Pemimpin atau Sekadar Mandor?

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Davos di Swiss, 19-23 Januari 2026, menjadi arena perjumpaan pemimpin korporasi dan negara tingkat dunia. Sayangnya, gemanya ibarat mengiris keju Swiss lalu dioles di atas tahu bulat digoreng dadakan. Tampak ironi besar di sini. Gebyar perjumpaan di Davos hampir tidak melahirkan dampak berkelanjutan bagi mereka yang tinggal di gang-gang becek yang apesnya sekarang lagi kebanjiran. Genangan air luapan sungai Ciliwung dan Cisadane setinggi 60-100 cm mungkin tidak lebih dari sekadar cheesy dessert di pinggan peserta Davos, hanya sesaat menarik lalu segera dilupakan.

Saat ini, kita memiliki lebih banyak pelatihan kepemimpinan daripada sejarah manusia sebelumnya, namun kita mengalami kelangkaan figur yang benar-benar bisa dipercaya. Kita memiliki GPS kinerja yang sangat presisi, namun kehilangan arah tujuan yang hakiki. Mengapa semakin efisien sebuah birokrasi, justru semakin jauh ia dari amanah mewujudkan keadilan? Jawabannya sederhana tapi pahit: karena kita terlalu sibuk memoles angka dan lupa mengasah jiwa. Tanpa asupan filosofi, seorang pemimpin hanyalah seorang mandor dengan gelar segambreng. Tampak mentereng tapi berfungsi hanya 'kayak centeng.'

Kepuasan (customer delight) bukan ukuran sukses kepemimpinan

Di banyak organisasi modern, kepuasan sering dijadikan tolok ukur utama keberhasilan kepemimpinan. Selama pelanggan senang, karyawan merasa nyaman, dan survei menunjukkan angka yang tinggi, pemimpin dianggap berhasil. Masalahnya, kepuasan adalah perasaan yang mudah berubah. Hari ini puas, besok kecewa. Aristoteles sudah lama mengingatkan bahwa perasaan bukan kompas yang dapat diandalkan untuk menentukan apa yang benar-benar baik.

Kajian terkini tentang kepemimpinan berbasis traktat filsafat klasik dan modern (Reynolds dkk., 2019; Sułkowski dkk., 2024) menunjukkan hal yang serupa: pemimpin yang serius justru tidak selalu membuat semua orang senang. Keputusan yang penting sering kali tidak nyaman, bahkan menimbulkan resistensi, terutama dalam jangka pendek. Di situlah justru letak marwah kepemimpinan. Bukan menjaga suasana tetap nyaman, melainkan memastikan organisasi bergerak ke arah yang benar dan berkelanjutan.

Pemimpin yang visioner memahami bahwa tujuan kepemimpinan bukan sekadar menciptakan dan menjaga customer delight, tetapi membantu orang dan organisasi bertumbuh. Pertumbuhan jelas menuntut kedewasaan, kemampuan, dan keberanian menghadapi ketidaknyamanan.

Kepuasan memang acapkali efek samping, tapi jelas bukan tujuan utama. Ukuran kepemimpinan yang lebih masuk akal adalah apakah keputusan yang diambil benar-benar membangun manusia dan komunitasnya, bukan sekadar membuat semuanya "puas, puas dan puas."

SOP tidak menggantikan penilaian

Zaman purba sudah memahami bahwa kebajikan terletak di tengah-tengah, bukan di zona aman. Aristoteles mengajarkan Jalan Tengah (The Golden Mean) yang memunculkan keutamaan keberanian (andreia) sebagai jalan tengah di antara kenekatan dan ketakutan. Hari ini, birokrasi kita sering terjebak dalam aturan baku yang membunuh kreativitas. Contoh konkret berikut menggambarkan hal di atas.

Guru di banyak sekolah Indonesia, juga dosen di universitas, lebih takut salah mengisi laporan (borang) daripada mengajarkan siswa untuk berpikir kritis dan tidak tergantung pada asupan hasil olahan pembelajaran mesin (LLMs). Pemimpin sejati memahami bahwa keputusan yang bijak bukanlah yang paling populer atau aman, tetapi yang paling adil, berdampak sosial, dan berkelanjutan.

Pemimpin tidak mengintimidasi

Pengaruh sejati tidak berasal dari otoritas formal, tetapi dari tindakan nyata yang konsisten. Plutarch menulis bahwa pemimpin sejati mempengaruhi melalui teladan, bukan melalui ancaman. Ketika John F. Kennedy berpidato tentang perlunya mengendalikan senjata nuklir, pengaruhnya bukan karena kedudukannya sebagai presiden, tetapi karena keberaniannya menyuarakan perdamaian di tengah ketegangan Perang Dingin.

Di Indonesia, kita sering melihat pemimpin terpilih yang tidak memiliki moral authority. Mereka kehilangan legitimasi dan kepercayaan konstituen karena tidak berhasil merawat power, yaitu menjaga satunya kata dan perbuatan (Arendt, 1958).

Kolaborasi bukan kelemahan, tapi modalitas etis

Dunia organisasi sering terperangkap dalam mentalitas "satu tim melawan dunia." Filosofi Buddhis menawarkan visi alternatif: semua makhluk saling terhubung. "Keajaiban Malbec" di Argentina adalah bukti nyata https://borgenproject.org/the-malbec-miracle/.

Para petani anggur yang awalnya saling bersaing akhirnya bekerja sama, meningkatkan kualitas dan reputasi bersama. Di tengah budaya korporasi yang mengagungkan persaingan internal, pemimpin visioner memahami bahwa strategi sejati adalah strategi di mana keberhasilan individu juga merupakan keberhasilan kolektif.

Pemimpin yang empatik

George Soros, melalui filosofi human fallibility, menyatakan bahwa manusia secara inheren bisa keliru. Kepemimpinan yang kokoh bukan yang tampak sempurna, melainkan yang terbuka terhadap kritik dan mengakui kesalahannya. Di Jepang, budaya hansei (refleksi diri) membuat manajer yang mengaku salah justru dipromosikan karena ketekunannya memperbaiki sistem.

John Rawls (1971) menambah dimensi etis dalam prinsip kepemimpinan yang empatik. Seorang pemimpin harus mampu membayangkan dirinya berada di posisi paling malang dalam masyarakat saat mengambil keputusan. Apakah kebijakan ini tetap adil jika saya bukan lagi seorang pemimpin, melainkan warga yang paling terpinggirkan?

Dari administrator menjadi pemelihara jiwa

Krisis kepemimpinan modern juga berarti krisis filosofis. Kita telah menghasilkan banyak administrator, mereka yang ahli mengisi formulir dan memenuhi target, tetapi sedikit pemimpin yang tlaten memelihara jiwa organisasi dengan berpikir kritis. Dalam terminologi filsafat, berpikir kritis bukan lagi sekadar prasyarat akademik, melainkan bentuk perlawanan senyap untuk menjaga pengetahuan tetap embodied, bermakna, dan berdampak (Putranto, 2026).

Kepemimpinan sejati pun harus demikian: bukan output, tapi komitmen teguh mewujudkan kebaikan bersama. Mencapai kebaikan bersama (bonum communae) itulah yang dijaga dengan berpikir kritis dan kerja gotong royong.

Di tengah deru algoritma dan indikator kinerja, filosofi bukanlah kitab tua yang usang, melainkan kompas moral yang menuntun kita kembali pada esensi kepemimpinan sejati. Artinya, kepemimpinan yang tidak hanya efisien, tetapi juga bijaksana; tidak hanya populer, tetapi juga adil; tidak hanya kuat, tetapi juga berani menjadi rentan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Mengapa RJ Kasus Suami Bela Istri Baru Berhasil di Kejaksaan? Pengacara Beberkan Hambatannya
• 22 menit lalusuara.com
thumb
Solo Run Berujung Gol, Rachmat Irianto Kunci Kemenangan Persebaya Atas PSIM
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Waspada! JPO Daan Mogot Cengkareng Rusak, Pelat Besi dan Pijakan Tangga Hilang | SAPA PAGI
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Perkenalan Pemain Hingga Gunakan Ban Hitam, Sore Ini Persib Jamu PSBS di Stadion GBLA
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Aplikasi Gratis Mulai Cari Uang, Begini Taktiknya
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.