Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 WIB, Sabtu (24/1/2026). Namun, bayi pasangan Sahra Suniarti (19) dan Muhammad Arief (19) masih terjaga. Namun, siapa sangka, justru karena Lintang Maulida, buah hati mereka yang tidak kunjung lelap itu, pasangan muda tersebut selamat dari bencana.
Sahra dan Arief adalah warga Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Mereka adalah bagian dari 666 pengungsi yang selamat dari tanah longsor di kaki Gunung Burangrang itu. Ada sedikitnya 12 kerabat Sahra dan Arief yang selamat dari bencana itu berkat Lintang yang masih terjaga.
Sahra mengenang, Sabtu dini hari itu menjadi momen yang panjang baginya dan suami. ”Ini, mah, alamat begadang sampai pagi, Pak. Baru pagi kita bisa tidur nyenyak,” kata Sahra menirukan percakapannya dengan suaminya.
Akan tetapi, harapan tidur nyenyak itu tidak datang. Sekitar pukul 03.00, Arief dan Sahra dikejutkan dengan bunyi seperti ledakan dan gemuruh. Asal suaranya dari puncak Gunung Burangrang.
Lebih kurang dari 15 menit kemudian, air perlahan mulai masuk rumah. Tidak butuh waktu lama, beberapa saat kemudian, tinggi air sudah mencapai 30 sentimeter (cm). Perlahan air mulai keruh bercampur lumpur.
”Pintu rumah sudah susah dibuka karena terhalang lumpur,” kata Arief.
Setelah berhasil keluar, Arief lantas memberi peringatan kepada kerabat lain yang tinggal di kanan dan kiri rumahnya. Semua diminta keluar karena lumpur datang semakin banyak. Saat itu, beberapa tembok rumah tetangga bahkan mulai runtuh.
Setelah berhasil keluar, Arief lantas memberi peringatan kepada kerabat lain, yang tinggal di kanan dan kiri rumahnya. Semua diminta keluar karena lumpur datang semakin banyak. Saat itu, beberapa tembok rumah tetangga bahkan mulai runtuh.
Akan tetapi, perjuangan Arief belum selesai. Ada Sahra dan Lintang yang harus dibawa keluar dari rumah. Dia lalu masuk kembali ke rumah mereka yang mau roboh.
Hanya saja, gara-gara lumpur yang datang semakin banyak, Lintang tak bisa langsung dibawa begitu saja. Sahra dan Arief akhirnya sepakat membawa Lintang secara estafet. Lintang dibawa bergantian melangkah keluar dari rumah ke tempat aman di GOR Desa Pasirlangu. Jarak kedua tempat itu sekitar 700 meter.
”Banyak orang bilang, kami yang menyelamatkan Lintang. Tapi, justru sebaliknya. Bila dia tidur, kami juga pasti akan tidur dan sekeluarga bakal telat menyelamatkan diri,” ujar Sahra.
Kini, Lintang bersama bapak-ibu dan kerabat-kerabatnya tinggal sementara di lokasi pengungsian GOR Desa Pasirlangu.
Setelah rumah rata dengan tanah, mereka tidur beralaskan matras bersama 666 pengungsi lainnya.
Tidak ada lagi rumah hangat, semua berganti lantai dan dinding dingin. Namun, setidaknya ada nyawa-nyawa yang terselamatkan.
Akan tetapi, tidak semua warga yang selamat karena kebetulan. Rencana mitigasi yang panjang juga ikut menyelamatkan pasangan suami-istri, Ipan Sopian (28) dan Devi Yustia (20). Keduanya juga warga Pasir Kuda.
“Bekal melihat mitigasi bencana ternyata berguna di bencana kali ini,” kata Ipan.
Berusaha mengingat lagi saat longsor datang, Ipan mengatakan, tidak menunggu lama untuk beranjak dari rumah saat mendengar bunyi gemuruh dari puncak Burangrang.
Tangannya cepat mengambil pakaian dan dokumen penting yang sudah disiapkan dalam kantong-kantong kecil anti air. Dia mengira ada gempa. Rumahnya memang berada di dekat Patahan Lembang.
“Sejak setengah tahun lalu, saya dan istri sudah memisahkan baju dan dokumen penting dalam kantong penyimpanan. Jaga-jaga kalau ada gempa. Saya dapat ilmu segera tinggalkan rumah dan pisahkan barang-barang penting untuk siapkan diri menghadapi bencana ini dari media sosial,” katanya.
Meski yang datang kali ini bukan gempa tapi longsor, hasilnya akhirnya tetap sama-sama menyelamatkan. Selain nyawa, banyak baju tidak rusak akibat longsor. Surat rumah dan logam mulia juga tidak hilang.
“Alhamdulilah, banyak barang penting bisa diselamatkan,” ujar Devi saat memperlihatkan kantong-kantong kecil berisi pakaian yang berlumuran lumpur.
“Cuma, rumah saya tidak selamat. Itu sudah hancur, tinggal sisa atap bambu,” kata Devi menunjukan dari kejauhan tumpukan bambu yang sebagian tertutup lumpur.
Ditanya tentang hidup ke depan, baik Arief atau Ipan belum tahu bakal seperti apa. Harta benda hilang. Mata pencaharian pun musnah.
Ipan mengatakan, selain rumah, kebun brokoli seluas 80 meter persegi sudah hilang akibat longsor. Dua motornya terendam lumpur. Dia dan Devy kini tinggal menumpang di kerabatnya.
“Padahal, brokoli saya seminggu lagi mau panen. Belum tahu mau bekerja apa lagi sekarang,” katanya.
Arief juga sama-sama bingung dengan nasib keluarganya ke depan. Kebun bunga aster miliknya hancur. Dua motornya terendam lumpur. Tidak ada lagi yang tersisa.
“Kemungkinan mau merantau dulu ke kota (Bandung). Mau cari pekerjaan jadi tukang bangunan setelah trauma kejadian ini usai,” katanya.
Seusai bencana, keselamatan yang diperoleh para korban karena kebetulan maupun persiapan boleh jadi sama-sama menghadirkan syukur di hati mereka. Namun, perjuangan belum berakhir bagi mereka. Selain menantikan kabar kerabat yang hilang, warga juga berharap masih ada uluran tangan bagi mereka untuk merajut masa depan.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483285/original/058893000_1769356791-Screenshot_20260125_221700_Instagram.jpg)

