FAJAR, MAKASSAR — Musim ini benar-benar kelabu bagi PSM Makassar. Lima kekalahan beruntun bukan sekadar deret angka di papan klasemen, melainkan potret telanjang dari krisis yang lebih dalam. Dan krisis itu tidak lahir kemarin sore.
Jauh sebelum Tomas Trucha duduk di bangku pelatih, ruang ganti PSM sudah pengap. Bernardo Tavares pergi bukan tanpa sebab. Ia lelah. Gaji menunggak, janji perbaikan yang tak pernah ditepati, serta komunikasi manajemen yang mandek. Semua nihil. Tidak ada perubahan, tidak ada solusi.
Tavares hengkang. Namun ironisnya, kepergian itu tak juga menjadi alarm bagi manajemen. Kesalahan yang sama diulang dengan wajah berbeda.
Tomas Trucha datang membawa harapan. Tiga laga awal sempat memberi ilusi kebangkitan. Namun setelah itu, PSM kembali lunglai. Empat kekalahan beruntun di akhir putaran pertama seharusnya menjadi momentum evaluasi total—saatnya tancap gas, bukan menginjak rem.
Di titik inilah peran manajemen semestinya hadir. Cari pemain sesuai kebutuhan pelatih. Perkuat sektor yang rapuh. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
PSM kembali tersandung masalah lama: sanksi FIFA dan larangan transfer. Bukan hanya gagal mendatangkan pemain, aktivitas bursa justru dipenuhi kabar miris. Pemain incaran direbut klub lain. Bahkan, ada pemain yang secara terbuka ingin hengkang. Kepercayaan runtuh. Otoritas goyah.
Puncaknya, PSM masuk laga dengan skuad seadanya. Tidak ada darah baru. Tidak ada kejutan. Hanya pemain yang dipaksa bertahan di tengah keterbatasan.
Kekalahan Kelima: Luka yang Dibuka Lebar
Penderitaan PSM berlanjut di awal putaran kedua Super League 2025/2026. Bertandang ke Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Sabtu (24/1/2026) malam, Pasukan Ramang kembali tumbang 0-2 dari Persijap Jepara. Kekalahan ini memperpanjang catatan buruk menjadi lima kali beruntun.
Dua gol Persijap—Carlos Henrique França Freires (menit 4) dan Iker Guarrotxena (menit 61)—lahir dari kekacauan koordinasi lini belakang PSM.
Gol cepat di menit ke-4 langsung menjatuhkan mental. Sapuan Victor Luiz membentur Akbar Tanjung, bola liar gagal diamankan sempurna, dan Carlos França menghukum kelengahan itu. Sebuah gol yang mencerminkan kondisi PSM saat ini: panik, lambat, dan tidak siap.
Persijap nyaris menambah gol lewat Alexis Gómez yang membentur mistar. Sementara PSM mencoba merespons melalui sayap, tetapi penyelesaian akhir tetap tumpul.
Insiden kartu merah Yuran Fernandes di menit ke-39—yang kemudian dianulir VAR—menjadi gambaran lain betapa rapuhnya konsentrasi lini belakang. Kapten tim pun ikut terseret dalam kekacauan.
Lima Kekalahan, Dua Era, Satu Akar Masalah
Lima kekalahan beruntun ini menorehkan tinta hitam bagi Tomas Trucha. Namun menyederhanakan masalah dengan menyalahkan pelatih semata adalah jalan pintas yang menyesatkan.
Catatan ini memang menyamai rekor buruk era Bernardo Tavares, tetapi konteksnya berbeda—dan justru itu yang mengkhawatirkan.
Tomas Trucha (2025/2026):
Lima kekalahan seluruhnya di Super League. Dampaknya langsung: posisi PSM di klasemen terancam, kepercayaan publik runtuh.
Bernardo Tavares (2023/2024):
Lima kekalahan terbagi di dua ajang—Liga 1 dan Piala AFC—dengan skuad yang relatif lebih kompetitif dan tantangan berbeda.
Trucha tetap mencoba tenang.
“Hasil ini mengecewakan, tapi kami fokus ke laga berikutnya,” ujarnya singkat.
Ia menunjuk rapuhnya koordinasi lini belakang sebagai masalah utama. Namun pertanyaan besarnya: bagaimana memperbaiki koordinasi tanpa materi pemain yang memadai?
Manajemen di Persimpangan
PSM Makassar kini berada di persimpangan berbahaya. Menyalahkan pelatih adalah opsi termudah. Tapi akar masalahnya jelas dan berulang: manajemen yang gagal belajar dari krisis.
Tanpa transparansi, tanpa perbaikan finansial, tanpa keberanian mengambil keputusan strategis, siapa pun pelatihnya akan berakhir sama.
Lima kekalahan beruntun ini bukan hanya alarm. Ini sirene darurat.
Dan kali ini, manajemen PSM tak lagi punya ruang untuk bersembunyi.




