DALAM dunia meteorologi modern, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tidak lagi hanya bergantung pada Natrium Klorida (NaCl) atau garam dapur untuk memicu hujan. Memasuki tahun 2026, penggunaan Kalsium Oksida (CaO) atau yang dikenal sebagai kapur tohor, semakin intensif digunakan, terutama untuk strategi cloud busting (pemecah awan) atau mitigasi curah hujan ekstrem di wilayah padat penduduk seperti Jakarta dan penyangga ibu kota.
Berbeda dengan garam yang bersifat higroskopis (menyerap air), CaO bekerja dengan prinsip eksotermik. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif bagaimana mekanisme ini bekerja dan apa dampaknya bagi ekosistem alam serta kesehatan manusia dalam jangka panjang.
Mekanisme Kerja: Mengapa Kalsium Oksida?Sebelum memahami dampaknya, kita harus memahami reaksi kimianya. Ketika Kalsium Oksida (CaO) ditaburkan ke dalam awan, ia bereaksi dengan uap air ($H_2O$) membentuk Kalsium Hidroksida ($Ca(OH)_2$) dan melepaskan panas dalam jumlah besar.
Baca juga : DPRD : Penanganan Banjir Jakarta Harus Berbasis Kecamatan dan Kelurahan
$CaO + H_2O \rightarrow Ca(OH)_2 + \text{Panas (Kalor)}$
Pelepasan panas ini bertujuan untuk:
- Memecah Awan (Cloud Busting): Panas yang dihasilkan menguapkan butiran air, sehingga awan gagal berkondensasi menjadi hujan lebat di lokasi target.
- Membuka Lapisan Inversi: Dalam kasus polusi udara, panas ini dapat menembus lapisan inversi suhu yang menjebak polutan, memungkinkan asap atau smog terdispersi ke atas atmosfer.
Residu dari reaksi CaO adalah Kalsium Hidroksida, yang bersifat basa (alkali). Meskipun dalam operasi modifikasi cuaca konsentrasinya sangat tersebar (dispersi luas di atmosfer), akumulasi jangka panjang di area yang sering menjadi target penyemaian perlu diperhatikan.
- Dampak Positif: Pada tanah gambut atau tanah yang terlalu asam, jatuhan residu ini justru bisa membantu menetralkan keasaman tanah (mirip proses pengapuran pertanian).
- Dampak Negatif: Jika jatuh ke badan air tawar yang sensitif dalam jumlah besar, lonjakan pH mendadak dapat mengganggu biota air mikroskopis, meskipun risiko ini tergolong rendah jika dosis penyemaian sesuai standar (biasanya 800 kg - 1 ton per sorti penerbangan).
Penggunaan CaO seringkali bertujuan untuk "menjatuhkan hujan lebih awal" atau "membuyarkan awan". Dampak ekologisnya adalah redistribusi air.
Baca juga : Hari Pertama Modifikasi Cuaca, 2,4 ton Garam Disemai Atasi Cuaca Ekstrem
- Wilayah target (misal: Jakarta) terhindar dari banjir.
- Wilayah penyangga atau area hulu mungkin mengalami curah hujan yang lebih tinggi dari normalnya, atau sebaliknya, mengalami kekeringan karena awan "dimatikan" sebelum waktunya. Ini dapat mengubah siklus hidrologi lokal.
Dampak langsung yang paling signifikan bagi manusia adalah keselamatan. Dengan menggunakan CaO untuk mencegah hujan ekstrem:
- Risiko banjir bandang berkurang drastis.
- Proses evakuasi bencana (seperti longsor) dapat berjalan lancar tanpa gangguan cuaca, seperti yang diterapkan pada operasi kemanusiaan di Jawa Barat.
Kapur tohor dalam bentuk murni adalah bahan iritan kuat (korosif). Namun, risiko ini terutama berlaku bagi kru darat dan personel penerbangan yang menangani bahan semai.
- Kontak Kulit/Mata: Dapat menyebabkan luka bakar kimiawi jika tidak menggunakan APD lengkap.
- Inhalasi: Debu CaO dapat mengiritasi saluran pernapasan.
Bagi masyarakat umum di bawah, risiko ini sangat minim karena bahan telah bereaksi menjadi $Ca(OH)_2$ dan bercampur dengan air hujan dalam konsentrasi yang sangat encer sebelum mencapai tanah.
3. Kualitas UdaraPenggunaan CaO untuk memecah polusi udara memberikan dampak kesehatan positif jangka pendek dengan mengurangi konsentrasi PM2.5 di level permukaan, sehingga menurunkan risiko penyakit pernapasan akut (ISPA) di kota-kota besar.
Tabel Perbandingan Bahan Semai: CaO vs NaClBerikut adalah perbandingan karakteristik antara Kalsium Oksida (Kapur Tohor) dan Natrium Klorida (Garam) dalam konteks modifikasi cuaca tahun 2026.
Parameter Kalsium Oksida (CaO) Natrium Klorida (NaCl) Sifat Utama Eksotermik (Melepas Panas) Higroskopis (Menyerap Air) Fungsi Utama Memecah awan / Mengurangi curah hujan / Mengurai polusi Mempercepat kondensasi / Menambah curah hujan (Hujan Buatan) Residu Lingkungan Kalsium Hidroksida (Basa) Air Garam (Salinitas) Risiko Korosif Korosif pada jaringan hidup (saat kering) Korosif pada logam (pesawat/bangunan) KesimpulanModifikasi cuaca dengan Kalsium Oksida (CaO) merupakan intervensi teknologi yang krusial di tahun 2026 untuk menghadapi anomali iklim. Dampaknya terhadap alam relatif dapat dikendalikan selama dosis penyemaian terukur, dengan keuntungan utama berupa mitigasi bencana banjir yang menyelamatkan nyawa dan harta benda.
Meskipun demikian, pemantauan terhadap tingkat keasaman (pH) air hujan dan tanah di wilayah target operasi harus terus dilakukan untuk memastikan tidak ada efek akumulatif yang merusak keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang.
(Cah/P-3)





