EtIndonesia. Bagaimana Para Miliarder Mendidik Anak Mereka? Apakah mereka sejak kecil diberi uang yang tak ada habisnya? Justru sebaliknya!
Belakangan ini, saya mencermati pendidikan keuangan dalam keluarga dan pola asuh orang tua di sekitar kita. Banyak yang cenderung terlalu longgar. Padahal, jika berbicara tentang siapa yang paling pandai menghasilkan uang dan paling piawai mengajarkan anak-anaknya tentang uang, maka orang Yahudi berada di peringkat teratas di dunia.
Pendidikan Keuangan Orang Yahudi Diakui Dunia
Orang Yahudi memiliki sistem pendidikan keuangan anak yang sangat khas. Mereka bahkan memiliki kebiasaan memberikan saham kepada anak yang baru berusia satu tahun, terutama di kalangan Yahudi Amerika Utara.
Tahapan pendidikan keuangan anak dalam keluarga Yahudi umumnya sebagai berikut:
- Usia 3 tahun: Anak mulai diajari mengenali uang logam dan uang kertas.
- Usia 5 tahun: Anak diajari bahwa uang dapat digunakan untuk membeli barang yang mereka inginkan, serta diperkenalkan bagaimana uang diperoleh.
- Usia 7 tahun: Anak mulai belajar membaca label harga barang dan memperdalam konsep “uang ditukar dengan barang”.
- Usia 8 tahun: Anak diajari bahwa uang dapat diperoleh dengan bekerja paruh waktu, serta membiasakan mereka menabung di bank.
- Usia 11–12 tahun: Anak diajarkan untuk memahami tipu daya iklan televisi, menyusun rencana pengeluaran minimal dua minggu, serta mengenal dan menggunakan istilah-istilah perbankan dengan benar.
Rockefeller: Miliarder yang Sangat Ketat Mendidik Anak
Raja minyak dunia Rockefeller juga berasal dari keluarga Yahudi. Dia mewajibkan anak-anaknya mencatat setiap pengeluaran harian sebelum tidur, bahkan mengajarkan mereka mencari tahu di mana barang bisa dibeli dengan harga lebih murah. Tujuannya jelas: membiasakan hidup hemat sejak dini.
Padahal Rockefeller adalah orang terkaya di Amerika dan miliarder pertama di dunia yang memiliki kekayaan lebih dari satu miliar dolar. Namun uang saku yang dia berikan kepada anak-anaknya sangat sedikit—bahkan lebih ketat dibanding keluarga biasa.
Orang Terkaya Amerika Mengajarkan Anak Tidak Boros Sejak Kecil
Aturan uang saku yang diterapkan Rockefeller adalah sebagai berikut:
- Usia 7–8 tahun: uang saku mingguan sebesar 30 sen dolar
- Usia 11–12 tahun: uang saku mingguan sebesar 1 dolar
- Di atas 12 tahun: uang saku mingguan sebesar 3 dolar
Uang saku diberikan seminggu sekali. Anak-anak diwajibkan membuat anggaran terlebih dahulu dan mencatat dengan rinci setiap pengeluaran. Catatan ini harus diserahkan saat menerima uang saku berikutnya.
Jika pencatatan rapi dan penggunaan uang tepat, maka minggu berikutnya uang saku akan ditambah 5 sen. Sebaliknya, jika tidak jelas, jumlahnya akan dikurangi.
Bahkan seorang miliarder seperti Rockefeller pun mendidik anaknya dengan cara ini. Lalu, masih pantaskah kita memanjakan anak secara berlebihan?
Kekayaan Bisa Habis, Tapi Kebijaksanaan Akan Selalu Menyertai
Pada umumnya, para miliarder berusaha keras agar anak-anak mereka tidak tumbuh dengan rasa superior hanya karena lahir di keluarga kaya. Mereka ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan keuangan dasar seperti anak-anak biasa.
Yang terpenting, mereka ingin anak-anak memahami bahwa uang itu tidak mudah diperoleh, sehingga kelak mereka mampu menjaga dan mengelola kekayaan.
Dalam pekerjaan saya, saya pernah mewawancarai banyak pengusaha besar—termasuk Yen Kai-tai dan Wang Ling-chiao, yang sering disebut “lahir dengan sendok emas”. Namun masa kecil mereka tidaklah mudah. Yen Kai-tai, misalnya, berangkat dan pulang sekolah naik bus sekolah seperti anak-anak lainnya, tanpa mobil mewah antar-jemput.
Harta Bisa LenYap, Tapi Hikmah Tetap Abadi
Dalam keluarga Yahudi, para ibu sering mengajukan pertanyaan ini kepada anak-anaknya: “Jika suatu hari rumahmu terbakar dan seluruh hartamu dirampas, lalu apa yang akan kamu bawa untuk menyelamatkan diri?”
Anak-anak biasanya menjawab secara spontan: uang, berlian, atau perhiasan.
Namun sang ibu akan berkata: “Anakku, yang harus kamu bawa bukanlah uang atau berlian, melainkan kebijaksanaan.”
Karena kebijaksanaan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun.
Hikmah Cerita
Artikel ini memberi pemahaman yang lebih dalam tentang makna pepatah: “Daripada memberi ikan, lebih baik mengajarkan cara memancing.”
Setiap orangtua tentu ingin anaknya sukses dan berhasil. Mereka bekerja keras, berusaha memenuhi segala kebutuhan anak demi masa depan yang lebih baik. Namun sering kali, tanpa disadari, anak justru menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar dan semestinya.
Selain memenuhi kebutuhan materi, yang jauh lebih penting adalah pendidikan batin dan pembentukan pola pikir—agar anak memahami betapa sulitnya mencari uang dan betapa besar pengorbanan orang tua.
Hal-hal ini tidak bisa diajarkan hanya lewat kata-kata, sekolah, atau buku. Dia harus ditanamkan melalui pendidikan keluarga dan interaksi nyata antara orangtua dan anak, agar anak dapat benar-benar merasakan dan belajar dari pengalaman hidup.
Semoga setelah membaca artikel ini, kita semua mendapat inspirasi baru tentang bagaimana mendidik dan membesarkan anak, khususnya dalam hal keuangan dan nilai kehidupan.(jhn/yn)




