Salju lebat dan hujan deras yang mengguyur Afghanistan selama tiga hari terakhir telah menyebabkan 61 orang meninggal dunia dan 110 orang terluka. Longsoran salju akibat timbunan salju merusak rumah-rumah, menewaskan ternak, serta memutus akses jalan raya penting. Seiring pihak berwenang mengumpulkan lebih banyak informasi dari berbagai provinsi, jumlah korban diperkirakan masih dapat berubah.
EtIndonesia. Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan pada Sabtu (24 Januari) menyatakan bahwa korban jiwa dan luka-luka tersebut terjadi antara 21 hingga 23 Januari, terutama di wilayah provinsi bagian tengah dan utara negara itu.
Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan menulis di platform media sosial X bahwa “data awal korban dan kerusakan” juga mencakup 458 rumah yang rusak sebagian atau hancur total. Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat untuk menghindari perjalanan yang tidak perlu.
Associated Press melaporkan dari Kabul bahwa badan penanggulangan bencana menyatakan pemerintah sedang berupaya membuka kembali jalan-jalan serta menjangkau desa-desa yang terisolasi akibat tertutup salju.
Afghanistan merupakan negara yang sangat rentan terhadap dampak cuaca ekstrem. Badai salju dan hujan lebat sering memicu banjir bandang pegunungan, yang dalam satu kejadian dapat menewaskan puluhan bahkan ratusan orang. Pada musim semi 2024, banjir bandang menewaskan lebih dari 300 orang.
Puluhan tahun konflik, ditambah dengan infrastruktur yang tertinggal, kesulitan ekonomi, penggundulan hutan, serta memburuknya perubahan iklim, telah memperparah dampak bencana semacam ini, terutama di daerah terpencil.
Di wilayah tersebut, banyak rumah dibangun dari tanah liat sehingga hampir tidak memiliki perlindungan terhadap banjir bandang atau badai salju yang datang secara tiba-tiba. (Hui)




