Setelah melakukan facial, kulit memang terasa lebih segar, lembap, dan glowing. Tak heran jika banyak orang menjadikannya sebagai ritual rutin demi menjaga kesehatan kulit. Namun, seberapa sering kita boleh melakukan facial?
Dermatolog asal Amerika Serikat, dr. Anetta Reszko, menjelaskan bahwa kulit memiliki siklus regenerasi alami yang perlu diperhatikan.
“Sel kulit beregenerasi sekitar setiap empat minggu. Facial yang terlalu sering justru bisa mengiritasi dan merusak skin barrier,” ujarnya.
Tak hanya itu, sebenarnya konsistensi dalam facial lebih penting dibanding frekuensi berlebihan. Hal ini terjadi karena facial harusnya mendukung proses alami kulit, bukan memaksanya bekerja terlalu keras.
Apa Itu Facial dan Mengapa Banyak Digemari?Facial adalah perawatan kulit non-invasif yang biasanya dilakukan oleh estetikawan atau dermatolog. Prosesnya mencakup pembersihan, eksfoliasi, ekstraksi, hidrasi, hingga pijatan wajah yang disesuaikan dengan kondisi kulit.
Manfaatnya bukan hanya membuat kulit tampak lebih cerah, tetapi juga membantu membersihkan pori-pori, meningkatkan tekstur kulit, dan memaksimalkan penyerapan skincare. Karena hasilnya sering terlihat instan, facial kerap dianggap solusi cepat untuk kulit kusam atau bermasalah.
Manfaat Facial yang Perlu DipahamiFacial yang tepat dapat membantu mengatasi berbagai kondisi kulit. Mulai dari kulit kering, berminyak, hingga acne-prone. Selain itu, perawatan ini juga membantu melancarkan sirkulasi darah dan mendukung kesehatan kulit secara menyeluruh.
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa manfaat facial bukan berarti bisa dilakukan sesering mungkin. Kulit tetap membutuhkan waktu untuk pulih dan memperkuat lapisan pelindung alaminya setelah perawatan.
Seberapa Sering Facial Sebaiknya Dilakukan?Berdasarkan siklus regenerasi kulit, para dermatolog menyarankan facial dilakukan setiap empat hingga enam minggu sekali. Jadwal ini dinilai ideal untuk menjaga kesehatan kulit tanpa meningkatkan risiko iritasi.
Facial yang dilakukan terlalu sering, terutama dalam jarak waktu kurang dari empat minggu, dapat menyebabkan skin barrier melemah. Akibatnya, kulit justru menjadi lebih sensitif, mudah kemerahan, dan rentan breakout.
Apakah Semua Jenis Facial Punya Jadwal yang Sama?Tidak semua facial memiliki frekuensi yang sama. Facial dasar atau hidrasi umumnya aman dilakukan sebulan sekali. Sementara facial dengan chemical peel sebaiknya diberi jarak lebih panjang, sekitar dua hingga tiga bulan.
Untuk facial yang berfokus pada jerawat, dermatolog bisa merekomendasikan jadwal lebih rutin, namun tetap dalam pengawasan profesional. Kuncinya adalah menyesuaikan jenis facial dengan kebutuhan kulit, bukan mengikuti tren semata.
Pentingnya Konsultasi Sebelum FacialTak semua facial cocok untuk tiap jenis kulit. Oleh karena itu, kita harus memilih perawatan yang tepat sesuai kondisi kulit. Untuk mengetahuinya, kita bisa melakukan analisis kulit yang ditangani oleh profesional agar jadwal dan jenis perawatannya sesuai.
Facial yang tepat dan dilakukan di waktu yang pas akan membantu kulit tetap sehat dan seimbang. Sebaliknya, terlalu sering bereksperimen tanpa panduan ahli justru bisa menimbulkan masalah baru.





