Jakarta, VIVA – Gates Foundation, yayasan filantropi milik Bill Gates, bersiap memasuki fase akhir operasionalnya. Lembaga amal terbesar di dunia ini mengumumkan akan menghabiskan dana hingga US$9 miliar atau sekitar Rp150,3 triliun pada 2026, sekaligus memangkas ratusan pegawai dalam lima tahun ke depan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi “sunsetting”, seiring rencana penutupan permanen Gates Foundation pada 31 Desember 2045. Alih-alih mempertahankan operasional jangka panjang, yayasan memilih mempercepat penyaluran dana ke sektor-sektor krusial seperti kesehatan global, pengentasan kemiskinan, dan pendidikan, di tengah meningkatnya tekanan krisis dunia.
Melansir dari Fortune, Senin, 26 Januari 2026, Dewan pengurus Gates Foundation menyetujui anggaran US$9 miliar atau ekitar Rp150,3 triliun, yang merupakan anggaran terbesar sepanjang 25 tahun sejarah yayasan.
Keputusan ini diambil kurang dari setahun setelah Bill Gates menyatakan komitmennya untuk menutup yayasan dan menghabiskan hampir US$200 miliar atau setara Rp3.340 triliun dalam dua dekade ke depan.
- WIRED
Sejak didirikan, Gates Foundation telah menyalurkan lebih dari US$100 miliar atau sekitar Rp1.670 triliun, menjadikannya salah satu pendonor terbesar dunia di bidang vaksin, pemberantasan penyakit menular, serta pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat.
Untuk mengejar target penutupan 2045 sekaligus meningkatkan dana hibah, Gates Foundation berencana memangkas hingga 500 dari sekitar 2.375 pegawai paling lambat pada 2030. Pengurangan ini setara hampir 20 persen tenaga kerja, dan akan dilakukan secara bertahap melalui kombinasi pengunduran diri alami dan pemutusan hubungan kerja.
Selain itu, yayasan menetapkan batas biaya operasional maksimal US$1,25 miliar atau sekitar Rp20,9 triliun per tahun, setara sekitar 14 persen dari total anggaran, yang mencakup gaji, infrastruktur, fasilitas, serta perjalanan dinas.
CEO Gates Foundation Mark Suzman menegaskan langkah efisiensi ini dilakukan agar lebih banyak dana bisa langsung dialokasikan ke program-program prioritas. “Kemajuan tetap mungkin dicapai, tetapi kondisinya rapuh. Kami harus mengelola sumber daya yang terbatas dengan disiplin dan transparansi,” ujar Suzman.
Keputusan Gates Foundation untuk menghabiskan dana hingga habis menempatkannya dalam kelompok filantropi time-limited, sebuah pendekatan yang kian populer di kalangan miliarder modern. Model ini menolak gagasan penumpukan dana abadi dan memilih dampak besar dalam waktu lebih singkat.




