TRIBUN-TIMUR.COM - Pelatih PSM Makassar Toma Trucha didampingi pemain muda, Fahrul Aditia, menjawab pertanyaan wartawan dalam jumpa pers usai game di Stadion Gelora Bumi Kartini, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (24/1/2026) malam.
“Hasil ini tidak baik untuk kami, tetapi masih ada pertandingan selanjutnya untuk kami membalikkan keadaan. Kami harus meraih poin pada pertandingan kandang selanjutnya," ujar Tomas Trucha
"Saya (dan pemain lainnya) mau meminta maaf untuk pertandingan malam ini karena tidak bisa mendapatkan tiga poin. Semoga pertandingan selanjutnya kami mendapatkan tiga poin," kata Fahrul Aditia.
“Masih ada pertandingan selanjutnya.”
Kalimat itu terdengar biasa. Bahkan terlalu sering diucapkan dalam dunia sepak bola. Namun dalam situasi PSM Makassar hari ini, kalimat tersebut tidak lagi sekadar pernyataan pascapertandingan. Ia telah berubah menjadi semacam mantra kolektif. Kalimat itu pentinhg diulang oleh Tomas untuk menjaga harapan, menenangkan kegelisahan, dan menahan runtuhnya kepercayaan diri di tengah lima kekalahan beruntun.
PSM Makassar tidak kekurangan sejarah, tidak kekurangan identitas, dan tidak pernah kekurangan dukungan. Tetapi justru karena itulah, tekanan yang menyelimuti tim ini menjadi berlapis.
Kekalahan tidak hanya dibaca sebagai hasil pertandingan, melainkan sebagai kegagalan moral terhadap sejarah dan ekspektasi. Di titik inilah persoalan PSM hari ini tidak bisa lagi dibaca semata sebagai soal taktik atau kualitas pemain. Ia sudah masuk ke wilayah psikososial.
Dalam sosiologi olahraga, cara sebuah tim menjelaskan kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari struktur budaya.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi mekanisme pertahanan kolektif. Apa yang diucapkan pelatih dan pemain setelah laga sering kali menjadi cermin paling jujur dari kondisi batin sebuah tim.
Pernyataan panjang Tomas Trucha setelah pertandingan memperlihatkan hal itu dengan jelas.
Dia memulai dengan menyebut sepuluh menit awal sebagai fase “kurang beruntung”.
"Di sepuluh menit pertama kami kurang beruntung, yang mana kita bisa lakukan sapuan bola, namun situasi itu terjadi dan akhirnya tim lawan mencetak gol pertama mereka. Setelah itu kami mengontrol permainan selama dua puluh menit.”
Sebuah situasi yang, menurutnya, seharusnya bisa diantisipasi tetapi berujung pada gol lawan.
Dalam kacamata sosiologi, pernyataan Trcuha itu bentuk external attribution. Yaitu kecenderungan menjelaskan kegagalan dengan faktor di luar diri sendiri. Kekalahan sejak awal tidak ditempatkan sebagai kegagalan kesiapan, melainkan sebagai peristiwa yang tidak berpihak.
Trucha kemudian menegaskan bahwa setelah kebobolan, PSM mampu mengontrol permainan selama dua puluh menit.




