Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa layanan kesehatan di tiga provinsi terdampak bencana di wilayah Sumatra telah kembali beroperasi 100 persen. Ketiga provinsi tersebut meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat.
Hal tersebut disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Wilayah Sumatra yang digelar di Ruang Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta.
"Saya mengucapkan terima kasih banyak atas nama Satgas dan juga atas nama Dewan Pengarah karena kerja keras Bapak-Ibu sekalian, kementerian [dan] lembaga, kemudian juga pemerintah daerah, provinsi, kabupaten, kota, serta semua non-pemerintah yang hadir juga di sana," ujar Tito, dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan data Satgas, dari total 87 rumah sakit umum daerah (RSUD) yang terdampak bencana, sebelumnya terdapat sembilan RSUD yang sempat berhenti beroperasi. RSUD tersebut terdiri atas delapan rumah sakit di Provinsi Aceh dan satu rumah sakit di Provinsi Sumatra Utara. Saat ini, seluruh RSUD tersebut telah kembali beroperasi secara normal.
Sementara itu, dari 867 puskesmas yang terdampak, sebanyak 152 puskesmas sebelumnya tidak beroperasi. Kini, sebanyak 865 puskesmas telah kembali beroperasi normal. Adapun dua puskesmas lainnya masih beroperasi di lokasi sementara sambil menunggu pembangunan gedung baru.
Selain sektor kesehatan, Tito menyebutkan bahwa proses pembelajaran di ketiga provinsi terdampak juga telah kembali berjalan sepenuhnya. Saat ini, kegiatan belajar mengajar telah berlangsung 100 persen, meskipun sekitar 3 persen di antaranya masih dilaksanakan di ruang kelas darurat.
Pada sektor infrastruktur dasar, pemulihan layanan kelistrikan menunjukkan perkembangan signifikan. Di Provinsi Aceh, kurang dari 1 persen wilayah masih dalam proses pemulihan. Sementara itu, di Provinsi Sumatra Utara, layanan listrik telah pulih hingga 99 persen, dan di Provinsi Sumatra Barat telah menyala 100 persen. Seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di ketiga provinsi tersebut juga telah kembali beroperasi.
Tito juga menyampaikan bahwa layanan internet di wilayah terdampak telah berjalan normal. Pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan gas liquefied petroleum gas (LPG) pun dinilai relatif stabil. Menurutnya, konsistensi pasokan logistik tersebut penting untuk mendukung aktivitas masyarakat serta mempercepat pemulihan ekonomi daerah.
Dari sisi ekonomi, seluruh pasar di Provinsi Sumatra Barat dan Sumatra Utara telah kembali beroperasi 100 persen. Sementara di Provinsi Aceh, sekitar 65 persen pasar telah beroperasi, dan sisanya masih dalam proses pemulihan secara bertahap.
Tito memastikan bahwa roda pemerintahan di seluruh wilayah terdampak bencana juga telah kembali berjalan, termasuk di Kabupaten Aceh Tamiang. Pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi, kabupaten, maupun kota, telah kembali melaksanakan fungsi pelayanan publik secara normal.
Meski demikian, Tito mengakui masih terdapat sejumlah infrastruktur yang memerlukan perhatian lanjutan. Infrastruktur tersebut antara lain jalan provinsi, kabupaten, dan desa yang belum sepenuhnya pulih, jembatan yang masih bersifat sementara, serta kebutuhan normalisasi sungai di sejumlah daerah terdampak. Untuk memastikan percepatan pemulihan berjalan optimal, Kemendagri membentuk posko pemantauan di tingkat pusat dan daerah.
"Ada posko di sini yang monitor, pos komandonya di Kemendagri, dan ada satu posko lagi di Aceh. Meskipun di Sumatra Utara, di Medan, Sumatra Barat juga mereka membentuk posko tingkat provinsi," tambahnya.
Seluruh upaya tersebut dilakukan secara terpadu agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera dapat berjalan efektif, berkelanjutan, serta memberikan dampak langsung bagi masyarakat terdampak.
(akn/ega)




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F26%2F76d37697e60db8f23be612209083e8d4-WhatsApp_Image_2026_01_26_at_16.40.42.jpeg)