EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan sebuah perangkat militer rahasia yang menurutnya menjadi kunci sukses operasi militer di Venezuela yang berlangsung pada 3 Januari 2026, dalam wawancara eksklusif dengan The New York Post yang dipublikasikan pada 24–25 Januari 2026.
Trump menyebut alat itu sebagai “The Discombobulator”, sebuah perangkat yang menurutnya mampu melumpuhkan sistem pertahanan lawan secara drastis, memungkinkan pasukan AS menguasai situasi di ibu kota Caracas dan menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, tanpa korban jiwa di pihak Amerika Serikat.
Senjata “Discombobulator”: Apa yang Diungkap Trump
Dalam wawancara tersebut, Trump menjelaskan bahwa Discombobulator tidak hanya menonaktifkan sistem radar dan pertahanan Venezuela, tetapi juga membuat rudal buatan Rusia dan Tiongkok yang dimiliki pemerintah Venezuela tidak bisa diluncurkan sama sekali.
“Mereka punya roket dari Rusia dan Tiongkok, dan mereka tidak pernah berhasil meluncurkan satu pun. Ketika mereka menekan tombol—tidak ada yang berfungsi,” ujar Trump.
Dia mengatakan bahwa efek senjata itu lebih efektif daripada peralatan militer konvensional dalam operasi semacam ini, namun menolak menjelaskan teknologi teknis di baliknya dengan alasan kerahasiaan dan keamanan nasional.
Operasi di Caracas: Kronologi Singkat
Menurut laporan-laporan laporan independen dan laporan investigasi media, operasi militer besar yang dimulai dini hari tanggal 3 Januari 2026 melibatkan kombinasi serangan udara, perang elektronik, dan penyusupan pasukan khusus ke kompleks pertahanan utama Venezuela. Serangan awal menargetkan radar, sistem komunikasi, dan unit pertahanan udara di sekitar Caracas, merusak kemampuan reaksi cepat pasukan Venezuela.
Sebagai bagian dari strategi, pasukan AS dilaporkan menggunakan taktik perang elektronik untuk memutus sistem komunikasi dan kendali, sehingga memudahkan misi pendaratan heli pasukan khusus di titik-titik strategis. Selanjutnya pasukan elit berhasil menangkap Maduro dan Flores sebelum mereka bisa mencari perlindungan di bunker bawah tanah kompleks militer.
Sumber-sumber independen melaporkan bahwa sedikitnya 100 orang tewas dalam serangan itu, termasuk sejumlah tentara bayaran dan personel keamanan Venezuela, serta beberapa warga sipil. Tidak ada laporan resmi yang menyebutkan jumlah korban di pihak AS.
Efek Senjata dan Kesaksian Saksi
Selain pernyataan Trump, beberapa laporan media memasukkan klaim dari saksi mata yang menggambarkan efek misterius dari apa yang disebut sebagai “senjata sonik” atau energi intens. Seorang mantan pengawal Maduro menggambarkan sensasi seperti gelombang suara ekstrem yang menyebabkan:
- pusing hebat
- mimisan
- muntah darah
- ketidakmampuan bergerak secara tiba-tiba
Media juga menekankan bahwa klaim ini belum dikonfirmasi secara independen oleh sumber militer resmi atau lembaga riset teknologi. Beberapa analis berpendapat bahwa apa pun perangkat itu, efeknya dapat berkaitan dengan gabungan teknologi perang elektronik, frekuensi energi, dan taktik perang modern lainnya, bukan semata “senjata tunggal yang luar biasa”.
Maduro dan Cilia Flores: Status Hukum Terkini
Setelah ditangkap, Maduro dan istrinya dilaporkan dibawa ke Amerika Serikat, di mana keduanya menghadapi dakwaan federal terkait narkoterrorisme, konspirasi, dan kepemilikan senjata ilegal di sebuah pengadilan di Brooklyn, New York. Maduro mengklaim dirinya sebagai “prisoner of war” dan tetap menganggap dirinya sebagai Presiden sah Venezuela, sementara pemerintah internasional dan kelompok HAM menyuarakan protes atas tindakan AS tersebut.
Dinamika Politik di Venezuela Pasca-Operasi
Pasca operasi, Delcy Rodríguez, yang sebelumnya merupakan pemimpin oposisi dalam tubuh pemerintahan, ditunjuk sebagai Presiden Interim Venezuela. Dia mengumumkan pembebasan ratusan tahanan politik dan berencana menjalin kerja sama lebih lanjut dengan AS, termasuk dalam pengamanan pasokan minyak Venezuela yang sangat besar.
Beberapa negara dan organisasi internasional—termasuk sekutu dekat Venezuela—mengutuk operasi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Diskusi soal legalitas intervensi militer dan penahanan pemimpin sah negara itu pun semakin kuat di forum-forum internasional.
Pandangan Ahli tentang Era Baru Perang Modern
Para pakar militer menilai bahwa skenario seperti yang diklaim Trump menunjukkan perubahan paradigma perang modern, di mana prioritas bukan sekadar kehancuran fisik terhadap lawan, melainkan pelumpuhan sistem pertahanan dan komunikasi lawan secara efektif tanpa harus mengandalkan jumlah besar pasukan atau pertempuran konvensional. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa banyak klaim tetap perlu diverifikasi secara teknis dan ilmiah sebelum disimpulkan sebagai fakta.
Kesimpulan
Perkembangan terbaru ini menggambarkan dinamika konflik internasional yang kompleks, serta kecenderungan senjata mutakhir dan strategi non-konvensional menjadi bagian dari operasi militer besar. Meskipun Amerika Serikat menggambarkan operasi ini sebagai kemenangan strategis, banyak pihak internasional masih mempertanyakan legalitas, etika, dan risiko jangka panjang dari penggunaan teknologi militernya.




