REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan potensi terjadinya longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Peringatan itu disampaikan menyusul kejadian longsor yang terjadi pada Jumat (24/1/2026). Badan Geologi menilai ancaman lanjutan masih tinggi, terutama jika hujan berintensitas tinggi turun dalam durasi lama.
Badan Geologi mencatat wilayah terdampak berada di kawasan perbukitan dengan kemiringan lereng curam dan pemanfaatan lahan yang relatif padat. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan lereng terhadap kegagalan tanah, terutama pada puncak musim hujan.
- Pencarian Korban Longsor Bandung Barat Hari Ketiga, Tim Sar Gabungan Fokuskan di Sektor Ini
- Longsor di Cisarua, 23 Prajurit Marinir TNI AL Jadi Korban?
- Wapres Gibran Temui Warga Korban Bencana Longsor Cisarua
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan, pemicu utama longsor berasal dari curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat peristiwa berlangsung. “Curah hujan tinggi meningkatkan tekanan air pori, menurunkan kuat geser tanah, lalu memicu kegagalan lereng,” ujar Lana di Bandung, dikutip pada Senin (26/1/2026).
Gerakan tanah di Desa Pasirlangu juga dipengaruhi kondisi geologi setempat yang didominasi batuan gunungapi tua yang telah mengalami pelapukan. Keberadaan struktur rekahan dan sesar geologi, dipadu dengan morfologi lereng yang curam, menciptakan kondisi massa tanah yang tidak stabil.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah terdampak termasuk dalam kategori Zona Kerentanan Menengah. Pada zona ini, potensi gerakan tanah meningkat pada lereng yang telah mengalami gangguan, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia, terutama saat hujan deras berlangsung lama.
Lana menilai aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan pembangunan akses jalan turut memperbesar risiko longsor. Sistem drainase permukaan yang belum optimal ikut mempercepat infiltrasi air ke dalam tanah dan menurunkan kestabilan lereng. “Kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta curah hujan tinggi saling berkaitan dalam memicu longsor berskala luas,” ujarnya.
Pascakejadian, Badan Geologi mengerahkan Tim Tanggap Darurat ke lokasi bencana untuk melakukan pemeriksaan lapangan. Tim menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas kurang lebih 30 hektare sekaligus menyusun langkah mitigasi lanjutan.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya menyampaikan tim telah berada di lokasi untuk mengkaji penyebab gerakan tanah secara menyeluruh. “Tim melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan faktor pemicu dan menentukan langkah penanganan yang tepat,” kata Hadi.
Tim Tanggap Darurat beranggotakan 10 orang yang terdiri atas unsur teknis dan nonteknis. Selain menyusun rekomendasi teknis, tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait kondisi gerakan tanah dan potensi bahaya lanjutan di kawasan terdampak.
Badan Geologi meminta warga yang tinggal di sekitar lereng curam meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Keselamatan petugas dan masyarakat menjadi prioritas utama dalam seluruh tahapan penanganan bencana.


