Masalah Gerd atau gastroesophageal reflux disease banyak diperbincangkan di media sosial akhir-akhir ini. Itu terutama setelah seorang selebgram dikabarkan meninggal dunia dengan riwayat gerd. Hal ini sekaligus memicu pertanyaan, bahkan debat mengenai kaitan gerd dengan risiko kematian.
Gerd memang patut diwaspadai. Kondisi ini bukan sekadar masalah naiknya asam lambung biasa. Gerd merupakan kondisi dari adanya aliran balik dari isi lambung ke saluran kerongkongan yang biasanya sampai menyebabkan nyeri dada seperti terbakar atau heartburn. Namun kondisi itu tidak sampai menyebabkan kematian.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi Aru Ariadno menyampaikan, kondisi Gerd selama ini tidak secara langsung menyebabkan kematian ataupun kematian mendadak. Gerd seringkali disebut sebagai penyebab kematian karena gejala yang mirip dengan serangan jantung.
“Biasanya seseorang yang mengalami gangguan jantung seperti serangan jantung memiliki gejala sesak, nyeri dada kiri menjalar ke tangan kiri yang terkadang seperti tercekik. Gejala ini mirip dengan gejala Gerd di mana ada rasa sesak, dada panas, dan kadang nyeri,” tuturnya, saat dihubungi pada Sabtu (24/1/2026).
Hal itu, menurut Aru, yang membuat orang yang mengalami serangan jantung sering diduga mengalami Gerd. Kondisi henti jantung yang dialami seseorang karena serangan jantung pun diduga karena Gerd.
Biasanya seseorang yang mengalami gangguan jantung seperti serangan jantung memiliki gejala sesak, nyeri dada kiri menjalar ke tangan kiri yang terkadang seperti tercekik. Gejala ini mirip dengan gejala Gerd.
Oleh karena itu, jika ada kematian yang dicurigai sebagai akibat Gerd sebaiknya dilakukan otopsi lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian. Kematian akibat Gerd merupakan dugaan yang secara ilmiah sebenarnya tidak dapat dibuktikan.
“Kita juga harus curiga apabila ada kematian mendadak di sekitar kita. Kita harus mencari penyebab kematiannya secara ilmiah, bukan berdasarkan perkiraan saja,” kata Aru.
Ia pun menyarankan agar seseorang yang mengalami gejala seperti Gerd untuk segera berobat dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Upaya itu diperlukan untuk mencegah komplikasi yang bisa terjadi serta memastikan penyakit apa yang dideritanya.
Kondisi Gerd tidak boleh disepelekan. Kasus Gerd di Indonesia terus meningkat. Hasil Riset Kesehatan Dasar 2023 menunjukkan prevalensi Gerd di Indonesia mencapai 13,5 persen. Itu berarti meningkat dari 10,9 persen dari laporan sebelumnya pada tahun 2018.
Selain itu, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, penelitian yang dilakukan oleh Perhimpunan Gastroenterologi Indonesia di 10 rumah sakit pendidikan pada 2024 menemukan bahwa sekitar 65 persen pasien Gerd datang ke rumah sakit sudah dengan gejala kronis lebih dari lima tahun.
Sebanyak 40 persen di antaranya sudah mengalami komplikasi seperti esogagitis erosif yakni peradangan pada lambung. Persoalan lainnya juga ditemukan bahwa 70 persen kasus Gerd tidak terdiagnosis dengan tepat pada kunjungan pertama. Gerd sering salah diartikan sebagai masalah dispepsia atau nyeri perut biasa akibat masalah asam lambung.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Cipto Mangunkusumo Ari Fahrial Syam menyampaikan, penyakit Gerd berbeda dengan penyakit maag biasa. Gerd bisa menimbulkan komplikasi yang serius.
Kondisi Gerd yang terjadi akibat meningkatnya asam lambung dapat berdampak langsung pada kondisi kerongkongan. Itu antara lain dapat menyebabkan perlukaan, penyemputan, serta terbentuknya lesi-lesi prekanker atau kanker pada kerongkongan atau esofagus.
Gerd juga dapat menyebabkan komplikasi pada organ lain, seperti telinga yang menjadi berdengin, hidung dengan gejala bersin-bersin hingga sinusitis, serta masalah pita suara yang menyebabkan serak. Masalah Gerd dapat pula bedampak pada organ paru-paru.
“Jadi memang dampaknya luar biasa. Apabila seseorang mengalami Gerd, jika tidak ditangani dengan baik itu memang bisa meningkatkan risiko kematian. Namun itu tidak terjadi secara langsung, seperti karena terbentuknya kanker yang biasanya pada usia 50-60 tahun,” tutur Ari.
Tanda bahaya Gerd yang harus diwaspadai yakni ketika nyeri yang dialami disertai dengan muntah-muntah hebat, turun berat badan, serta BAB yang berwarna hitam akibat perdarahan. Jika tanda-tanda tersebut terjadi, pastikan untuk segera ke rumah sakit.
Gerd merupakan penyakit yang bisa diobati. Pada sejumlah pasien, pemeriksaan endoskopi serta pemeriksaan pH-metri bisa dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan yang terjadi.
Ari menyebutkan, perubahan pola hidup juga perlu dilakukan untuk mengendalikan Gerd selain lewat pengobatan. Berat badan perlu dikontrol. Konsumsi alkohol dan rokok juga harus dihentikan.
“Penyakit ini memang bisa berdampak pada anxiety (kecemasan). Kenapa? Itu karena asam lambung yang naik bisa sampai terasa seperti mencekik. Namun, sekali lagi, penyakit Gerd ini bisa diobati,” ucapnya.





