TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Putri Dakka, sosok pengusaha, mesin sosial, dan nama yang kerap bikin heboh peta politik.
Wanita bernama lengkap Putriana Hamka Dakka itu nyaris tak pernah benar-benar sepi dari perbincangan publik Sulawesi Selatan.
Di satu sisi, ia dipuji sebagai pengusaha perempuan sukses dan dermawan.
Di sisi lain, langkah politiknya kerap memantik kontroversi, terutama soal loyalitas partai.
Perempuan kelahiran Palopo, 20 Januari 1987 itu tumbuh sebagai figur publik yang tidak hanya bergerak di dunia bisnis, tetapi juga sosial dan politik.
Kombinasi inilah membuat Putri Dakka dicintai sebagian warga, namun juga dicurigai oleh sebagian lainnya.
Karier Putri Dakka dimulai dari titik yang jauh dari gemerlap.
Tahun 2013, ia hanya seorang karyawan asuransi.
Dari sana, ia memberanikan diri keluar dari zona aman dan membangun usaha sendiri.
Proses jatuh bangun ia lalui hingga akhirnya, di usia 37 tahun, Putri Dakka tercatat sebagai komisaris di lima perusahaan, dengan lini bisnis yang beragam; pelayaran, properti, perminyakan, herbal hingga pengembangan kawasan.
Melalui PT Dakka Opa Energy Timur (DOET), ia menyuplai BBM ke sejumlah perusahaan tambang di Kawasan Timur Indonesia.
Langkah bisnis ini mengukuhkan namanya sebagai salah satu pengusaha perempuan paling agresif di wilayah Luwu Raya.
Tak berhenti di situ, Putri Dakka juga merambah bisnis kosmetik dan perawatan kulit lewat brand Lavishglow.
Produk ini diklaim telah mengantongi izin BPOM, sertifikasi halal MUI, ISO 9001-2015, serta uji laboratorium dari RS Pendidikan Wahidin Sudirohusodo dan RS Gatot Subroto Jakarta.
Bagi pendukungnya, ini bukti kapasitas manajerial Putri Dakka.



