Prospek Ekonomi Dunia 2026 Masih Suram, Ini Peringatan World Economic Forum

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Perekonomian global diperkirakan menghadapi tahun yang penuh tekanan pada 2026 meskipun tingkat kepercayaan mulai menunjukkan perbaikan terbatas.

Gambaran tersebut tercermin dalam laporan Chief Economists’ Outlook terbaru yang dirilis World Economic Forum pada bulan ini.

Survei tersebut menunjukkan mayoritas ekonom utama dunia masih melihat risiko pelemahan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

Sebanyak 53 persen kepala ekonom memperkirakan kondisi ekonomi global akan melambat, sementara hanya 19 persen yang melihat peluang pertumbuhan lebih kuat.

Sebagian lainnya, sekitar 28 persen, menilai situasi ekonomi dunia cenderung stagnan tanpa perubahan berarti.

“53 persen kepala ekonom memperkirakan kondisi ekonomi global akan melemah, 28 persen memperkirakan tidak ada perubahan, dan 19 persen memperkirakan ekonomi menguat, prospek ekonomi dunia pada tahun mendatang cenderung mengarah ke negatif, meskipun sentimen membaik dibandingkan outlook tahun lalu,” tulis laporan tersebut.

World Economic Forum mencatat perbaikan sentimen dibandingkan tahun sebelumnya belum cukup kuat untuk mengubah arah risiko secara keseluruhan.

Tekanan utama terhadap prospek global masih datang dari tingginya tingkat utang di banyak negara.

Lonjakan harga aset dan ketegangan geopolitik yang belum mereda turut memperbesar ketidakpastian.

Sengketa dagang dan pergeseran aliansi ekonomi juga terus mengubah pola investasi dan rantai pasok internasional.

Di tengah risiko tersebut, pasar keuangan justru tetap menunjukkan performa solid, terutama di Amerika Serikat.

Saham-saham yang terkait dengan pengembangan kecerdasan buatan tercatat mengalami kenaikan tajam.

Namun, kalangan ekonom belum sepakat mengenai keberlanjutan valuasi tinggi tersebut.

Sebagian memperingatkan potensi terbentuknya gelembung aset yang dapat berujung pada koreksi pasar secara tiba-tiba.

Kelompok lainnya menilai perusahaan teknologi saat ini memiliki struktur pendanaan dan profitabilitas yang lebih kuat dibandingkan periode krisis sebelumnya.

Pada saat yang sama, aset lindung nilai seperti emas kembali diminati sebagai instrumen perlindungan di tengah ketidakpastian global.

Masalah utang menjadi perhatian utama bagi pemerintah dan dunia usaha di berbagai negara.

Akumulasi pinjaman publik dan swasta dalam beberapa tahun terakhir memaksa pembuat kebijakan menghadapi pilihan fiskal yang semakin terbatas.

Belanja untuk sektor pertahanan, infrastruktur digital, dan energi diperkirakan akan terus meningkat.

Sebaliknya, anggaran untuk pendidikan, perlindungan sosial, dan program lingkungan berpotensi menghadapi tekanan.

Di bidang perdagangan, perekonomian global juga bergerak menuju pola yang lebih terfragmentasi.

Negara-negara semakin mengandalkan perjanjian bilateral dan regional untuk mengamankan akses terhadap sumber daya strategis dan teknologi penting.

Perubahan tersebut diperkirakan menciptakan peluang bagi sebagian kawasan, namun sekaligus menimbulkan tekanan bagi wilayah lain.

Proteksionisme dan ketidakpastian kebijakan menjadi faktor yang dapat memperlebar kesenjangan antarnegara.

Baca Juga: Tanggapan Pemerintah Soal IMF Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% pada Tahun 2026

Dalam laporan yang sama, kecerdasan buatan disebut sebagai peluang besar sekaligus sumber disrupsi baru bagi ekonomi dunia.

Para ekonom memperkirakan teknologi ini akan mendorong produktivitas dalam jangka panjang. Namun, manfaat tersebut diprediksi tidak akan terdistribusi secara merata.

Adopsi AI berlangsung lebih cepat di negara maju dan perusahaan besar. Sementara itu, pelaku usaha kecil dan kawasan berkembang diperkirakan tertinggal dalam pemanfaatan teknologi tersebut. Dampak AI terhadap pasar tenaga kerja pun masih dinilai belum pasti.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kependekan atau Pas? Persib Cuma Kontrak Layvin Kurzawa Setengah Musim, Dion Markx 2,5 Tahun
• 1 jam lalubola.com
thumb
Ini Cara Pramono Atasi Masalah Banjir yang Masih Mengancam di Pekan Ini
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KSAL Benarkan 23 Prajurit Marinir Jadi Korban Longsor Cisarua, 4 Gugur, 19 Hilang
• 17 menit lalukompas.com
thumb
Kapolri Tegas Tolak Polri di Bawah Kemendagri: Saya Dicopot Saja, Lebih Baik Jadi Petani
• 57 menit laluliputan6.com
thumb
Pencarian Korban Longsor Cisarua Hari Ketiga, SAR Kerahkan 9 Alat Berat dan 12 Anjing K-9
• 2 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.