Bisnis.com, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali bakal menjadikan sejumlah kawasan sebagai zona kendaraan listrik sebagai upaya mempercepat transisi energi bersih dan menjadikan Bali sebagai pelopor ekonomi hijau.
Gubernur Bali, Wayan Koster menjelaskan di sejumlah kawasan pariwisata akan ada zonasi kendaraan listrik, sesuai dengan program percepatan penggunaan kendaraan listrik.
"Zonasi ini bisa kami gerakkan dan dorong. Bisa kami mulai dari zonasi kendaraan listrik awal di Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua dan Nusa Penida. Nusa Penida itu akan dibuat sebagai green island. Bupati Klungkung sudah siap dan mendukung rencana kebijakan ini,” jelas Koster dikutip, Senin (26/1/2026).
Untuk mencapai target realisasi, Koster mendorong agar infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum SPKLU harus memadai. Kampanye harus terus dilakukan dan melibatkan komunitas masyarakat. Selain itu, Koster berharap ada momen atau kegiatan yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha dan pengguna sebagai ajang promosi guna mendukung kebijakan penggunaan kendaraan listrik di Bali.
“Dengan menggunakan kendaraan listrik, masyarakat akan lebih hemat dan efisien. Tidak perlu beli bensin, tidak perlu ganti oli, servisnya juga lebih ringan,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Retail dan Niaga PT. PLN (Persero) Adi Priyanto menjelaskan perencanaan infrastruktur kendaraan listrik telah dimasukkan ke dalam RUPTL dan RJPP PLN.
Baca Juga
- Purbaya Kaji Menyeluruh Insentif Kendaraan Listrik, Bakal Lanjut 2026?
- Hasil Studi, Transisi Kendaraan Listrik Mencegah 36 Persen Kematian Dini
- Bali Jadi Pangsa Pasar Menarik bagi Kendaraan Listrik
“PLN berkomitmen untuk terus meningkatkan jumlah infrastruktur charging secara signifikan melalui inovasi berkelanjutan, sehingga menjadi episentrum pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi melalui PLN Mobile sehingga pengguna EV menjadi lebih mudah dan nyaman dalam satu genggaman," jelas Prayitno.
PLN mencatat jumlah mobil listrik rata-rata tumbuh 2,5 kali tiap tahunnya dalam tiga tahun terakhir, jumlahnya mencapai 175.000 unit hingga tahun 2025. Hal ini didorong oleh berbagai insentif dari pemerintah baik kepada produsen maupun pengguna kendaraan listrik serta semakin banyaknya variasi brand dan harga yang semakin kompetitif mengakibatkan tren positif dalam adopsi penggunaan kendaraan listrik oleh masyarakat.
“Konsumsi energi kendaraan listrik di Provinsi Bali didominasi oleh home charger sebesar 55% (2,24 GWh), sedangkan SPKLU menyumbang 45% (1,82 GWh). Pola ini menunjukkan home charger menjadi pilihan utama untuk kebutuhan harian, sementara SPKLU berperan strategis dalam mendukung mobilitas dan pariwisata. Keseimbangan pengembangan keduanya menjadi kunci keberlanjutan ekosistem EV di Bali,” kata Prayitno.




