EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah kembali naik tajam dalam beberapa pekan terakhir, ditandai oleh meningkatnya sinyal kesiapsiagaan dari Iran, langkah siaga penuh Israel, serta penguatan postur militer Amerika Serikat di sekitar kawasan Teluk. Di tengah situasi itu, beredar pula sejumlah klaim intelijen sumber terbuka (OSINT) mengenai aktivitas militer Tiongkok dan perubahan pola kemunculan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—meski sebagian di antaranya belum dapat diverifikasi secara independen.
Gelombang Krisis: Iran di Bawah Tekanan Dalam Negeri, Ancaman Eksternal Menguat
Situasi Iran sejak awal Januari 2026 menjadi perhatian dunia karena kombinasi dua faktor: krisis domestik dan ketegangan eksternal dengan Amerika Serikat serta Israel.
Pada 9 Januari 2026, Reuters melaporkan Khamenei menyampaikan pidato di tengah protes yang meluas; dia menegaskan tidak akan mundur dan menuding demonstrasi dipicu pihak luar. Media internasional juga menyoroti kerasnya respons aparat terhadap gelombang protes dan pembatasan internet yang berdampak ekonomi serta politik.
Di saat tekanan internal belum mereda, tensi eksternal ikut naik. Pada 20 Januari 2026, Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap Khamenei akan memicu “jihad” (seruan perang suci), sebuah sinyal bahwa Teheran menganggap isu keselamatan pemimpin tertingginya sebagai garis merah.
“Khamenei Menghilang”? Ini yang Bisa Dipastikan dan yang Masih Klaim
Dalam narasi yang beredar di beberapa kanal, disebutkan Khamenei “menghilang dari ruang publik” dan membatalkan agenda Jumat karena alasan keamanan. Namun, hingga 26 Januari 2026, klaim “menghilang” tersebut tidak memiliki konfirmasi resmi yang kuat dari sumber arus utama dan lebih banyak beredar sebagai spekulasi/OSINT.
Yang bisa dipastikan dari laporan Reuters: pada periode awal Januari, Khamenei masih tercatat tampil/dirujuk dalam konteks pidato terkait situasi protes (9 Januari 2026), sehingga pernyataan “menghilang total” perlu diperlakukan hati-hati dan tidak boleh dianggap fakta tanpa verifikasi tambahan.
Iran Meningkatkan Sinyal Balasan: Target “Investasi Terkait AS”
Pada 23 Januari 2026, Reuters melaporkan seorang ulama berpengaruh Iran memperingatkan bahwa Iran bisa menargetkan investasi yang terkait AS di kawasan jika diserang—indikasi bahwa Teheran menyiapkan spektrum respons yang tak hanya militer langsung, tetapi juga menyasar kepentingan ekonomi dan jaringan regional.
Peringatan ini memperkuat kekhawatiran para pejabat keamanan kawasan: apabila terjadi serangan pendahuluan, pembalasan Iran dapat mengambil bentuk rudal balistik, drone, serta operasi melalui kelompok proksi, yang berpotensi mengubah konflik menjadi perang regional.
Israel Masuk Mode Siaga: Antisipasi Efek Domino Jika AS Bertindak
Di sisi Israel, media setempat melaporkan penguatan postur dan persiapan menghadapi skenario paling buruk. Pada 25 Januari 2026, Haaretz menulis tentang pengerahan dan penguatan aset AS di sekitar kawasan dan konteks ancaman terhadap Iran, termasuk dinamika penempatan pesawat tempur tertentu dan kesiapan kawasan.
Dalam kalkulasi Israel, risiko utama adalah efek domino: jika target strategis Iran diserang, balasan dapat menyasar Israel secara langsung maupun melalui front lain (misalnya via proksi lintas batas), sehingga Tel Aviv merasa perlu menyiapkan pertahanan berlapis sejak awal.
Pengerahan Militer AS: Indikator “Fase Nyata” Bukan Sekadar Ancaman
Walau detail angka-angka tertentu yang beredar di media sosial (misalnya jumlah Tomahawk spesifik per kapal) sering kali sulit diverifikasi secara publik, tren besarnya jelas: AS memperkuat kesiapan dan jejaring komando-operasi di kawasan.
Salah satu indikator yang sering dinilai sebagai langkah “pra-operasi” adalah penguatan kemampuan komando, kontrol, dan koordinasi di teater Timur Tengah. Di level resmi, situs Komando Pusat AS (CENTCOM) menunjukkan aktivitas dan agenda latihan/penguatan kemampuan kawasan selama Januari 2026, meski tidak selalu merinci semua pergerakan sensitif secara operasional.
Klaim “16 Pesawat Angkut Militer Tiongkok ke Iran”: Ramai, Tapi Statusnya Masih Abu-abu
Bagian lain yang paling menyita perhatian adalah klaim bahwa 16 pesawat angkut militer Tiongkok mendarat di Iran dalam waktu singkat, yang ditafsirkan sebagai sinyal dukungan terbuka Beijing kepada Teheran.
Namun, sejauh penelusuran sumber terbuka, informasi ini banyak berasal dari laporan yang menyebut “narasi beredar” dan unggahan media sosial, bukan konfirmasi resmi negara atau lembaga yang dapat diverifikasi penuh.
Artinya: isu ini patut dicatat sebagai perkembangan yang sedang diperdebatkan, tetapi untuk standar berita yang ketat, ia sebaiknya ditempatkan sebagai klaim OSINT sambil menunggu bukti independen (misalnya data penerbangan yang tervalidasi, citra satelit, atau pernyataan resmi).
Kesimpulan Sementara: Kawasan Mendekati Titik Kritis
Rangkaian kejadian sepanjang 9–25 Januari 2026 menunjukkan eskalasi yang nyata:
- 9 Jan 2026: Khamenei berpidato terkait protes, menandai tekanan domestik yang meningkat.
- 20 Jan 2026: Parlemen Iran mengeluarkan peringatan “jihad” jika Khamenei diserang—sinyal garis merah Teheran.
- 23 Jan 2026: Peringatan potensi pembalasan Iran yang menyasar kepentingan terkait AS di kawasan.
- 25 Jan 2026: Laporan media Israel menyoroti penguatan postur dan konteks kesiagaan menghadapi skenario serangan.
- Klaim OSINT (sekitar pertengahan–akhir Jan 2026): isu pesawat angkut Tiongkok ke Iran ramai, tetapi belum terverifikasi tegas.
Dengan kondisi ini, para analis menilai kawasan berada dalam fase “mudah tersulut”: satu insiden—serangan terbatas, salah hitung, atau provokasi di front lain—dapat memicu rangkaian pembalasan yang sulit dikendalikan.




