FAJAR, JAKARTA – Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto, menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam melawan pengaruh industri tembakau yang dinilai merusak kualitas hidup masyarakat.
Dalam sambutannya di The 8th APCAT Summit, Bima Arya memaparkan data terbaru bahwa Indonesia menempati peringkat kelima dunia dalam prevalensi perokok, dengan angka mencapai 38,2 persen pada tahun 2026.
“Dampak mematikan rokok bukan lagi sekadar opini, melainkan fakta ilmiah yang tidak terbantahkan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa strategi promosi industri rokok kini lebih halus melalui pesan subliminal, sehingga kepala daerah diminta tetap konsisten dalam kebijakan pengendalian tembakau dan tidak tergoda oleh program CSR perusahaan rokok.
Menutup sambutannya, Bima Arya menyampaikan tiga pesan kunci bagi keberlanjutan gerakan APCAT: inovasi dalam riset dan kampanye, co-creation sebagai kemitraan setara antara pemerintah, korporasi, dan komunitas, serta regenerasi kepemimpinan agar gerakan pengendalian tembakau terus berlanjut.
“APCAT harus menjadi motor penggerak kolaborasi lintas kota dan negara dalam melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk industri tembakau,” pungkasnya. (*)



