Bos OJK Sebut WNI yang Dipulangkan dari Kamboja Scammer, Kapolri Dalami

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kapolri Jenderal Listyo Sigit menyebut pihaknya akan mendalami peran setiap korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang dipulangkan dari Kamboja.

Sigit menegaskan ini sekaligus merespons adanya pernyataan yang menyebut para WNI yang bekerja sebagai scammer di Kamboja bukanlah korban.

"Yang jelas semua yang kaitannya dengan korban-korban tindak pidana TPPO akan kita dalami apakah betul dia korban, tapi paling tidak dia masuk dengan menggunakan jaringan tertentu," kata Sigit di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Sebagai informasi, ribuan WNI kabur dari markas scammer Kamboja hingga Rabu (21/1/2026). Sebanyak 1.726 warga negara Indonesia (WNI) berhasil kabur dari markas penipuan online scam di Kamboja.

Baca juga: WNI Minta Dipulangkan, Pemerintah Diminta Pilah Mana Korban dan Pelaku Scammer di Kamboja

Lebih lanjut, Sigit mengatakan Polri juga akan memastikan setiap hal terkait para korban tersebut.

"Kemudian apakah dalam prosesnya itu memenuhi aturan atau tidak, nanti semua akan kita dalami," imbuh dia.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menegaskan WNI yang bekerja sebagai scammer di Kamboja bukanlah korban TPPO.

Mahendra menyebut, WNI yang bekerja di markas penipuan daring atau online scam adalah pelaku kriminal.

"Tadi yang dari Kamboja, kalau saya agak kurang sepakat sepenuhnya mereka dianggap sebagai korban dari perdagangan orang atau manusia. Mereka ini scammer, scammer. Jadi mereka ini kriminal," ujar Mahendra dalam rapat bersama Komisi XI DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Baca juga: Kala WNI Scammer di Kamboja Minta Perlindungan Negara untuk Pulang

Mahendra menjelaskan, bagaimanapun, WNI-WNI ini menjadi bagian dari operasi untuk melakukan scamming.

Dia pun menyayangkan WNI scammer yang malah terkesan disambut sebagai pahlawan dan korban ketika diselamatkan kembali ke Tanah Air.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Menurut Mahendra, jika pekerja migran tersebut ditipu, barulah mereka bisa disebut sebagai korban.

"Padahal mereka scammer. Jadi itu apakah dengan kesadaran atau tidak, buktinya ya itu. Ya, itu bagian dari operasi di sananya. Tapi apa yang mereka lakukan sebagai pekerjaan adalah itu," jelasnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pasca Longsor dan Banjir, Pariwisata di Pantai Pandan Tapanuli Tengah Mulai Bangkit
• 23 jam lalupantau.com
thumb
BREAKING NEWS! Innalillahi, Lucky Widja Vokalis Band Element Meninggal Dunia
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Sungai Cirarab Kini Menyempit, Andra Soni Ungkap Rencana Normalisasi
• 2 jam laludetik.com
thumb
Touring Tahunan Forwot Dikemas Diskusi Arah Industri Otomotif 2026
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Tak Hanya Bantu Korban Banjir, Garda Satu Peduli Kini Datangi Sekolah Terpencil di Sumbar
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.