Buku “Swipe Therapy” angkat refleksi cinta dan era aplikasi kencan

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Google Marketing Executive Mira Sumanti merilis buku perdananya berjudul "Swipe Therapy" yang mengangkat refleksi personal tentang relasi, patah hati, dan proses mengenal diri kala dinamika kehidupan modern dan budaya aplikasi kencan.

Sebagaimana rilis pers yang diterima, Senin, buku tersebut merangkum fase rapuh yang pernah dialami Mira, mulai dari rencana pernikahan yang batal hingga kembali menavigasi dunia aplikasi kencan.

"Ketika semuanya runtuh, aku tidak langsung merasa sedih. Aku merasa kosong. Dan itu justru yang paling menakutkan," kata Mira.

Swipe Therapy kerap disebut sebagai Eat Pray Love versi generasi Tinder. Namun alih-alih menawarkan pelarian romantis atau transformasi instan, buku ini menghadirkan refleksi tentang kehilangan, kelelahan emosional, serta kekosongan yang muncul setelah hubungan berakhir.

Dalam buku tersebut, aplikasi kencan tidak diposisikan sebagai solusi maupun sumber masalah. Platform digital itu digambarkan sebagai ruang eksperimen emosional untuk mengamati ulang pola relasi, ekspektasi, luka masa lalu, serta keyakinan yang dibawa ke dalam hubungan.

"Aku menyebutnya Swipe Therapy, setengah bercanda. Tapi semakin lama, aku sadar ini bukan tentang mencari ‘The One’. Ini tentang melihat diriku sendiri, swipe demi swipe,” Ungkap Mira.

Baca juga: Psikolog: Kesepian berdampak langsung pada kesehatan mental dan otak

Melalui rangkaian pertemuan dengan berbagai sosok, Mira mengajak pembaca menyusuri pengalaman yang membentuk pemahaman baru tentang batasan, keinginan, dan identitas diri.

Setiap pertemuan ditulis bukan sebagai kisah cinta, melainkan sebagai potongan pengalaman yang memberi pelajaran berbeda.

Latar cerita dalam Swipe Therapy bergerak lintas kota dan budaya, mulai dari Jakarta, Bali, San Francisco, hingga kehidupan malam Tokyo.

Perpindahan ruang tersebut menangkap dinamika cinta modern di lingkungan urban yang lekat dengan kehidupan generasi masa kini.

Buku ini menyasar pembaca perempuan urban yang mandiri dan ambisius, terbiasa berpikir rasional, namun tetap menghadapi kerentanan dalam urusan personal.

Alih-alih mengglorifikasi proses pemulihan diri, Swipe Therapy justru menyoroti ketidakteraturan dan fase abu-abu dalam proses tersebut.

Buki Swipe Therapy mencoba merefleksikan dualitas budaya, upaya membangun ulang identitas, serta keberanian memulai kembali kehidupan dari awal setelah kegagalan relasi.

"Tidak semua yang berakhir berarti gagal. Kadang, sesuatu berakhir karena memang tugasnya sudah selesai," pungkas Mira.

Pra pemesanan buku "Swipe Therapy" telah dibuka dan peluncuran resmi buku tersebut dijadwalkan pada 3 Maret 2026 secara global dan akan tersedia melalui Amazon, Barnes & Noble, serta sejumlah toko buku daring internasional. Di Indonesia, buku tersebut dapat diperoleh melalui Tokopedia.

Baca juga: Waspadai kelelahan mental akibat paparan arus informasi

Baca juga: Tindakan yang perlu dilakukan orang tua saat mengetahui anak dirundung


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hujan Deras Picu Banjir di Perumahan Subsidi Bekasi, Warga Kembali Mengungsi & Keluhkan Penanganan
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Sinopsis Drama China Reborn, Duet Maut Zhang Jingyi dan Zhou Yiran Menguak Misteri Kematian Sang Kakak
• 16 jam lalugrid.id
thumb
WANSUS Dino Patti Djalal: Kritik Saya ke Menlu Sugiono is Nothing Personal
• 17 jam laluidntimes.com
thumb
Ex-PSG Mendarat! Layvin Kurzawa Resmi Jadi Amunisi Persib
• 12 jam lalumedcom.id
thumb
Gen Z dan Millenials Kerap Alami Burnout hingga Krisis Makna? Ketika Kemajuan Zaman Menguji Ketahanan Mental dan Spiritual
• 23 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.