TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Putriana Hamda Dakka atau Putri Dakka akhirnya menepis keras isu kepindahannya ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Perempuan kelahiran Palopo, 20 Januari 1987 kembali mencuat seiring mundurnya Rusdi Masse Mappasessu (RMS) dari Partai NasDem.
Isu tersebut sejatinya sudah berembus sejak Pilkada Palopo 2024.
Namun hampir dua tahun berlalu tanpa klarifikasi terbuka dari Putri Dakka.
Kini, isu itu kembali menguat bersamaan dengan wacana pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI Dapil III Sulsel pasca RMS mundur dari NasDem.
Awal Mula Isu
Kontroversi bermula pada awal 2024, jelang Pemilihan Wali Kota Palopo.
Saat itu, Putri Dakka yang menjabat Ketua NasDem Luwu Utara disebut hengkang dari partai di tengah proses pencalonannya.
NasDem Palopo, di bawah komando Judas Amir, tidak merekomendasikan Putri Dakka sebagai calon wali kota.
Partai justru menetapkan Farid Kasim Judas (FKJ)—putra eks Wali Kota Palopo Judas Amir sebagai calon tunggal usungan NasDem dalam pleno 8 Mei 2024.
Situasi tersebut memicu spekulasi adanya persaingan internal antara kubu Judas Amir dan Putri Dakka.
Tak lama berselang, Putri Dakka maju di Pilwali Palopo dengan kendaraan politik PDIP dan PAN, yang kemudian memunculkan anggapan bahwa ia telah resmi pindah partai.
Bahkan pada Juni 2024, sejumlah elite PDIP Sulsel menyatakan Putri Dakka telah menjadi kader PDIP dan menerima surat tugas untuk maju sebagai calon wali kota Palopo.
Sikap NasDem Sulsel Saat Itu
Kala isu kepindahan Putri Dakka mencuat, Wakil Ketua DPW NasDem Sulsel Mustaqim Musma mengaku pihaknya kecolongan.




