JAKARTA, KOMPAS.com – Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yus Budiyono menyebutkan, banjir yang melanda Jakarta sejak Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026) menunjukkan perubahan pola banjir di ibu kota.
Yus menyebutkan, dominasi banjir kini tidak lagi hanya berasal dari luapan sungai atau banjir kiriman dari daerah hulu, melainkan akibat hujan ekstrem yang turun langsung di wilayah Jakarta.
“Banjir di Jakarta kini menunjukkan pola berbeda dibandingkan tahun 2002, 2007, dan 2013. Dulu dominan banjir fluvial akibat luapan sungai dari hulu, sekarang hujan ekstrem lokal menjadi penyebab utama,” kata Yus saat dihubungi Kompas.com, Minggu (25/1/2026).
Baca juga: Update Banjir Jakarta Minggu Siang: 9 RT Masih Terendam, 276 Warga Mengungsi
Pola serupa terjadi pada bulan Maret, Juli, dan Oktober 2025, serta Januari 2026, ketika monsun basah melanda hampir seluruh Pulau Jawa.
Menurut Yus, langkah mendesak untuk menekan risiko banjir jangka pendek adalah pengelolaan wilayah melalui sistem polder lebih kecil.
Rencana ini telah tertuang dalam RUTR 2030 dan Perda Nomor 1 Tahun 2012 di mana Jakarta Utara akan dibagi menjadi 66 polder, tetapi belum diwujudkan.
“Dengan polder kecil, pengelolaan menjadi mosaik dan lebih mudah teknisnya. Setiap polder idealnya memiliki kolam retensi dan pompa untuk mengalirkan air ke sungai utama,” ujar Yus.
Selain itu, pemeliharaan drainase perkotaan menjadi kunci.
Baca juga: Peneliti BRIN Ungkap Kunci Tekan Risiko Banjir Jakarta Barat
Drainase harus sesuai standar, memiliki return period tepat, dan bebas dari sampah atau sedimentasi agar berfungsi optimal saat hujan ekstrem.
Dalam jangka menengah, pemerintah perlu menyelesaikan penyediaan air baku untuk Jakarta, ditargetkan 100 persen terpenuhi pada 2029.
Pencapaian ini akan menekan pengambilan air tanah berlebihan, sehingga land subsidence dapat dikendalikan.
“Jika air baku tersedia, mulai 2030 persoalan penurunan muka tanah akan lebih mudah dikendalikan,” kata Yus.
Baca juga: Pramono Klaim Banjir Jakarta Telah Surut: Tetangga Belum Semua
Yus melanjutkan, masyarakat juga perlu bersiap untuk hidup berdampingan dengan air.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan mitigasi untuk menjauhkan air, tapi harus belajar hidup berdampingan, terutama saat musim hujan,” ujar dia.
Ia juga mengingatkan dampak perubahan iklim yang nyata, termasuk hujan ekstrem dan kenaikan temperatur global.



