
Sebanyak 12 unit drone digunakan untuk pemantauan dari udara, sementara personel darat disiagakan di berbagai sektor yang telah ditentukan.
"Untuk penggunaan sarana dan prasarana, operasi SAR ini ada dua unsur dari udara melibatkan drone yang terdata ada 12 drone, dan darat pakai personel dan alat berat sudah tergelar," tuturnya.
Namun demikian, penggunaan alat berat masih sangat terbatas akibat kondisi tanah yang belum stabil.
Selain itu, unsur pengamanan dan koordinator lapangan terus bekerja secara optimal mengingat adanya laporan korban yang masih belum ditemukan.
"Unsur terlibat di lapangan dari koordinator sampai unsur pengamanan akan bekerja optimal agar bisa menemukan seluruh korban ini di mana informasi ini ada sekitar 80 orang," ungkapnya.
Untuk mempercepat proses pencarian, tim SAR juga akan mengerahkan anjing pelacak (K9) dari TNI dan Polri. Upaya modifikasi cuaca pun telah dilakukan dengan koordinasi pemerintah pusat melalui BNPB.
"Hari ini juga ada K9 dari TNI dan Polri akan dikerahkan dalam membantu proses penemuan korban dan mudah-mudahan cuaca bisa membantu. Sudah modifikasi cuaca dan langsung dalam koordinator pemerintah dalam hal ini BNPB," tutur Syafii.
Ia menambahkan, peristiwa longsor dan banjir bandang ini telah ditetapkan sebagai bencana hidrometeorologi dan masuk dalam klaster disaster nasional. (mcr27/jpnn)
Redaktur : Budianto Hutahaean
Reporter : Nur Fidhiah Sabrina




