FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, meluruskan berbagai tafsir yang berkembang di ruang publik terkait pernyataannya dalam dua siniar atau podcast yang belakangan ramai dikutip sejumlah media.
Ia menegaskan, penggalan pernyataan yang diangkat sebagai judul pemberitaan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Alasannya, karena tidak mencerminkan keseluruhan konteks pembahasan.
Dalam dua podcast tersebut, Ahmad Ali menjelaskan bahwa dirinya secara konsisten bicara mengenai hubungan baik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Jokowi.
Ia sekaligus menekankan kesinambungan kepemimpinan nasional yang kini tercermin dalam duet Presiden ke-8 RI bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Mantan politikus Partai NasDem itu menyebut, narasi yang berkembang seolah-olah memosisikan Gibran sebagai rival politik Prabowo tidak sesuai dengan isi perbincangan yang disampaikannya.
Menurutnya, hal tersebut muncul akibat potongan pernyataan yang dikutip tanpa melihat keseluruhan dialog.
“Kalau podcast itu ditonton secara utuh, saya sama sekali tidak sedang bicara soal menjadikan Mas Gibran sebagai lawan politik Pak Prabowo,” ujar Ahmad Ali, dikutip pada Senin (26/1/2025).
Dalam perbincangan tersebut, Ahmad Ali justru menegaskan kapasitas Gibran sebagai wakil presiden yang memiliki potensi besar.
Ia menekankan bahwa pengalaman, kedekatan dengan akar rumput, serta dedikasi kerja menjadi modal kuat yang dimiliki putra sulung Presiden Jokowi itu.
“Mas Gibran punya pengalaman, punya akar rumput, dan punya dedikasi kerja. Itu kualitas yang nyata,” katanya.
Ia juga menegaskan, keputusan Prabowo menggandeng Gibran sebagai pasangan kepemimpinan nasional bukan tanpa pertimbangan.
Lanjut Ahmad Ali, hal itu menunjukkan adanya kecocokan dan keyakinan Prabowo terhadap kemampuan Gibran dalam bekerja untuk kepentingan bangsa.
Lebih jauh, Ahmad Ali menepis anggapan bahwa pembahasan dalam podcast tersebut mengarah pada spekulasi politik Pemilihan Presiden 2029.
Ahmad Ali bilang, fokus utama yang dibicarakan adalah kerja pemerintahan ke depan, bukan kalkulasi politik jangka panjang.
“Pak Prabowo ingin bekerja untuk Indonesia. Beliau belum memikirkan 2029. Soal politik ke depan, itu nanti saja saya lihat,” tegasnya.
Ia menekankan, substansi dari dua podcast tersebut adalah penguatan kerja sama, kesinambungan kepemimpinan nasional, serta fokus pada kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran.
Ahmad Ali menilai, pembacaan yang tidak utuh justru berpotensi membuka ruang spekulasi dan narasi konflik yang tidak relevan.
(Muhsin/fajar)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483255/original/011253700_1769349620-ffc88946-04a5-4e8a-bcad-b007cb5396c1.jpg)
