Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.838 per Jumat, 23 Januari 2026. Posisi rupiah itu menguat 64 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.902 pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 26 Januari 2026 hingga pukul 09.04 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.781 per dolar AS. Posisi itu menguat 39 poin atau 0,23 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.820 per dolar AS.
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, International Monetary Fund (IMF) meminta Bank Indonesia (BI) untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi rupiah di pasar valuta asing, seraya menegaskan nilai tukar rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah tingginya ketidakpastian global.
IMF menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. Artinya secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar, dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru.
Dalam kondisi tersebut, BI menerapkan intervensi valuta asing atau foreign exchange intervention (FXI) untuk mengelola volatilitas nilai tukar. IMF mencatat, intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen mulai dari pasar spot valuta asing, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri. Namun, IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur.
Di sisi lain, IMF juga menekankan bahwa upaya stabilisasi nilai tukar tidak boleh menghambat penyesuaian fundamental yang diperlukan, serta harus mempertimbangkan kebutuhan menjaga kecukupan cadangan devisa di tengah lingkungan eksternal yang rawan guncangan.
IMF menilai posisi cadangan devisa Indonesia saat ini tetap memadai dan menyambut baik langkah otoritas dalam mengisi kembali cadangan ketika tekanan eksternal mulai mereda.
Seiring dengan itu, IMF juga menyoroti arah kebijakan moneter BI yang dinilai sudah tepat. BI tercatat telah menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin sebanyak enam kali, sejak siklus pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dimulai pada September 2024 hingga September 2025. Sehingga suku bunga acuan berada di level 4,75 persen, di tengah pertumbuhan kredit yang masih lemah.




