Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta memamerkan inovasi mahasiswanya lewat Festival of Science and Technology (FAST) 2026 di Teras Malioboro 1, Sabtu (24/1). Acara ini bertujuan memberi edukasi kepada masyarakat sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi karya mahasiswa.
FAST 2026 merupakan kolaborasi tiga program studi (prodi) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNISA Yogyakarta yakni Arsitektur, Teknologi Informasi, dan Bioteknologi, menampilkan inovasi alat dan sistem teknologi dari para mahasiswanya. Inovasi ini dipamerkan di area terbuka sehingga pengunjung bisa mencoba langsung dan memahami penerapan teknologi secara nyata.
“Semua yang pameran di sini itu tiga prodi yang ada di Fakultas Sains dan Teknologi. Ini memang untuk mewadahi inovasi-inovasi dari mahasiswa di tiap-tiap prodi,” kata Dekan FST UNISA, Tika Ainunnisa Fitria, kepada Pandangan Jogja, Sabtu (24/1).
Salah satu karya yang dipamerkan adalah sistem Smart Home dengan gerbang dan kanopi otomatis. Sistem ini bekerja dengan mendeteksi kendaraan dan cuaca untuk membuka dan menutup gerbang serta kanopi secara otomatis melalui Telegram.
“Kalau misalnya kakaknya memiliki jemuran, nah, sedangkan kakak lagi di luar kota, sistem bakal mengirim pesan kalau hujan dan menutup kanopi otomatis,” papar Alexander Aryputra dan Hilman Satya Pebrian, mahasiswa semester lima Prodi Teknologi Informasi UNISA pencipta inovasi ini.
Selain pameran, festival menghadirkan cek kesehatan gratis bagi pengunjung dan pedagang Teras Malioboro, termasuk pemeriksaan gula darah, tensi, dan asam urat. Ngadiri, salah satu pedagang di Teras Malioboro 1, merasa terbantu dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini.
“Iya, itu sangat-sangat bermanfaat bagi pedagang khususnya di Teras (Malioboro) ini. Karena belum sempat, kita kadang-kadang pulang sudah malam, jadi kita nggak sempat untuk mengecek, pergi ke Puskesmas. Ternyata di Teras (Malioboro) ini ada cek kesehatan,” tutur Ngadiri.
FAST dicanangkan sebagai acara tahunan Fakultas Sains dan Teknologi UNISA Yogyakarta, untuk memperkenalkan inovasi mahasiswa sekaligus menjembatani kolaborasi dengan masyarakat dan pihak industri.
“Bagaimana inovasi ini itu dilirik oleh masyarakat, boleh oleh masyarakat ataupun pengembang, investor. Nah, itu yang sebenarnya kita bidik. Jadi, kalau ini kan misalnya dia punya satu produk, tapi untuk menyempurnakan itu kan perlu dana,” pungkas Tika.




