Bagi banyak Muslim, Juz 30 adalah bagian Al-Qur’an yang paling akrab. Ayat-ayatnya pendek, ritmenya cepat, dan sering terdengar dalam salat. Namun, ada satu pertanyaan yang kerap muncul: mengapa Juz 30 disebut Juz ‘Amma, padahal nama itu bukan nama surat dalam Al-Qur’an?
Jawabannya membawa kita pada tradisi keilmuan Islam yang panjang dan penuh makna.
Dalam Al-Qur’an, penamaan juz tidak didasarkan pada tema besar atau isi kandungan, melainkan pada kata pertama yang paling menonjol di awal juz tersebut. Juz 30 dibuka dengan Surah An-Naba’, yang ayat pertamanya berbunyi: “‘Amma yatasā’alūn”—“Tentang apakah mereka saling bertanya?”
Dari kata ‘Amma itulah para ulama kemudian menyebut bagian ini sebagai Juz ‘Amma. Penamaan ini bukan istilah modern, bukan pula produk kebiasaan lokal, melainkan tradisi ulama sejak berabad-abad lalu sebagai penanda dan alat bantu hafalan.
Menariknya, kata ‘Amma sendiri bukan kata biasa. Ia adalah bentuk pertanyaan besar. Sebuah pembuka yang langsung mengajak manusia berhenti sejenak dan berpikir: tentang apa sebenarnya hidup ini dipertanyakan?
Dan memang, jika ditelusuri lebih jauh, isi Juz 30 dipenuhi pertanyaan-pertanyaan paling mendasar dalam eksistensi manusia. Tentang hari kebangkitan. Tentang surga dan neraka. Tentang perhitungan amal. Tentang makna hidup dan konsekuensi dari setiap pilihan.
Inilah sebabnya Juz ‘Amma terasa “nendang”. Ayat-ayatnya pendek, tegas, dan tidak bertele-tele. Bahasanya lugas, ritmenya cepat, seolah tidak memberi ruang bagi kelalaian. Targetnya bukan sekadar akal, tetapi hati manusia yang sering lupa arah.
Juz ‘Amma bisa diibaratkan seperti alarm keras sebelum bangun tidur. Ia tidak bertugas menenangkan, tetapi membangunkan. Mengguncang kesadaran bahwa hidup bukan hanya soal hari ini, melainkan tentang apa yang menunggu setelahnya.
Yang unik, meskipun isinya berat dan penuh peringatan, Juz 30 justru menjadi bagian pertama yang diajarkan kepada anak-anak. Ini bukan kebetulan. Sebelum manusia diajak pada ilmu yang rumit, perdebatan yang kompleks, atau hukum yang detail, Allah menanamkan fondasi paling dasar: iman, rasa takut yang sehat, dan harapan.
Pesan-pesan tentang akhirat ditanamkan lebih dulu, agar sejak awal manusia paham bahwa hidup memiliki tujuan dan batas.
Tak heran jika Juz ‘Amma juga sering disebut sebagai juz pengingat terakhir. Letaknya di akhir mushaf, namun pesannya seperti ringkasan besar Al-Qur’an. Seolah Allah berkata, “Jika kamu lupa banyak hal, jangan lupa ini: hidup akan dipertanggungjawabkan.”
Karena itu pula, Juz ‘Amma menjadi bagian yang paling sering dibaca dalam salat. Pesan tentang akhirat tidak cukup dibaca sekali lalu selesai. Ia perlu diulang, diingatkan, dan dihidupkan kembali setiap hari.
Agar hidup kita tidak hanya lancar di dunia, tetapi juga selamat sampai akhir.





